Deprecated: Creation of dynamic property OMAPI_Elementor_Widget::$base is deprecated in /home2/milikkit/public_html/wp-content/plugins/optinmonster/OMAPI/Elementor/Widget.php on line 41

Menuju Santripreuneuer Ekonomi yang Bersyariah

Loading

*oleh: Mizaiturrahmi, SH, alumnus STIS Ummul Ayman, saat ini mengabdi di Dayah Ummul Ayman Samalanga

Agama beuteudong, Usaha beu teuglong. Ekonomi bek kosong, Rakyat beu carong!

KATA mutiara dalam Bahasa Aceh di atas bisa kita terjemahkan ‘jika ingin agama tetap berdiri kokoh maka usaha jangan sampai berhenti dan jika ingin ekonomi lancar maka rakyat harus pintar’. Dalam dunia perekonomian tentu tidak asing lagi dengan istilah fluktuasi (periode pertumbuhan atau ekspansi) dan resesi (periode penurunan atau pelemahan). Hal ini diakibatkan oleh salahnya metode penerapan perekonomian serta keserakahan para entrepreneurnya, lantas bagaimana solusinya? ‘Ekonomi Syariahlah’ jawabannya.

Bukanlah bulshit (omong kosong) jika ekonomi syariah dengan big powernya mampu bertahan dalam kondisi krisis ekonomi. Pada tahun 2008 ketika terjadinya krisis global, banyak intitusi keuangan anjlok (tumbang) bahkan intitusi sebesar Lehman Brothers tidak selamat padahal jika milihat usianya sudah lebih dari 100 tahun berdiri. Kendati demikian Ekonomi Syariah tetap bertahan dan tumbuh di tengah terpaan krisis. Selanjutnya pada masa Covid-19 dengan fenomena krisis ekonomi yang mendunia, tetapi Indonesia mampu bertahan dengan latar belakang Ekonomi Syariah.

Berdasarkan data, pada Juli 2020 aset keuangan syariah tumbuh hingga 20,61 %. Walau jumlahnya sedikit, tetapi Ekonomi Syariah membuktikan esensitasnya yang membuat pemerintah berinisiatif meningkatkan Ekonomi Syariat dan bahkan sekarang hampir seluruh intitusi keuangan di Indonesia berlabelkan syariah. Jauh sebelum masyarakat milenial mengenal Ekonomi Syariah baik negara muslim atau non-muslim, Rasulullah Saw telah menjadi Entrepreneuer sukses yang memperkenalkan umat Islam bagaimana aplikasi ekonomi yang bijak dan benar. Hal itu terbukti dengan penerapan dan pembelajaran yang tidak hanya dilakukan oleh umat Islam sendiri melainkan sangat banyak non-muslim yang mempelajari bahkan memasukkan sistem Ekonomi Syariah ke dalam daftar pembelajaran.

Indonesia merupakan negara dengan presentase muslim terbanyak sehingga tidak heran banyaknya pesantren (tempat pendidikan Islam) menghasilkan berjuta santri yang berjuang menegakkan syariat Islam terutama dalam bidang ekonomi. Ekonomi diyakini menjadi hal terpenting yang dapat menyejahterakan hidup sehingga lirikan para santri yang telah dibekali ilmu pengetahuan sangatlah penting.

Allah Yang Maha Tinggi berfirman yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan jangan juga kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (Q.S Al-Anfal: 27)

Kisaran tahun 90-an nama untuk para santri khususnya Aceh dikenal dengan aneuk dagang (pedagang) dalam artian mereka mencari ilmu yang cukup kemudian pulang kampung dengan mengambil alih profesi dagang sehingga banyak dari santri yang tamat belajar kitab mu’amalah/buyu’ (transaksi/jual beli) mereka berkelana ke luar untuk menjadi santripreneuer. Kondisi ini bukanlah tanpa dasar melainkan meniru salah satu profesi yang sangat mulia dan membekas bagi umat muslim yaitu profesinya Baginda Rasulullah Saw.

Sebagai agent of change, seorang santri harus memiliki ilmu dan wawasan yang memadai sebelum terjun ke dunia bisnis (ekonomi syariah). diyakini mampu menerapkan ekonomi syariah secara sempurna tidak sedikit para entrepreneuer berasal dari seorang santri, bahkan politisi hingga teknorat berasal dari pesantren. Sebagai contohnya adalah Perdana Menteri pertama diduduki oleh Gus Dur, Idham Khaliq bahkan Cambrige University memberikan penghargaan kepada pesantren, di antaranya KH Imam Zarkasyi (Pimpinan Pondok Pesantren Gontor) yang mendapatkan sertifikat ‘Leadership Achievement’ atas jasa pembangunan masyarakat.

Contoh di atas hanya sebagian kecil orang-orang hebat yang berasal dari pesantren. Jika ingin disebutkan mungkin masih banyak lembaran yang dibutuhkan. Berbicara tentang ekonomi syariah, pembahasannya tidak mandek hanya pada uang ataupun bank. Namun, juga tertuju kepada makanan-makanan yang masih diperjualbelikan tanpa label halal dan tidak melalui prosedur kehalalan. Tentu hal ini yang segera harus di atasi oleh para santri termasuk produk boikot yang sudah ditetapkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) keharamannya.

Adapun untuk menuju ekonomi syariah langkah yang harus diambil oleh santri adalah sebagai berikut:

Pertama: Pengetahuan. Menjadi santri bukan hanya menetap di pondok, akan tetapi juga dibekali oleh ilmu-ilmu syariat yang berasal dari Alquran, Alhadits, Ijmak dan Qiyas. Pengetahuan yang memadai akan menentukan usahanya berumur panjang atau pendek. Karena sebelum mencerdaskan bangsa, harus mencerdaskan diri sendiri terlebih dahulu

Kedua: Percarya Diri atau Self Image. Self Image dipercaya dapat mengubah dan menentukan nasib selanjutmya.  Self Image juga merupakan kunci kepribadian dan perilaku manusia sebagaimana yang dikatakan oleh Maxwell Maltz dalam bukunya, “Ketika seseorang yakin akan satu hal dan konsisten berubah atau merubah maka dalam ilmu psikologi hanya butuh 21 hari untuk ia berhasil”. Maxwell Maltz juga mengatakan, “Waktu akan berubah lebih baik ketika Anda berubah.” Maka percayakan sepenuhnya kepada potensi yang Anda dimiliki untuk menghasilkan yang terbaik.

Ketiga: Kecerdasan Finansial. Setiap sekolah pasti mengajarkan bagaimana caranya kaya, mencari nafkah dan berbisnis hingga ia menjadi seoarang entrepreneuer sukses. Akan tetapi lupa mangajarkan bagaimana cara ia menjaga kekayaannya ataupun jabatannya hingga bertahan lama. Akibatnya, kecerdasan finansial setiap orang rendah. Sebagai salah satu buktinya ada pada negara Amerika, sebagai negara yang maju di bidang ekonomi dan keuangan ternyata orang kaya di Amerika hanya 1% saja. Masih di negara Amerika, para pemenang lotere sekitar 90 %  (250.000 $ atau 4 milyar) akan jatuh miskin 3 tahun setelah memenangkan lotere. Sekarang kita beralih ke Indonesia, berdasarkan penelitian majalah Swa 80 % professional berpenghasilan besar seperti, pengacara, direktur, dokter akan jatuh miskin di masa tua. Dan penyebab itu semua adalah tidak adanya kecerdasan finansial yang dapat menyeimbangkan pertahanan kesuksesan.

Jika kita lihat kurikulum dan penerapan pesantren, para guru tidak hanya membekali mereka dengan ilmu, tetapi secara tidak langsung mereka mengajarkan dan membangun kecerdasan finansial peserta didik mulai dari akhlak, kedisiplinan, mandiri, sabar, manajemen keuangan, tidak boros, ikhlas dan selalu bersyukur. Poin-poin ini mungkin susah didapatkan secara instan oleh peserta didik di sekolah-sekolah umum dengan pengawasan atau jam belajar yang terbatas.

Keempat: Akhlak dan Moralitas. Pada dasarnya anak itu dilahirkan dengan kesucian dan kebaikan, tapi orang tua dan lingkungannya yang membara virus-virus kerusakan. Bersyukur kita terlahir dari orang tua yang bergama Islam dan berlingkungan dengan lingkungan yang islami serta berkesempatan meneguk ilmu di pesantren yang notabene-nya adalah memang tempat yang diperuntukkan untuk belajar agama dengan fokus.

Dalam hal ini, Rasulullah Saw bersabda,

Dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘anhu berkata, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah (suci). Kemudian kedua orangtuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya?” (HR. Bukhari, No. 1296, Kitāb: Jenazah, Bāb: Pembicaraan Tentang Keberadaan Mayit dari Anak-Anak Kaum Musyrikin).

Ketika seorang santri terjun ke dunia bisnis maka tidak cukup berbekal pengetahuan saja, tetapi dibutuhkan akhlak terpuji sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah Saw dalam perdagangannya yaitu dengan bersifat jujur, amanah dan menepati janji

Kelima: Inovasi dan Kreativitas. Hidup dalam Revolusi Industri 5.0 dengan perkembangan teknologi yang sangat signifikan seharusnya menjadi objek bagi santri dalam mengepakkan sayapnya menyebarkan ekonomi berbasis syariah. Dengan demikian sarana mengembangkan Ekonomi Syariah tidak hanya tersebar di satu tempat melainkan bisa mendunia. Walau gaya santri terkesan identik dan mereka hidup dibalik gerbang pesantren, akan tetapi tidak dapat membuat pikiran mereka primitif. Wawasan dan gaya berpikir yang telah dilatih pesantren dapat dimanfaatkan oleh seorang santri dalam menyeimbangkan antara dunia dan akhiratnya. []

 

Agribisnis Budidaya Ikan Air Tawar; Santripreneuer Syariah

Loading

Oleh: Hadiyan Zikri, mahasiswa semester V Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Ummul Ayman, sekaligus mahasantri Dayah Mahasiswa Ummul Ayman III, Meurah Dua, Pidie Jaya

Saat ini, saya berdomisili di dalam kompleks Dayah Mahasiswa Ummul Ayman III, Meurah Dua, Pidie. Ajibnya, selain mengajari anak didik dengan ilmu agama, dayah (pesantren) ini juga membekali kami dengan dunia kewirausahaan. Pesantren di bawah asuhan Tgk H. Nuruzzahri (Waled Nu Samalanga) ini selalu sigap dengan perkembangan peserta didik. “Asai ta tem nah dumpue jeut teuh (Asalkan ada kemauan, apapun akan bisa.” Ungkapan Waled di atas selalu terngiang di telinga kami.

Pesantren, atau di Aceh lebih familiar disebut dengan ‘dayah’, sebagai sebagai Lembaga Pendidikan agama Islam di Indonesia, khususnya di Aceh merupakan wadah penampung bagi para santri dalam membentuk akhlak dan kecerdasan intelektual di bidang agama. Namun, selain fokus dalam memberikan pemahaman kitab-kitab turats, dayah juga berpotensi besar untuk mengembangkan kemandirian ekonomi para santri dengan mendukung setiap wirausaha yang ditapakinya.

Banyaknya cerita tentang para santri yang mogok mondok , dengan alasan tidak terjaminnya finansial yang mereka dapatkan di masa yang akan datang bila hanya dibekali pemahaman kitab kuning saja. Perkara ini sempat membuat para guru dayah dan orang tua khawatir dengan iming-iming para santri yang mengharapkan kesuksesan dunia-akhirat bagi masa depan mereka.

Ternyata kehawatiran para guru dan orang tua tidak terbukti. Faktanya para santri enjoy di dayah dengan wirausaha mereka masing-masing, di Ummul Ayman III ini, misalnya. Bahkan terkadang para sanntri tidak sabar untuk balik mondok jika libur tiba. Hal ini mereka rasakan karena di dayah mereka tidak hanya belajar kitab kuning saja. Namun, mereka juga belajar mengembangkan wirausaha sendiri dengan memanfaatkan segala keterampilan dan peluang yang dimiliki.

Potensi untuk pengembangan bagi santri sangatlah besar, terutama bagi santri yang sudah dibekali ilmu agama dengan matang. Hal ini didasarkan lingkungan dayah yang menyuntikkan akan nilai-nilai keagamaan, akhlakul karimah, kultural serta sosial ke dalam jiwa-jiwa para santri yang mondok di dayah dengan penuh rasa sabar.

Para santri dapat memanfaatkan keterampilan praktis yang mereka miliki untuk mengembangkan wirausaha mikro seperti menjual kerajinan tangan, menjual kuliner atau mengadakan berbagai jasa keilmuan. Selain itu, santri yang sudah mapan dengan ilmu agama yang mereka miliki bisa mempraktekkan serta memeanfaatkan keilmuan mereka untuk membangun relasi jaringan bisnis dengan dunia luar seperti, aqad qiradh, mudharabah, muzaraah, dan aqad-aqad lain yang berbasis ekonomi syariah.

Meskipun santri memiliki potensi yang cukup besar untuk membangun relasi jaringan bisnis wirausaha dengan dunia luar, ini tidak akan menutup kemungkinan akan timbulnya berbagai macam tantangan dan hambatan bagi mereka dalam menapaki dunia entrepreneur. Di antaranya adalah keterbatasan pengetahuan tentang managemen bisnis kewirausahaan, serta kurangnya akses modal dan sumber daya yang dibutuhkan untuk memulai sejarah mereka menuju bisnis ekonomi Syariah.

KH. Muhib Abdul Wahab selaku wakil ketua umum IMLA Indonesia juga pernah menyampaikan bahwa, tantangan pertama yang akan dihadapi oleh santripreneuer dalam memulai bisnis ialah adaptasi mental spiritual dan dan intelektual ketika berhadapan langsung dengan dunia bisnis yang akan terus berubah dengan sangat pesat dan cepat. Oleh karena demikian, jika para santri tidak dibekali literasi digital yang cukup memadai besar kemungkinan para santri akan mudah tereliminasi dari dunia bisnis yang seiring berjalanya zaman kian maju pesat dengan perkembangan teknologi. [Kompasiana].

Tentunya masih banyak lagi faktor-faktor yang menjadi hambatan bagi para santri untuk berkecimpung dalam dalam dunia wirausaha dan bisnis syari’ah dunia luar. Ditambah lagi notbane sanri yang alih alih memiliki stigma negative dalam dunia bisnis yang bahwa, wirausaha dunia luar tidak sesuai dengan Pendidikan Agama yang selalu diselami para santri. Padahal pada hakikatnya agama Islam itu bukan hanya sekadar membahas tentang ibadah dan tauhid saja, namun pada dasarrnya Islam itu sangatlah luas.

Dalam Islam juga sangat prihatin dengan dengan dunia bisnis perekonomian, baik itu berupa relasi kerjasama antar pebisnis ataupun berupa penanaman saham. Buktinya, semua ketentuaan-ketentuan dalam beraqad (berbisnis) sudah tertata rapi dalam kitab Islam, dimulai dari hukum pelaksanaanya sampai dengan tatacara pelaksanaan bisnis tersebut, semuanya sudah terbuku dalam kitab kuning.

Begitu mendengar tentang berdirinya dayah terpadu dikombinasi dengan kewirausahaan di Indonesia khususnya di Aceh. Saya mulai merasa yakin bahwa ini akan menjadi awal baik sebagai titik balik bagi permasalahan dunia wirausaha santripreneuer. Walau mungkin dalam perjalanan pendidikan terpadu ini, para santri tidak akan mendapatkan selaman ilmu keagaman yang mendalam. Namun, dengan adanya upaya edukasi serta sosialisasi kewirausahaan di sekolah, tidak dapat dipungkiri bahwa tantangan yang menghadang para santripreneuer dalam menjalankan ide wirausaha mereka bisa teratasi dengan mudah.

Bagi setiap para santripreneuer sangat memerlukan peningkatan terhadap pengetahuan dan keterampilan kewirausahaan melalui pelatihan dan pendampingan. Dalam hal ini, upaya membangun kerjasama dengan lembaga keuangan dan pemerintah juga diperlukan untuk memfasilitasi akses modal dan sumber daya usaha.

Seperti halnya di Dayah Mahasiswa Ummul Ayman III dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Agribisnis di bidang Budidaya Pengolahan Hasil Perikanan dan Kejuruan Agribisnis di Bidang Tatabusana. Dua elemen pendidikan yang bernotebane berbeda tersebut dipadukan langsung oleh Syaikhuna Waled. Inisiatif Waled memadukan pendidikan dunia dan akhirat tersebut hanya supaya para santri bisa dengan mudah membangun wirausaha mereka masing-masing dengan peluang yang sudah terbuka lebar.

Agribisnis Budidaya Perikanan dan pengolahan hasil perikanan berjalan lancar di dunia wirausaha. setiap harinya para santri disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang membangun pengembangan bisnis mereka. Para santri ada yang mengembankan bisnis dengan cara kerjasama kelompok, individual, bahkan ada yang langsung terjun dengan aqad qirad dalam dunia bisnis. Agribisnis perikanan air tawar merupakan wirausaha yang mudah dilakukan oleh para santripreneuer. Faktanya Para santri yang pemula dalam Dunia preneuerpun mampu menjalankannya. Khususnya santri Dayah Mahasiswa Ummul Ayman III yang memiliki ilmu pengetahuan di bidang perikanan air tawar sekaligus fasilitas lengkap yang tersedia.

Untuk saat ini ada beberapa jenis perikanan air tawar yang dibudidayakan, antaranya yaitu: ikan nila, ikan gabus, ikan lele, sidat, ikan mas, ikan koi dan beragam ikan hias lainnya. Budidaya ikan air tawar merupakan salah satu wirausaha yang terjamin keuntungannya di dunia bisnis perikanan. Dengan populasi manusia yang terus bertambah, pemasaran akan ikan sebagai sumber bahan pangan pun kian meningkat. Hal ini Tentunya telah membuka peluang bisnis yang menarik di bidang budidaya ikan air tawar.

“Dari sekian banyaknya jenis perikanan air tawar yang bisa dibudidayakan oleh santripreneuer, ikan mas adalah salah satu ikan yang menjanjikan keuntungan di bidang perikanan, karena ia memiliki pertumbuhan yang cepat serta memiliki permintaan yang tinggi di pasaran,” ungkap salah seorang santripreneuer yang masih duduk di bangku SMK dayah dimaksud.

Namun, tentunya untuk menuju kesuksesan dalam budidaya ikan mas, diperlukan ilmu pengetahuan serta keterampilan yang mumpuni mengenai teknik budidaya, manajemen kolam, pakan ikan, serta strategi pemasaran. Berikut kita akan menyelami dunia budidaya perikanan air tawar ikan mas dalam wirausaha. Dimulai dari tahapan persiapan sampai dengan tahap pengolahan hasil budidaya dan pemasaran.

Untuk tahap pertama yang perlu dipersiapkan yaitu pemilihan lokasi dan design kolam. Pemilihan lokasi yang tepat sangat penting dalam budidaya ikan mas. Pastikan lokasi memiliki akses air yang cukup, serta mudah dijangkau seperti kolam tanah di tempat yang kedap air. Selain itu, desain kolam juga perlu diperhatikan untuk menjamin keamanan kondisi lingkungan kolam dari hama dan penyakit. Dalam hal ini perlu diperhatikan lagi kualitas air yang akan digunakan dalam budidaya ikan mas karena kualitas pH air, suhu, dan ketersediaan oksigen akan mempengaruhi pertumbuhan ikan tersebut.

Tahap selanjutnya yakni pemeliharaan. Dalam ‘pemeliharaan’, kita perlu memperhatikan dua poin penting yaitu, pemberian pakan dan perlindungan hama serta penyakit yang akan mempengaruhi proses pertumbuhan ikan. Dalam manajemen pakan kita perlu memahami pakan jenis apa saja yang bisa memicu pertumbuhan ikan dengan cepat serta dapat menjaga kesehatannya. Kita juga harus bisa mengendalikan hama dan penyakit dengan cara melakukan pencegahan yang tepat.

Tahap terakhir yang harus bisa kita pahami dan kendalikan ialah tahap pengolahan dan pemasaran. Pada umumnya, ikan yang sudah siap panen sudah bisa langsung kita pasarkan. Namun, untuk meraup keuntungan yang lebih besar sebelum kita memasuki tahap pemasaran kita bisa mengolah hasil panen budidaya ikan tersebut menjadi bahan pangan kering seperti halnya pengolahan hasil panen oleh santripreneuer di Dayah Mahasiswa Ummul Ayman III. Mereka mengisi tahap pengolahan ini dengan pembuatan abon ikan, kerupuk ikan, nuget ikan, bakso ikan, ikan asin, ikan sale, yang tentunya akan mendapatkan nilai laba yang lebih tinggi dan menggiurkan.

Dalam tahapan pemasaran perlu kita selami ilmu perdagangan yaitu dengan cara membangun jaringan pemasaran yang luas. Para santripreneuer bisa memulai jaringan pemasaran dengan menjalin hubungan kerjasama sesama dayah, sehingga ketika tahap pemanenan, para santripreneuer bisa langsung memasarkan hasil budidaya ke dayah-dayah tersebut. Para santripreneuer juga harus bisa memanfaatkan platform online untuk memperluas jangkauan pemasaran.

Peluang wirausaha tentunya bukan melulu menyentuh soal akses modal dan sumber daya usaha. Hasil yang diharapkan dari peluang wirausaha juga bukan hanya sekadar keuntungan materi saja. Namun lebih dari itu, peluang wirausaha mampu menyentuh sisi karakter dan jiwa santripreneuer untuk berkontribusi dalam memajukan Ekonomi Syariah.

Akhirul kalam, untuk menuju kesuksesan dalam enterpreuneuer, kususnya dalam men-syariahkan perekonomian, tidak cukup dengan pembekalan ilmu pengetahuan dan keterampilan praktis saja. Namun sudah seyogyanya bagi setiap para santripreneuer untuk membekali diri juga dengan karakter akhlak yang baik seperti kejujuran, kedisiplinan, kesopanan, kesabaran, rendah hati, menghargai sesama serta nilai-nilai yang terkandung dalam komposisi ba’i mabrur, yakni yang tidak ada unsur ghurur (tipudaya -red) samasekali. [] (Gmail: adiann0108@gmail.com)

Asyiknya Mengikuti Ajang Pemilihan Duta Santri Nasional

Loading

Oleh: Amrul Yunan Usman, Finalis Duta Santri Nasional 2023, mahasiswa Semester III Prodi HES, STIS Ummul Ayman

SAAT ini saya tercatat sebagai Mahasantri di Pondok Pesantren (di Aceh lebidh dikenal dengan sebutan: Dayah) Ummul Ayman dan juga sebagai Mahasiswa aktif di Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Ummul Ayman Pidie Jaya. Menjadi bagian dari santri merupakan keinginan saya sejak kecil. Saya patut lebih bersyukur lagi dan berterima kasih kepada orang tua dan Ayahanda Waled Nuruzzahri (Pimpinan Dayah Ummul Ayman) atas dukungan yang diberikan kepada saya sehingga beberapa waktu lalu saya terpilih sebagai salah seorang finalis Duta Santri Nasional 2023.

Ajang Duta Santri Nasional ini diselenggarakan selama dua tahun sekali. Tahun ini, ajang bergengsi tersebut diikuti sebanyak 6341 santri pendaftar dari santri seluruh pesantren di Indonesia, mulai dari Aceh Sampai Merauke. Para peserta melewati beberapa tahap, mulai dari tahap pendaftaran, pemberkasan, wawancara, bootcamp, pitching dan akhirnya sampai pada tahap karantina. Dari keseluruhan pendaftar, hanya 48 peserta saja yang terpilih untuk mengikuti karantina tersebut. Dari Aceh, saya satu-satunya yang terpilih. Karantina ini digelar di Surabaya Jawa Timur sejak 17 hingga 21 Oktober.

Dari Aceh, saya tidak sendirian. Saya berangkat bersama ibunda. Setelah ditinggali ayah, sang ibu selalu menjadi penopang kehidupan saya bersama abang-abang saya. Ibu selalu mendukung langkah-langkah saya. Tak terkecuali, beliau menyempatkan diri untuk menemani saya ke Surabaya. Saya pun selalu yakin bahwa doa seorang ibu begitu berkah dan cepat dikabulkan. Sembari menikmati perjalanan dalam pesawat, saya menikmatinya dengan mengambil dokumentasi kecil-kecilan sebagai bahan referensi typography perjalanan pribadi. Selain gemar berliterasi, saya juga sangat menyukai dunia kesenian berupa memotret dan membuat video-video.

Saya rasa, ini kita sudah memasuki zaman digital, yang mana tuntutan bagi setiap santri harus menguasai dunia multimedia, sebagai penunjang mereka dalam berdakwah. Saya punya motto, ‘hidup ini lebih indah jika mempunyai seni’. Seperti kata Oscar Wilde, ‘Adalah melalui seni dan hanya seni, kita dapat menyadari kesempurnaan kita.’ Setiba di bandara Juanda, Surabaya, kami dijemput oleh paman. Perjumpaan dengan paman ini sudah lama saya idamkan. Malamnya kami menginap di kediamannya, di Jombang.

Keesokan harinya, paman mengantar saya ke Balai Diklat Keagamaan, Surabaya, Jawa Timur. Di sanalah saya bersama 47 finalis lainnya beraktivitas mempersiapkan diri menjadi yang terbaik. Sementara ibunda menginap di Jombang. Sesampai di Balai Diklat Keagamaan, saya bersama peserta lain langsung disambut oleh panitia Duta Santri 2023. Lalu kami memasuki ruang registration finalis untuk diinput data sesuai indentitasnya masing-masing.

Pada Event Duta Santri Nasional 2023 ini terbagi 10 bidang masing-masing yaitu pendidikan dan agama, sains dan teknologi, sosial dan kemasyarakatan, politik dan hukum, kesehatan dan olahraga, energi dan lingkungan, ekonomi dan kewirausahaan, budaya dan pariwisata, diaspora dan multimedia. Ini merupakan salah satu event paling menantang bagi saya. Karena di sana seluruh finalis memiliki prestasi yang berbeda-beda mulai dari permainan wayang daerah Jawa, Qiraah Sab’ah, Pantomim serta penguasaan kesenian-kesenian lainnya.

Di Balai Diklat ini saya mengikuti seluruh rangkaian kegiatan mulai dari perkenalan, pembekalan materi, penampilan bakat bahkan koreografi untuk menghiasi indahnya malam penganugerahan Duta Santri Nasional 2023 yang dibimbing langsung oleh panitia. Di sana saya belajar banyak tentang bagaimana peran santri agar berjiwa moderat dalam beragama dan bertoleransi antar agama. Toleransi di sini saya maknai dengan sikap moderat kita seorang santri yang notabennya adalah tokoh agama ketika berinteraksi dengan pihak-pihak lain.

Selain itu, kami juga dibekali tentang dunia kepesantrenan serta apa saja yang menjadi tanggung jawab para santri kedepannya. Menjadi santri memang tidaklah mudah. Selain menjadi penanggung jawab dari hal-hal keagamaan, santri juga harus berada di garda terdepan dalam menjadikan dirinya sebagai teladan bagi umat. Lebih asyik lagi, selama karantina itu, kami juga diajarkan juga ilmu public speaking. Hal ini memang harus benar-benar dikuasai oleh seorang santri. Sebagai calon tokoh agama, ilmu public speaking ini harus benar-benar berdarah daging di dalam jiwa santri.

Di antara kegiatan yang sangat berkesan bagi saya selama karantina berlangsung yakni dicetusnya Forum Discussion Grup (FDG). Di forum itu, kami para finalis saling tukar-menukar pikiran terkait peran santri yang dibutuhkan di zaman milenial ini. Dari ini bisa saya simpulkan bahwa santri harus benar-benar berperan hal toleransi, membendung benih-benih radikalisme, berkecimpung di dalam hal moderasi beragama serta menjadi bagian dari barisan penjaga keutuhan umat, bangsa dan negara.

Harapannya juga untuk seluruh finalis agar lebih berkembang di seluruh aspek manapun, baik itu berupa saintek, multimedia dan sosial-kemasyarakatan. Selang waktu datang silih berganti, akhirnya kami tiba pada malam penganugerahan  atau penobatan Duta Santri Nasional 2023. Acara berlangsung di Auditorium UNUSA Tower, Surabaya, Jawa Timur.

Event bergengsi ini dihadiri langsung oleh Menteri Agama RI, Gus Yaqut. Saya sangat bahagia menjadi bagian dari 48 finalis yang berada di panggung tersebut, bersaing dengan seluruh finalis se-Indonesia. Acaranya berlangsung meriah. Gegap gempita para finalis serta tepukan tangan penonton membuat malam itu semakin meriah. Di akhir acara, para panitia mengungkapkan bahwa kami 48 ini sudah menjadi keluarga baru.

“Jadi tetap terus semangat berdakwah. Kalian di sini sangat beruntung, karena dari sebanyak 6341 santri Indonesia yang mendaftar, hanya kalian yang terpilih,” ujarnya.

Harapan saya untuk seluruh santri di Aceh khususnya agar terus berkontribusi dan berprestasi untuk agama dan daerahnya agar Aceh lebih menggaung di kancah nasional. Juga semoga selalu istikamah dalam belajar ilmu agama agar menjadi pemimpin yang berlatarbelakang tokoh agama yang kokoh dengan pendiriannya. Mengingat jasa-jasa terdahulu dalam merebut kemerdekaan bangsa ini dan menjayakannya dengan berjihad, berperang melawan kolonial musuh-musuh bangsa, namun santri di era milenial ini jihadnya bukanlah dengan berperang, tapi dengan menyebarkan ilmu dengan muidhah al hasanah serta penguasaan multimedia dalam rangka mendakwahkan nilai-nilai positif.

Hal itu juga disertai dengan menyukai dunia literasi dan melek perkembangan zaman. Hal ini sesuai dengan tema Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2023 ini yakni ‘Jihad Santri Jayakan Negeri’. [] (Gmail: rais.fcb10@gmail.com)

Prosesi Akad Nikah di Meurah Dua, Ini Pesan Kepala KUA

Loading

*Laporan: Maida Zuhra *Editor: MAA

Meurah Dua – Selasa, (14/02/23) tepatnya jam 09:00 pagi di KUA Meurah Dua dilangsungkan prosesi akad nikah. Calon suami yang berasal dari Mns. Kulam dan Calon istri berasal dari Mns. Teungoh kecamatan dimaksud itu datang ke kantor dengan riasan pengantin ditemani oleh sejumlah rombongan yang turut berhadir.

Di antara rombongan tersebut tentunya ada wali nikah, dua orang saksi, Bapak Keuchik kedua desa terkait serta sejumlah sanak famili dari kedua mempelai. Ruang balai nikah KUA Meurah Dua pun sesak.

Aura wajah mereka tampak bahagia. Prosesi akad nikah diketuai oleh Bapak Kepala KUA, Bapak T. Ghazali, S.Ag., M.H. Beliau memulainya dengan mukadimah, kemudian membacakan Surat An-Nisa’ ayat 3, dan memberikan nasihat singkat untuk para hadirin khusunya untuk calon pasutri baru. Para hadirin mendengarkan nasihat dengan khidmat, begitu juga dengan pasutri, sepertinya disertai dengan perasaan hati yang bercampur antara ‘iya’ dan ‘bukan’ menunggu proses akad dilangsungkan.

Nasehat dari kepala KUA: “Sebelum menikah, calon suami istri harus mempersiapkan diri dengan lika-liku yang akan terjadi dalam rumah tangga, karena menikah adalah satu ibadah yang tentunya setan pun selalu datang mengiringi untuk merusak ibadah kita. Jangan pernah bermain main dengan talak dan ta’lik talak karena akan berakibat fatal,” ujarnya.

“Untuk suami, jangan suka memandang wanita lain! Simpanlah foto istri sebanyak-banyaknya di galeri handphone. Begitu juga istri, simpanlah foto suami sebanyak mungkin di galeri handphone-nya,” lanjutnya.

“Dalam rumah tangga tidak boleh ada rasa dendam antara suami dan istri karena dengan rasa dendam dapat memungkinkan rumah tangga mudah retak. Hormatilah satu sama lain; pekerjaan istri dalam rumah tangga memang pekerjaan yang melelahkan dan tidak ada kata habisnya, dan suami yang pastinya juga lelah dalam mencari nafkah untuk istrinya, oleh karena itu suami-istri harus saling menghargai, saling menghormati dan saling menyayangi supaya dapat membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah,” lanjutnya.

Sementara itu, nasehat terkhusus untuk sang mempelai wanita, “Belajarlah memasak dan masaklah masakan yang enak supaya suami setiap hari makan hasil masakan kamu. Beritahu suami agar jangan suka makan di luar! Neumeujroh-jroh (berbaik-baiklah) dalam rumah tangga, neumeuget-get dalam rumah tangga dan bek karu-karu (jangan ada percekcokan). Jadikanlah sebagaimana slogan Rasulullah: baitii jannatii (rumahku surgaku),” tutupnya.

Kemudian bapak kepala KUA membacakan mukadimah nikah dan mempersilahkan wali nikah untuk melangsungkan akad sembari berjabat tangan dengan calon suami. Setelah para saksi menjawab ‘sah’, Bapak kepala KUA pun menutup serangkaian acara tersebut dengan doa. Selamat untuk kedua mempelai. BaarakAllah lakuma.

***

*Penulis adalah mahasiswi semester VII Prodi HKI. Saat ini sedang mengikuti magang di KUA Meurah Dua, Pidie Jaya. Ustadzah asal Reubee pecinta literasi ini berdomisili seraya mengabdi di Dayah Ummul Ayman II, Meurah Dua Pidie Jaya.

Apakah Tahun Baru Patut Dirayakan?

Loading

Oleh: Naila Fitra*

Perayaan tahun baru pada 1 Januari pertama kali dilakukan pada tahun 46 SM, pada saat kekuasaan Kaisar Romawi, yaitu raja Julius Caesar. Ia memutuskan untuk mengganti penanggalan romawi yang terdiri dari 10 bulan (304) hari, yang dibuat oleh Romulus pada abad ke-8. Julius Caesar menjadikan kalender yang kita gunakan saat ini kepada sistem romawi dikarenakan tidak adanya kesinkronan dengan pergantian musim yang terjadi, maka ditambahkan bulan baru sehingga menjadi 12 bulan. Lalu, mengenai dasar perhitungan dalam tahun Masehi, itu menurut perputaran bumi atau revolusi, karena hal demikian, tahun Masehi juga disebut tahun Syamsiah, yaitu tahun matahari. Dalam penanggalan Masehi, pergantian tanggal dimulai pada pukul 24:00.

Tahun Baru Masehi adalah suatu perayaan untuk memperingati telah berakhirnya masa satu tahun dan akan dimulainya hitungan baru pada tahun selanjutnya,. Banyak manusia yang merayakan perayaan tersebut dan banyak juga kegiatan yang mereka lakukan seperti, makan bersama keluarga, bertukar hadiah, menonton bersama, bermain game, bahkan menyaksikan serta ikut andil dalam pesta kembang api. Budaya ini banyak dilakukan oleh orang-orang yang tinggal di bagian timur, seperti halnya China yang ber-ibukota-kan Beijing, Jepang dengan ibukota Tokyo, Korea Utara yang ibukotanya Pyongyang dan Mongolia dengan ibukotanya Ulan Bator.

Tahun Baru ini juga dikenal sebagai perayaan setelah setahun sebelum Masehi atau Before Christ, yang mana tahun itu adalah tahun sebelum lahirnya Isa Almasih. Dan perlu kita ketahui bahwa ada kehidupan di masa itu dan tepat pada tahun setelahnya adalah tahun kelahirannya Isa Almasih.

Dari penjelasan diatas telah kita ketahui seluk-beluk dari mana datangnya Tahun Baru Masehi. Dan sekarang mari menelusuri apa itu Tahun Baru Hijriyah?

Tahun Baru Hijriyah adalah Tahun baru bagi orang Islam, yang ditandai dengan adanya peristiwa hijrah Nabi Muhammad Saw dari kota Mekkah ke Madinah pada tahun 622 M. Penanggalan penetapan kalender Hijriyah juga ditandai dengan adanya momen tersebut, oleh karenanya tahun 622 M menjadi tahun pertama di dalam kalender Hijriyah. Sedangkan penetapan awal Tahun Baru Hijriyah diawali dengan 1 Muharram, karena pada bulan Muharram ini juga diperingati suatu momen yaitu kepulangan umat muslim dari Tanah Suci Mekkah. Lafaz ‘Muharram’ memiliki arti ‘dilarang’, maksudnya segala hal yang melanggar hukum itu dilarang dalam melakukannya.

Berbeda dengan Masehi, dalam Islam, cara menentukan bulan itu dengan adanya rukyatul hilal yaitu mengamati hilal (anak bulan) secara langsung,. Apabila hilalnya tidak terlihat ataupun gagal terlihat maka bulan kalender berjalan dengan diistikmalkan yaitu dengan digenapkan menjadi 30 hari. Kalender dalam Tahun Hijriyah itu diperhitungkan berdasarkan pergerakan bulan, sedangkan penanggalan harinya dimulai pada saat matahari terbenam atau setelah magrib.

Tahun Baru Hijriyah juga memiliki makna yang begitu mendalam untuk direnungi oleh seluruh umat Islam, dan dari makna tersebut kita bisa berpikir, Tahun Baru manakah yang patut kita rayakan?! Diantara makna-makna Tahun Baru Hijriyah yaitu:

  1. Memberi makna ‘menyadari akan waktu yang terus berjalan’. Di sini jelas kita ketahui bahwa banyak umat muslim yang begitu sibuk dengan urusan duniawisehingga mereka melupakan urusan ukhrawi, maka dengan adanya Tahun Baru Hijriyah menyadarkan manusia agar berbuat banyak kebaikan dan tidak menebarkan keburukan.
  2. Memberi makna akan ‘ujian yang kita hadapi adalah milik Allah Swt’. Di tahun baru kita akan semakin sadar bahwa semua ujian dan rintangan yang Allah Swt berikan merupakan bukti cinta dan kasih Allah Swt kepada hambaNya. Yakin bahwa itu semua adalah penyebab diberikannya nikmat iman dan nikmat Islam kedepannya, dan menjadi penyebab diberikannya kebahagiaan semua makhluk-Nya.

Telah kita baca dengan jelas dari tulisan di atas bahwasanya terlalu banyak kelebihan Tahun Baru Islam di dalam kehidupan kita. Oleh karena itu patutkah kita merayakan Tahun Baru selain Tahun Baru Hijriyah? Jawabannya tentu ‘tidak’.

Mengapa? Karena Tahun Baru Masehi bukanlah Tahun Baru bagi umat muslim melainkan bagi non-muslim, maka bagi umat muslim tidak diperbolehkan merayakannya, karena akan menciptakan perbuatan tasyabbuh yaitu menyerupai, yang mana menyerupai orang² kafir yang melakukan perayaan pada tahun tersebut.

***

*Naila Fitra, seorang mahasiswi kelahiran tahun 2002. Putri pertama dari bapak Mahmuddin dan Ibu Marhamah yang berdomisili di Muara Dua, Lhokseumawe. Memulai pendidikan sejak tahun 2007 hingga sekarang, penulis merupakan alumnus Dayah Ulumudin, Uteunkot selama 6 tahun, di angkatan yang ke-24. Saat ini melanjutkan studi sebagai mahasiswi di Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Ummul Ayman Pidie Jaya.

Mengembangkan Spirit Kepahlawanan di Kalangan Mahasiswa

Loading

Oleh: Farhanarrizky*

Setiap tahun rakyat Indonesia merayakan hari pahlawan atau hari-hari nasional seperti hari kemerdekaan, hari atau perayaan kemerdekaan yang dirayakan rakyat Indonesia tersebut tidak bisa lepas dari perjuangan para pahlawan nasional maupun para pejuang dari daerah-daerah kota-kota kecil. Dalam perjuangannya, para pejuang Indonesia melakukan perlawanan terhadap para penjajah yang ingin melakukan penjajahan di negara Indonesia dengan gigih dan tanpa menyerah. Membahas tentang kepahlawanan aceh juga tak luput dari para pahlawan bahkan aceh menjadi salah satu daerah yang membuat para pasukan portugis kuwalahan dalam menghadapinya.

Perlawanan para pejuang dalam usaha mengusir para bangsa asing yang ingin melakukan kolonialisme di negara Indonesia tersebut tidak semudah yang dibayangkan, melainkan mendapatkan perlawanan yang sengit dari para tentara Belanda, tentara Jepang maupun sekutu.

Namun, Cut Nyak akhirnya menyerah kepada Belanda pada 1900-an awal karna salah seorang panglimanya nya merasa iba terhadap penyakit yang di derita Cut Nyak Dhien dan membuat perjanjian agar belanda merawat beliau. Saat itulah aceh baru benar benar jatuh ketangan belanda.

Aceh menjadi wilayah nusantara terakhir yang jatauh ke tangan penjajah. Bila di katakan Indonesia di jajah belanda 350 tahun. Aceh secara utuh di jajah belanda kurang dari 50 tahun lamanya. Saat terjadi peristiwa yang bersejarah diaceh pada waktu itu, semua pejuang Indonesia melakukan pertempuran yang berupa perlawanan terhadap tentara dari negara sekutu yang ingin melakukan penjajahan di negara Indonesia yang demi kepentingan Belanda Para pejuang juga melakukan perlawan dan pemberontakan kepada para tentara Jepang dan Belanda.

Adapun siapa saja mereka yang mendapat gelar kepahlawanan, yaitu dari data yang saya kutip dari tahun 1959 hingga tahun 2022 terdapat 8 sosok pahlawan nasional yang berasal dari aceh berikut nama nama pahlawan nasional yang brasal dari aceh:

1. Laksamana Malahayati

Bernama asli Keumala Hayati, Laksamana Malahayati adalah seorang perempuan pejuang pada masa Kesultanan Aceh Darussalam. Pada tahun 1585–1604, dia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV.

Ketika itu, Malahayati memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee (pasukan perang perempuan Aceh) untuk berperang. Pada 11 September 1599, Malahayati membunuh pimpinan pasukan perang Belanda, Cornelis de Houtman dalam sebuah pertempuran di atas kapal di perairan laut Aceh.

Makam Laksamana Malahayati berada di bukit Krueng Raya, Lamreh, Aceh Besar. Ia digelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 115/TK/Tahun 2017 tanggal 6 November 2017.

2. Sultan Iskandar Muda

Paduka Seri Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam atau Sultan Iskandar Muda lahir tahun 1583 di Bandar Aceh Darussalam. Semasa ia menjadi sultan, Kesultanan Aceh Darussalam mencapai puncak kejayaannya. Sultan Iskandar Muda telah berhasil menyatukan seluruh wilayah semenanjung tanah Melayu di bawah panji kebesaran Kerajaan Aceh Darussalam

Selama lebih kurang 30 tahun masa pemerintahannya, yaitu (1606-1636 M) dia telah berhasil membawa Kerajaan Aceh Darussalam ke atas puncak kejayaannya, hingga mencapai peringkat kelima di antara kerajaan Islam terbesar di dunia.

Sultan Iskandar Muda wafat pada tahun 1636 M dan makamnya terletak dalam komplek Kandang Mas di Banda Aceh yang telah pernah dihancurkan Belanda. Yang ada sekarang ini merupakan duplikatnya hasil petunjuk Pocut Meurah isteri Sultan Mahmudsyah. Pemerintah Republik Indonesia mengangkat Sultan Iskandar Muda sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden No. 077/TK/Tahun 1993 tanggal 14 September 1993.

3. Teungku Chik di Tiro

Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman lahir di Tiro, Pidie, pada 1 Januari 1836. Ia merupakan seorang ulama Aceh yang berjuang melawan penjajah Belanda. Ia adalah tokoh yang kembali menggairahkan Perang Aceh pada tahun 1881 setelah menurunnya kegiatan penyerangan terhadap Belanda. Teungku Chik di Tiro membangkitkan semangat perlawanan rakyat Aceh dengan berjihad dalam Prang Sabi. Ia gugur pada Januari 1891 di Aneuk Galong, Aceh Besar. Makamnya terletak di Manggra, Indrapuri, Aceh Besar.

Teungku Chik di Tiro diangkat sebagai Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden Nomor 087/TK/Tahun 1973 tertanggal 6 November 1973.

4. Cut Nyak Dhien

Cut Nyak Dhien lahir di Lampadang, Aceh Besar, pada 1848. Ia adalah istri dari Teuku Umar, yang juga Pahlawan Nasional asal Aceh. Mereka dikenal sebagai suami istri yang tangguh melawan penjajah Belanda, terlibat banyak perang.  Setelah Teuku Umar meninggal pada 11 Februari 1899 di Meulaboh, Aceh Barat, Cut Nyak Dhien terus memimpin pasukan Aceh bergerilya dari hutan ke hutan.

Setelah bertahun-tahun memimpin perang, kesehatannya menurun dan penglihatannya mulai kabur. Salah seorang panglimanya, Pang Laot Ali merasa iba dengan kondisinya, lalu membuat perjanjian dengan Belanda. Syaratnya, Belanda harus merawat Cut Nyak Dhien. Belanda setuju, lalu ditawankan Cut Nyak Dhien dan dibawa ke Banda Aceh. Dalam pengawasan Belanda, Cut Nyak Dhien masih berkomunikasi dengan para pejuang. Hal ini diketahui penjajah, lalu mengasingkannya ke Sumedang, Jawa Barat pada 1906.

Cut Nyak Dhien meninggal pada 6 November 1908 di pengasingan dalam usia 60 tahun, makamnya terawat baik di Sumedang hingga kini. Sebagai penghargaan terhadap perjuangan Cut Nyak Dhien, pemerintah mengangkat Cut Nyak Dhien sebagai Pahlawan Nasional melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 106/TK/1964 tanggal 2 Mei 1964.

5. Teuku Umar

Teuku Umar lahir di Meulaboh, tahun 1854. Ia merupakan suami dari Cut Nyak Dhien. Ia punya strategi perang gerilya yang sangat ditakuti musuh. Teuku Umar pernah berpura-pura bekerjasama dengan Belanda, lalu melawannya ketika telah mengumpulkan senjata dan uang. Teuku Umar gugur dalam perlawanan dengan pasukan Belanda, yang dipimpin Van Heutsz di Suak Ujong Kalak, Meulaboh, pada 11 Februari 1899. Ia dimakamkan di Desa Mugo Rayuek, Kecamatan Panton Reu, Kabupaten Aceh Barat. Teuku Umar diangkat Pahlawan Nasional pada tahun 1955 dengan Surat Keputusan Presiden Nomor 217/1955.

6. Cut Nyak Mutia

Cut Nyak Mutia adalah seorang pejuang perempuan pada masa Kesultanan Aceh Darussalam. Ia lahir di Keureutoe, Aceh Utara, pada 15 Februari 1870. Pada masa hidupnya, Cut Meutia berjuang bersama pasukan Inong Balee melawan penjajah Belanda. Ia gugur dalam pertempuran dengan pasukan Belanda di Alue Kurieng, Aceh Utara, pada 24 Oktober 1910. Makam Cut Mutia berada di kawasan hutan lindung Gunung Lipeh, Ujung Krueng Kereuto, Pirak Timur, Aceh Utara. Ia menjadi Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 107/1964 pada tahun 1964. Pada Desember 2016, Pemerintah Republik Indonesia, mengabadikannya dalam pecahan uang kertas rupiah baru Republik Indonesia, pecahan Rp1.000.

7. Teuku Nyak Arif

Teuku Nyak Arief lahir di Ulee Lheue, Banda Aceh, pada 17 Juli 1899. Ia pernah menjadi Residen Aceh, pada tanggal 3 Oktober 1945 dengan surat ketetapan No. 1/X dari Gubernur Sumatra, Teuku Muhammad Hasan.

Teuku Nyak Arif meninggal pada tanggal 4 Mei 1946 di Takengon, Aceh. Jenazahnya dibawa ke Kutaraja dan dikebumikan di tanah pemakaman keluarga pada tepi sungai Lamnyong di Lamreung, Aceh Besar, dua kilometer dari Lamnyong, Banda Aceh

Pada 1974, Teuku Nyak Arif dianugerahkan gelar Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 071/TK/1974.

8. Teuku Muhammad Hasan

Teuku Muhammad Hasan lahir di Pidie, Aceh, pada 4 April 1906. Ia merupakan Gubernur Wilayah Sumatra pertama setelah Indonesia merdeka tahun 1945. Pada 7 Agustus 1945, Teuku Muhammad Hasan dipilih menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang diketuai oleh Soekarno. Setelah merdeka ia diangkat menjadi Gubernur Wilayah Sumatra pertama dengan ibukota di Medan.

Semasa hidupnya, Teuku Muhammad Hasan pernah menulis buku dan mendirikan Universitas Serambi Mekkah di Banda Aceh. Ia meninggal dunia pada 21 September 1997 di Jakarta. Ia lalu diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2006 oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan Surat Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 085/TK/Tahun 2006 tertanggal 3 November 2006.

Hingga hari ini kita dapat merasakan ketentraman kedamaian ini yaitu berkat perjuangan para pejuang dan pahlawan yang membela tanah airnya hanya untuk kita anak cucunya memiliki kehidupan damai  tanpa adanya pertumpahan darah dan gencatan senjata lagi di era ini.

Kita sebagai anak cucunya tidak boleh melupakan sejarahnya ketika melawan para penjajah. Banyak pula pahlawan-pahlawan yang tidak masyhur yang jarang orang kenal yang telah gugur di medan perang.

Akhir kata penulis mengajak kepada teman-teman pembaca untuk tidak lupa akan sejarah karena satu bangsa akan runtuh jika lupa akan sejarahnya.

*Penulis merupakan mahasiswa Prodi Hukum Keluarga Islam (HKI), semester VI. Pria asal Jeunieb ini hobi membaca dan menulis. Salam literasi.

 

Menilik Gelora Maulid Khatamul Anbiya

Loading

Oleh: Aisyatul Fujar*

SABTU, 8 Oktober 2022 lalu bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1444 H segenap kaum muslimin memperingati kelahiran kekasih Allah, Nabi Muhammad Saw. Meski taka sing lagi sejarah tentangnya, namun, saya rasa tidak ada salahnya kita mengingat dan mengenang kembali beliau; Nabi kita yang selalu mengingat kita (baca: umatnya), yang selalu menyebut-nyebut kita, padahal beliau tidak pernah bertemu dengan kita.

Nabi Muhammad Saw lahir di Makkah pada hari Senin 12 Rabiul Awal tahun 571 M (sekitar 1450 tahun yang lalu) yang sering disebut dengan ‘tahun gajah’. Beliau terlahir dalam keadaan yatim. Tak lama, sang ibunda pun menyusul ayahandanya. Beliaupun yatim piatu. Saat itu Rasulullah diasuh oleh sang kakek, Abdul Muthalib hingga masa remajanya.

Tak lama kemudian, sang kakek pun meninggalkannya. Hak asuh pun berpindah kepada pamannya, Abu Thalib  hingga Nabi beranjak dewasa menjadi pribadi yang baik dan cerdas. Sejak kecil hingga dewasa beliau tidak pernah merepotkan orang lain dan terjaga dari perbuatan yang merugikan sekitarnya.

Menjelang usia dewasa, nabi mulai menekuni dunia bisnis. Beliau menjalin kerja sama bisnis bersama wanita kaya raya yakni Siti Khadijah. Banyaknya kegiatan perdagangan yang melibatkan mereka berdua, membuat Khadijah merasa tertarik kepada Rasulullah. Khadijah pun akhirnya mengutus seorang sahabatnya untuk menyampaikan keinginannya melamar Muhammad. Nabi pun menyampaikan kabar gembira ini kepada paman-pamannya. Salah satunya yakni, Hamzah bin Abdul Muthalib.

Pamannya lantas mendatangi rumah Khuwailid bersama dengan nabi tentunya untuk melamar Khadijah. Maka menikahlah  Nabi dan Khadijah dengan tautan usia yang jauh berbeda. Usia Rasulullah lebih muda 15 tahun dari Khadijah, karena dalam satu riwayat disebutkan bahwa nabi menikah dengan Khadijah ketika berusia 25 tahun sedangkan Khadijah berusia 40 tahun.

Menjelang usianya yang ke 40 tahun, beliau sudah terbiasa memisahkan diri dari pergaulan masyarakat, dengan mengasingkan diri ke Gua Hira’. Mula-mula nabi berada di sana berjam-jam hingga kemudian berhari-hari untuk bertafakur. Bertepatan pada tanggal 17 Ramadhan, malaikat Jibril menyampaikan wahyu Allah yang pertama kepada beliau yang berarti Muhammad telah menjadi nabi. Namun, dalam wahyu pertama ini belum diperintahkan untuk menyeru manusia kepada suatu agama.

Setelah wahyu pertama datang, Jibril tidak muncul lagi untuk beberapa lama, sementara Nabi Muhammad menantikannya dan selalu datang ke Gua Hira’. Dalam keadaan menanti itulah turun wahyu yang membawa perintah kepadanya. Wahyu itu berbunyi sebagai berikut:“ Hai orang yang berselimut, bangun dan beri ingatlah. Hendaklah engkau besarkan Tuhanmu dan bersihkanlah pakaianmu, tinggalkanlah perbuatan dosa, dan janganlah engkau memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak dan untuk (memenuhi peintah) Tuhanmu bersabarlah.” (Al-Mudattsir: 1-7).

Dengan turunnya perintah itu, mulailah Rasulullah berdakwah. Dimulai dengan menyampaikannya kepada kerabat terdekat karena beliau masih berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Hingga akhirnya turun perintah Allah yang mengharuskan nabi untuk berdakwah secara terang-terangan. Namun masyarakat Makkah tidak menerima dengan baik dakwah Rasulullah. Begitu banyak lika-liku nabi memperjuangkan agama Allah pada masa itu. Segala cacian, hinaan, beliau hadapi dengan sabar tanpa pernah mengeluh dan memaksa mereka memeluk agama Islam.

Orang-orang Makkah ketika itu pada memusuhi nabi karena merasa nabi telah merusak agama nenek moyang mereka. 13 tahun lamanya nabi berdakwah di Makkah. Hingga akhirnya nabi berhijrah ke Madinah, di sana, nabi menerima perlakuan yang baik dari penduduknya. Nabi pun berdakwah di Madinah selama 10 tahun lamanya. Dakwah nabi kali ini tidak sia-sia, karena ajaran agama Islam berkembang sangat pesat di Madinah. Sehingga orang-orang muslim pun semakin bertambah dan tak lagi teraniaya.

Setelah 10 tahun hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad menunaikan ibadah haji ke Makkah, yang dikenal dengan sebutan haji Wada’. Setelah berhaji, Nabi Muhammad menyampaikan sebuah pidato yang disebut sebagai Khutbah Perpisahan (Khutbah Wada’). Dalam khutbahnya Nabi berpesan kepada pengikutnya untuk tidak mengikuti aturan adat pra-Islam tertentu.

Tidak lama setelah itu, Nabi Muhammad mulai menderita sakit yang cukup parah, tepatnya pada 29 Shafar tahun 11 Hijriah, Nabi mengalami sakit kepala dan demam tinggi selama beberapa waktu setelah pulang dari haji untuk pertama dan terakhir kalinya. Kondisi ini terus dialami Rasulullah selama kurang lebih 14 hari. Meski begitu, Nabi masih menyempatkan diri untuk mengimami salat berjamaah. Hingga suatu hari, saat Rasulullah hendak pergi ke mesjid untuk salat berjamaah, sakit yang dideritanya semakin parah hingga mengahalangi nabi untuk bisa berjamaah.

Pada suatu ketika, ada seseorang mengetuk pintu rumah Rasulullah SAW, dan Fatimah membuka pintu nya sambil berkata “Untuk apa kau datang kemari? Ayahku sedang sakit”. Orang itu menjawab “Tidak! Aku harus bertemu dengan ayahmu”. Fatimah tidak mengizinkan orang itu masuk dan menutup pintunya. Kemudian Rasulullah memanggil Fatimah sambil berkata, “Ya Fatimah, dia adalah malaikat maut, dialah yang memutuskan kebahagiaan yang sementara nak, dialah yang ingin bertemu dengan ku. Inilah hari terakhirku wahai Fatimah”.

Fatimah pun tidak mampu lagi membendung air matanya, ia paham bahwa ini adalah detik-detik wafatnya Rasulullah Saw. Dengan keadaan lemah, malaikat maut menjumpai Rasulullah Saw. Beliau bertanya keberadaan malaikat Jibril, dan Jibril pun datang menjumpainya. Lalu nabi bertanya “Apa hakku di hadapan Allah SWT wahai malaikat Jibril?”. Jibril menjawab “Bahwa Allah telah menantimu di surga, seluruh malaikat telah menantimu di pintu-pintu langit untuk menyambut kedatangan ruhmu wahai kekasih Allah”.

Akan tetapi Rasulullah tidak terlihat senang mendengar hal itu, hingga Jibril bertanya kepada beliau, “Mengapa engkau tidak tersenyum, ya Rasulullah?” Nabi menjawab, “Aku memikirkan umatku wahai Jibril. Bagaimana dengan umatku sepeninggalanku?” Kata Allah “Sampaikan kepada Muhammad akan aku jamin umatnya dan tidak aku hinakan di yaumil qiyamah”.

Maka perlahan-lahan ditariklah ruh Rasulullah, dan beliau berkata bahwa begitu dahsyat rasa sakit sakratul maut itu, Rasulullah ingin menanggung rasa sakit seluruh umatnya kepada beliau. Bahkan di akhir hayatnya beliau masih memikirkan rasa sakit sakratul maut umatnya. Rasulullah semakin merasa sakit atas sakratul maut yang menimpanya, hingga akhirnya pada hari Senin, 12 Rabiul Awal 632 M, sang kekasih Allah berpulang kembali kepada-Nya dalam pangkuan istrinya, Sayyidah Aisyah.

Perhatian Nabi Muhammad Tentang Nasib Umatnya

Aisyah merasa kebingungan dan berlari keluar sambil mengatakan “Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah meninggalkan kita”. Seluruh penduduk Madinah merasakan seolah-olah kota itu menjadi gelap. Di antara mereka ada yang pingsan, bersimbah air mata. Tetapi Umar bin Khatab langsung angkat bicara dengan mengatakan bahwa Rasulullah tidak wafat, beliau hanya seperti Nabi Musa As yang datang kepada Allah kemudian kembali kepada kita.

Bahkan beliau mengancam akan memenggal kepala orang yang mengatakan Rasulullah wafat.Kemudian Abu Bakar lah yang menenangkan Umar sambil berkata bahwa Rasulullah hanya lah manusia biasa yang akan mati. Maka siapa yang menyembah Muhammad, ia telah wafat, tetapi siapa yang menyembah Allah, Allah akan selalu hidup tidak akan pernah mati. Barulah Umar sadar bahwa benar hari itu Rasulullah telah meninggalkan meraka semua.

Itulah kisah singkat perjalanan nabi kita, dari sejak lahir hingga akhir hayatnya yang tetap mengingat umatnya. Umatnya yang tidak pernah berjumpa dengannya, tetapi begitu dikhawatirkan dan dirindukan olehnya. Suatu hari Rasulullah pernah duduk bersama para sahabatnya dan mengatakan “Ana musytaqun bi ikhwani (aku sedang merindukan saudara-saudaraku)”. Para sahabat bertanya “Ya Rasulullah bukankah kami ini saudaramu?” Kata Rasulullah “Bal antum ashabi [kalian bukan saudaraku, tetapi kalian itu sahabatku]”. Lalu siapa yang dimaksud dengan ‘ikhwani’ oleh Rasulullah? Ikhwani yang dimaksud adalah orang-orang yang tidak pernah melihatku tetapi mereka mau beriman kepadaku.

Pernah suatu ketika Aisyah mendapati nabi terbangun dari tidurnya dan melaksanakan salat, tetapi nabi tidak kunjung selesai dengan salatnya hingga Aisyah bertanya, “Kapan waktu istirahatmu, ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Jika aku istirahat bagaimana nasib umatku di hari kelak? Setiap harinya aku harus melakukan salat taubat 1000 rakaat dihadapan Allah”.

Aisyah merasa heran, untuk apa? Sedangkan beliau adalah orang yang terpelihara daripada dosa. Rasul menjawab bahwa beliau khawatir nanti jika ketika umatnya ditarik kembali ruhnya oleh Allah mereka belum sempat bertaubat kepada Allah, dan Rasulullah berharap solat taubat nya ini bisa menambal taubat umatnya. Masya Allah.

Bagaimana dengan kita? Ketika Rasulullah sangat mencintai dan merindukan kita. Bagaimana dengan lisan kita? Apakah senantiasa bershalawat kepada rasul? Bagaimana dengan perbuatan kita? Apakah senantiasa menjalankan sunah-sunah nya? Oleh karena itu, jika selama ini kita kurang peduli terhadap orang yang selalu merindukan kita ini, mulai dari sekarang kita bisa memperbaiki dengan memperbanyak shalawat kepadanya, mengamalkan sunah-sunahnya.

Terlebih di dalam bulan kelahirannya ini, tampakkanlah kecintaan dan kegembiraan kita menyambut hari lahirnya dengan merayakan maulid. Semoga kita bisa berkumpul dengan Rasulullah disurga Allah dan mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad di hari akhirat kelak. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali wa shahbihi ajma’in.

 ***

*Penulis bernama lengkap Aisyatul Fujar, seorang mahasiswi kelahiran 2003. Putri dari Bapak Ivandi Nurdin dan Ibu Nurasiah berkelahiran dan berasal dari kota Langsa. Wanita yang kerap menggunakan kacamata ini merupakan mahasiswi aktif di semester III Prodi Hukum Keluarga Islam (HKI). Selain hobi mendengar musik-musik islami, Ustadzah yang saat ini mengabdikan diri di Dayah Ummul Ayman IV ini juga menyukai dunia menulis-membaca. Salam Literasi!

Editor: MAA

Dr. Affia Siddiqui, Jeruji dan Tempat yang Dicintai

Loading

Oleh: Fidiatul Makfira*

Cerita ini saya kutip dari guru saya yang selalu saja membanggakan seorang mujahidah cendekia, putri bangsa Pakistan. Dr. Affia Siddiqui atau Lady Al Qaeda adalah seorang wanita cerdas dan salehah, merupakan hafizah Al-Quran. Tak hanya lulus dari MIT (Massachusetts Institute of Technology) tapi juga mendapat gelar doktor dalam bidang Ilmu Saraf dari Brandeis University, Amerika Serikat.

Ia juga memiliki 144 sertifikat dan ijazah kehormatan dari lembaga seluruh dunia. Affia merupakan satu-satunya ilmuan neurologi di dunia yang menyabet gelar P.hD dari Universitas Harvard. Tidak ada seorang wanita barat yang setara dan sebanding dengan pendidikannya.

Dr. Affia Siddiqui dilahirkan di Pakistan dan menjadi warga Amerika. Pada tahun 2003, Ia diculik dan dipenjara di Bagram bersama tiga anak kecilnya selama lima tahun tanpa kabar, pula tanpa bukti yang kuat tentang apa kesalahannya dan mengapa tidak pernah dibicarakan hanya semata-mata dengan tuduhan karena melakukan percobaan pembunuhan terhadap petugas AS di Afghanistan.

Sampai pada saat empat orang tahanan dari Bagram (Guantanamo) yang berhasil melarikan diri itu menceritakan semuanya bahwa mereka merasa aneh ketika tiba-tiba ada seorang wanita yang disandera di penjara ini, karena dengan ini Amerika telah melakukan penipuan tentang tiadanya narapidana wanita di Bagram, mereka juga bercerita bahwa mereka tahu bahwa seorang wanita yang bernomor tahanan 650 itu adalah wanita asal Pakistan dan seorang ibu yang dipisahkan dari anak-anaknya.

Mereka juga mendengar Ia menjerit hebat akibat disiksa setiap harinya. Selama di dalam tahanan di Bagram, Dr Affia disiksa, diperkosa setiap harinya dan dilecehkan haknya sebagai seorang wanita. Beliau juga dipaksa menggunakan toilet pria dan kamar mandi yang rentan dan bisa dilihat oleh penjaga penjara. Kejadian ini berlangsung lama hingga beliau kehilangan ingatannya dan nasib anak-anaknya selama lima tahun itu juga tidak diketahui oleh siapapun.

Tak heran jika kasus dari ibu tiga anak ini sudah masyhur ke seluruh dunia karena skenario yang dibuat oleh FBI sangat memanipulasi kejadian yang sebenarnya, bahkan mereka menggambarkan bahwa Dr Affia adalah teroris berbahaya yang menjadi buronan. Dr. Affia Siddiqui yang sebenarnya baru keluar dari supermarket di jalan dekat rumah mereka di Karachi, akan tetapi mereka mengeluarkan statement bahwa pada waktu itu beliau sedang pergi berjihad ke Afghanistan.

Tahun berikutnya beliau disebut oleh direktur FBI Robert Mueller sebagai salah satu dari tujuh buronan dan juga satu-satunya wanita. Hakim Pengadilan AS memutuskan bahwa Dr. Affia Siddiqui menerima hukuman penjara selama 86 tahun, yang kemudian memicu amarah di kalangan warga Pakistan dan mereka pun ikut menggelar aksi protes atas hukuman penjara 86 tahun itu.

Di saat itupula adik perempuannya beserta ibunya mengkritik pemerintah Pakistan karena ingkar janji untuk memulangkannya. Akademis cerdas, Dr.Affia Siddiqui yang pernah mendapatkan pendidikan di universitas-universitas kelas atas di AS, sekarang hanya bisa terbaring lemah di penjara Texas karena harus menjalani 86 tahun hukuman setelah dituduh bersalah mencoba membunuh tentara Amerika.

Padahal faktanya adalah mereka menembaknya dari jarak dekat dan hampir membunuhnya, tetapi mereka mengklaim di pengadilan bahwa mujahidah cendekia itu melompat di balik tirai sel penjara, menyambar salah satu senjata mereka dan membunuh mereka. Skenario yang digambarkan di pengadilan sangat meragukan banyak pihak dan yang menjadi kejanggalan lainnya adalah tidak ditemukan bukti yang kuat; tidak ada bekas tembakan dipakaiannya, tidak ada peluru dari senjata yang ditembak dan tidak ada sidik jari miliknya pada laporan yang terdapat dalam TKP.

Kemudian setelah mendapat pengobatan oleh tenaga medis Bagram, beliau dipindahkan secara rahasia ke Amerika untuk diadili atas kejahatan yang menjadikannya sebagai tersangka di Afghanistan. Proses pengadilannya diadakan di New York, lokasinya berjarak sangat dekat dengan tempat dimana menara kembar pernah berdiri. Dan disaat itulah sebuah tim legal dipaksakan kepada Dr. Affia oleh pemerintah AS sehingga mereka sukses memanipulasi kesaksian Dr. Affia sehingga beliau dinyatakan benar-benar bersalah.

Ketika ada bukti berupa rekaman diserahkan kepada tim pembela, penuntut tidak mengakui seorang jurnalis barat yang telah melakukan perjalanan di Afganistan ini bisa mendapat kesaksian dan bukti yang menarik. Sayangnya setelah semua bukti tersusun rapi termasuk peluru yang telah disembunyikan dari dinding sel tersebut hilang. Pada saat Dr. Affia muncul di balik tirai tanpa borgol dan dan tidak mengenakan hijabnya menyebabkan kepanikan dari para prajurit muda yang telah diberi penjelasan singkat oleh FBI bahwa mereka telah menangkap seorang wanita yang paling berbahaya di dunia.

Akan tetapi saat petugas polisi senior Afghanistan mengatakan laporan mereka tentang apa yang terjadi di Afghanistan, namun satu-satunya orang yang dibawa ke pengadilan untuk memberikan saksi terhadap beliau adalah penerjemah FBI. Sungguh propaganda Warga AS yang memanipulasi persaksian itu menjadikan fitnah yang keji untuk Dr. Affia, hingga saat ini.

***

*Penulis merupakan mahasiswi semester III Prodi Hukum Keluarga Islam (HKI) STIS-UA. Putri kelahiran 2003 ini merupakan buah hati dari pasangan Bapak Nasruddin dan Ibu Azizah, berdomisili di Lueng Putu, Pidie Jaya. Ustadzah yang saat ini mengabdi di Ummul Ayman 4 Bustanussabban ini sangat menggemari dunia literasi dan pernah menjadi pemenang Karya Tulis Ilmiah Terbaik yang diselenggarakan oleh panitia PBAK STIS-UA tahun 2021. Salam literasi!

Editor: MAA

 

Literasi Digital Sebagai Pertahanan Milenial di Pusaran Disrupsi Digital

Loading

Oleh: Akram Alfarasyi, SH*

Era Sekarang Sebagai New Start

“Jika dulu uang diperoleh dengan tetesan keringat, maka hari ini uang bisa mengalir melalui tombol subscribe. Jika dulu informasi berjalan tertatih, maka hari ini ia terbang ‘simsalabin’. Demikianlah fenomena kemajuan. Kehadirannya mampu mendisrupsi segala yang ada dan membawanya ke arah keterpanaan.”

Kalimat di atas bertujuan menggiring pembaca pada kenyataan bahwa kemajuan adalah suatu keniscayaan. Hari ini tampak benderang bila peradaban terus bergerak, pemikiran orang-orang kian berkembang, dan salah satu wujud safarnya ialah keadaan di masa sekarang.

Terkait hal tersebut, Yuval Noah Harari, Ph.D. dalam Homo Deus Masa Depan Umat Manusia mencatat dengan begitu rinci bahwa mesin uap adalah penanda revolusi industri 1.0, kemudian penemuan listrik sebagai gerbang modernisasi 2.0.

Kehadiran komputer memberi isyarat masuknya era 3.0 dan periode 4.0 mewujudkan penyempurnaan efisiensi dari penggunaan komputer melalui internet, AI (Artificial Intelligence), teknologi robotik dan big data. Inilah new start yang kemudian kita namai sebagai digitalisasi.

Sekarang sudah 2022, manusia yang hidup sampai detik ini adalah mereka yang berada di penghampiran seperempat abad 21. Tentu banyak fenomena yang terjadi dan tak jarang kita mengakui bila semuanya benar-benar kebaharuan dan begitu mengagumkan.

Manusia telah masuk dalam era otomatisasi, di mana komputer melekat erat pada berbagai sendi aktivitas dewasa ini. Tak cukup hanya di ruang publik, tingkat personal juga terseret untuk ikut beradaptasi. Katakanlah e-KTP, e-money, olshop dan berbagai data digital sejenis yang sama sekali sulit untuk melepas ketergantungan akan hal tersebut.

Pada dasarnya segala bentuk electronik data hanyalah digit format algoritma, namun manusia mampu mengubahnya menjadi galaksi komunikasi dengan berjuta bongkah meteoroid informasi. Inilah yang disebut disrupsi digital, keadaan di mana manusia telah sampai pada masa kemudahan dan kecepatan akses akan segala hal.

Smartphone, sosial media, e-learning, CT Scan, hanyalah seperkecil dari banyak contoh lainnya. Semua perangkat yang memuat data telah hadir dengan koneksi internet sebagai nadi operasionalnya.

Disrupsi Menyertai Kemajuan Peradaban

Disrupsi digital tidak hanya membawa berkah pada aspek komunikasi dengan menghadirkan keterbukaan informasi seluas-luasnya, namun juga berimplikasi pada aspek lainnya semisal pendidikan, kesehatan, ekonomi, politik, sosial dan budaya.

Lihat saja. Di tahun 90-an, orang-orang belum mengenal kuota internet. Para pebisnis tidak dapat membayangkan sejauh mana produknya dapat dipasarkan dalam kurun yang singkat. Jajaran politisi merasa begitu sulit menebar pengaruhnya di kalangan masyarakat. Ketersediaan informasi kesehatan sangat langka di lapisan menengah ke bawah.

Budaya K-Pop yang menjadi trend hari ini bahkan sama sekali tidak dikenal oleh orang Indonesia pada abad 19 sampai pertengahan abad 20. Lantas beberapa dekade setelahnya, barulah digitalisasi mengubah keadaan dunia. Kehadiran digitalisasi mendisrupsi ketidakefektifan yang berlaku pada masa pra dan awal modern, menuntunnya menuju gaya globalisasi termutakhir di mana ruang dan waktu bukan lagi sekat penghambat.

Katakanlah bidang pendidikan dan lapangan kerja. Musibah Covid-19 tiga tahun silam memberi sinyal penting bahwa internet memiliki peran utama dalam mengelak stagnasi ilmu pengetahuan. Metode belajar daring sepenuhnya menggantikan cara luring. Guru dan siswa tidak lagi dalam keterikatan suatu tempat sebagai satu-satunya wadah belajar mengajar. Transfer ilmu pengetahuan boleh terjadi di manapun dan kapanpun yang diperlukan.

Tak jauh berbeda, problematika tenaga kerja juga mengalami hal serupa. Digitalisasi memberi harapan dan ruang gerak baru bagi masyarakat saat pengangguran menjadi masalah utama. M. Syarif Hidayatullah, senior policy analyst in Indonesia Service Dialogue mengemukakan olahan data Survei Angkatan Kerja Nasional, di mana sampai 2021 terdapat 2,6 juta pekerja yang diklasifikasikan sebagai tenaga kerja digital. Paparan ini memberi narasi bahwa media digital telah menjelma sebagai solusi dalam pentas ekonomi Indonesia.

Disrupsi Digital dan Literasi Digital

Di lain sisi, disrupsi digital yang semakin tidak terbendung membawa pesan tersirat bagi generasi zaman sekarang; muda-mudi yang belakangan disebut kaum milenial. Keberadaan kaum milenial yang berbarengan dengan disrupsi digital menjadikan mereka bak para pelaut yang mesti bersiap menerjang pusaran badai kemajuan.

Entah akan selamat atau karam karena tidak mampu mengimbangi laju peradaban. Kehadiran berbagai telekomunikasi digital mensyaratkan mereka untuk paham literasi digital dan punya kompetensi guna berlayar di jagat maya.

Milenial sendiri merupakan penyebutan bagi generasi yang lahir setelah generasi X. Sebab itu, generasi milenial kerap juga disebut generasi Y. Sebuah majalah berjudul The Me Me Me Generation memuat jika kaum milenial diistilahkan kepada orang-orang yang lahir sejak 1980 hingga awal 2000-an.

Salah satu alasan pemisahan generasi ini ialah karena munculnya tren baru keluarga di mana anggota keluarga yang sedikit mulai disukai oleh banyak orang, khususnya di negara-negara maju. Namun satu hal yang pasti, generasi milenial hadir ke dunia saat internet telah digunakan secara massal.

Tapi di sinilah sebuah masalah baru bermula. Dewasa ini tidak sedikit kaum milenial yang menafsirkan literasi sebagai minat baca saja. Literasi diidentikkan dengan buku dan sekadar bacaan singkat dalam perselancaran dunia maya. Interpretasi semacam ini malah mendistorsi makna literasi itu sendiri.

Karena sejatinya, literasi tidak melulu perihal membaca, namun arena unjuk keahlian; di mana manusia berlatih dalam mendayagunakan akal pikirannya. Tentunya menganggap literasi sebatas aktivitas membaca sama sekali bukan kesalahan. Namun perlu digarisbawahi, literasi terus mengalami reinterpretasi seiring perkembangan zaman.

Salah satu definisi komprehensif mengenai literasi ialah yang dikemukakan oleh National Institute for Literacy, di mana literasi dimaknai sebagai kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.

Makna ini secara eksplisit memuat bahwa sejatinya literasi ialah kondisi ideal seseorang yang mampu bersikap kritis terhadap apa yang dilakukannya dan media yang digunakannya. Karena itu, berbicara tentang literasi digital sama halnya mendiskusikan keahlian dalam menggunakan media digital dengan bijak dan bertanggung jawab. Bukankah hoax yang beredar di berbagai platform media sosial adalah imbas ketidakmampuan berliterasi digital dengan baik?

Beranjak dari realitas ini, milenial adalah kelompok terdepan dalam menghadapi tantangan disrupsi digital. Perubahan mode manual menuju otomatisasi haruslah mampu disikapi dengan baik. Dan tentu solusinya ialah literasi digital. Seorang milenial dituntut memahami pengoperasian media digital dan sisi etisnya sebagai basis benteng pertahanan.

Mesti tanggap menerima informasi dan pandai menganalisis fenomena kemajuan. Entah itu dari media lawas maupun elektronik berbasis internet. Baik sekadar mencari hiburan, apalagi mengonsumsi informasi. Oleh karenanya, sama sekali tidak berlebihan andai dikatakan bahwa melek digital sama pentingnya dengan melek aksara dan buta teknologi sama halnya buta huruf di zaman sekarang.

Lantas pada akhirnya, teruntuk milenial secara khusus dan pembaca pada umumnya, marilah sama-sama merenung. Di tahun 2022 ini, sudah sejauh mana kita memahami literasi digital dan mengaplikasikannya secara nyata?!

***

*Penulis merupakan putra sulung dari pasangan Bapak Amiruddin dan Ibu Rusna. Lahir pada 8 November 2000 di Kota Bakti, Pidie dan menghabiskan masa kanak-kanaknya di Kuala Simpang, Aceh Tamiang. Selain megajar di Dayah Ummul Ayman Samalanga, ia juga fresh graduate STIS Ummul Ayman, Pidie Jaya. Saat ini, di samping menjalani aktivitas hariannya di dayah, pecinta membaca ini juga aktif di salah satu organisasi Banom Nahdlatul Ulama, yaitu PMII Pidie-Pidie Jaya.

**Editor: MAA

Safar; Antara Sial dan Malas Berikhtiar

Loading

oleh: Zatun Nafis*

PERLAHAN namun pasti, tanpa kita sadari, kita sudah melewati bulan Safar. Seperti yang kita ketahui, Safar adalah bulan kedua dalam kalender hijriah. Dari segi bahasa, Safar mempunyai beberapa makna, diantaranya  kosong, kuning dan nama penyakit. Sebagaimana penafsiran Ibnu Katsir dalan surah At-Taubah ayat 36 yang membicarakan tentang bilangan bulan dalam setahun, beliau menjelaskan bahwa alasan dinamakan Safar dalam artian ‘kosong’ karena kebiasaan orang Arab pada zaman dahulu meninggalkan rumah mereka untuk berperang atau bepergian jauh pada bulan tersebut sehingga rumah menjadi kosong. Menurut pendapat lainnya karena mereka banyak memerangi kafilah yang lain dan mengambil harta benda mereka sehingga kafilah tersebut menjadi kosong; tidak lagi mempunyai harta.

Dinamakan Safar dalam artian ‘kuning’ karena biasanya bulan tersebut bertepatan dengan musim panas yang menyebabkan dedaunan menjadi kering dan berwarna kuning. Adapun dinamakan Safar dalam artian ‘nama penyakit’ karena masyarakat Arab pada zaman jahiliyah meyakini adanya penyakit perut yang menyerang unta yang berpindah dari satu unta ke unta yang lain.

Pada zaman itu, masyrakat Arab mempunyai anggapan yang buruk terhadap bulan Safar.Mereka meyakini bulan Safar adalah bulan sial atau dikenal dengan tasya’um (pesimis). Bulan ini diyakini mengandung keburukan-keburukan sehingga mereka takut untuk melakukan hal-hal tertentu. Anggapan ini bahkan menjalar hingga zaman sekarang. Apakah anggapan itu benar atau hanya mitos belaka?

Sebagian orang meyakini hari-hari tertentu itu membawa keberuntungan sedangkan hari-hari yang lain mengandung kesialan. Begitu juga dengan bulan Safar yang diyakini sebagai bulan sial. Padahal sama seperti bulan-bulan lainnya, bulan Safar netral dari kesialan atau ketentuan nasib buruk. Dari Abi Hurairah, Rasulullah SAW pernah bersabda:

لَاعَدْوَ وَلَاطِيَرَةَ وَلَاهَامَةَ وَلَاصَفَرَ وَفِرَّ مِن الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِن الْأَسَدِ

Artinya: “Tidak ada ‘adwa, thiyarah, hamah, safar dan menjauhlah dari orang yang kena penyakit kusta (lepra) sebagaimana kamu menjauh dari singa”. (HR.Bukhari dan Muslim).

Hadis di atas menjelaskan bahwa Nabi menyangkal beberapa keyakinan orang Arab zaman dahulu mengenai takdir, diantaranya yaitu ‘adwa, thiyarah dan hamah. ‘Adwa adalah keyakinan tentang adanya wabah penyakit yang menular dengan sendirinya, tanpa proses sebelumnya dan tanpa izin Allah Swt. Thiyarah adalah keyakinan tentang nasib setelah melihat burung. Dalam masyarakat jahiliyah ada mitos yang mengatakan jika seseorang keluar rumah dan melihat burung terbang di sebelah kanannya, maka tanda nasib baik akan datang.

Tetapi jika seseorang melihat burung terbang di sebelah kirinya, maka tanda nasib sial akan segera menghampirinya sehingga sebaiknya tidak melanjutkan perjalanan. Sedangkan ‘hamah’ adalah sebuah keyakinan bahwa ketika terdapat burung hantu hinggap di atas rumah, maka pertanda nasib sial akan tiba kepada si pemilik rumah tersebut. Begitu juga halnya dengan bulan Safar yang diyakini sebagai bulan yang mendatangkan malapetaka.

Hadis di atas secara umum juga menjelaskan bahwa kebaikan, keburukan, kenikmatan dan musibah tidak disebabkan oleh makhluk apapun melainkan semuanya atas kehendak  Allah. Dalam Islam, tidak ada hari, bulan, atau tahun yang mengandung kesialan, karena waktu itu adalah makhluk Allah. Waktu tidak bisa mengendalikan nasib, tetapi dia berada dalam kendali Allah.

Rasulullah Saw sendiri menyangkal anggapan buruk masyarakat jahiliyah tersebut, sebagaimana Hadits yang telah disebutkan di atas dan juga dengan sejumlah peristiwa penting yang dialami Nabi terjadi pada bulan Safar. Diantaranya yaitu pernikahan Nabi dengan Sayyidah Khadijah, Nabi menikahkan putrinya Sayyidah Fatimah dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, hingga Nabi memulai hijrah dari Mekkah ke Madinah juga pada bulan ini.

Bulan Safar juga identik dengan hari Rabu terakhir di bulannya. Mayoritas masyarakat muslim Indonesia mengadakan beberapa tradisi pada hari tersebut, diantaranya seperti ‘Rabu abeh’ di tanah Aceh, ‘rebo wekasan’ di wilayah Jawa, bahkan ada tradisi membuat ‘tajin sappar’ dari masyarakat Madura yang nantinya dibagikan kepada tetangga sekitar. Semua tradisi tersebut tujuannya adalah meminta perlindungan dan pertolongan dari Allah agar dijauhkan dari segala penyakit dan malapateka yang dipercayai diturunkan pada hari tersebut.

Asal-usul adanya tradisi di hari Rabu terakhir bulan Safar ini bermula dari anjuran Syeikh Ahmad bin Umar Addairabi dalam kitabnya Mujarabat Ad-Dairabi, sebagaimana disebutkan juga dalam kitab Kanzun Najah Was-Surur: seorang ahli kasyaf berkata, “Dalam setiap tahun turun 320.000 bencana.Semua itu terjadi pada hari Rabu terakhir di bulan Safar.

Maka hari itu menjadi hari paling sulit dalam setahun. Maka barang siapa yang mengerjakan shalat 4 rakaat pada hari itu dan membaca dalam setiap rakaat darinya Al-Fatihah, Surah Al-Kautsar 17X, Surah Al-Ikhlas 5X, Surah Muawwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas) 1X, dan membaca doa sehabis salam, maka Allah melindunginya dengan kemurahan-Nya dari semua bencana yang turun di hari itu dan tidak terjadi suatu bencana dari bencana itu hingga tahun itu berakhir.

Ada beberapa amalan juga yang dianjurkan untuk dikerjakan, diantaranya istighfar, sedekah dan berdoa, karena amalan-amalan tersebut dapat menjauhkan dari bala dan malapetaka. Kita juga dianjurkan untuk melakukan setiap pekerjaan dengan perencanaan yang matang dan ikhtiar yang maksimal. Selebihnya adalah berdoa dan tawakal kepada Allah Swt. Sedangkan keberuntungan atau kesialan yang didapat itu merupakan lanjutan dari proses tersebut. Untuk terbebas dari penyakit, kita harus membudayakan hidup bersih dan sehat. Agar lulus ujian, seorang pelajar harus belajar dengan serius dan tekun.

Menolak adanya ‘bulan sial’ itu menjadikan kita sebagai pribadi yang wajar dan tidak malas dalam berikhtiar. Sebagai seorang hamba kita didorong untuk berencana, berusaha dan berjuang. Adapun hasil akhirnya kita serahkan kepada Allah. Dengan demikian ketika kita mendapatkan hasilnya, kita akan bersyukur atas apa yang Allah kehendak. Jika mengalami kegagalan, kita pun tidak langsung berputus asa, karena keberuntungan dan kegagalan itu bisa terjadi kapan saja; tanpa dikaitkan dengan hal apapun, tidak mesti pada bulan-bulan tertentu.

Keberuntungan itu bukan hanya diukur dari segi materialistis saja. Tetapi pada hakikatnya, keberuntungan seorang hamba itu adalah ketika dia bisa mengisi waktunya untuk taat kepada Allah dan melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain. Sebaliknya, kerugian itu terjadi saat seseorang menyia-nyiakan waktunya, termasuk ketika bulan-bulan mulia sekalipun. Bahkan hari sial itu adalah hari dimana seseorang bermaksiat. Tidak ada istilah ‘bulan sial’. Yang ada adalah apakah perbuatan kita membawa maslahat atau mudharat, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik, bisa mengatur waktu untuk hal-hal yang bermanfaat, selalu berusaha, tawakal kepada Allah dan juga bersyukur atas hasil yang didapat. Dengan demikian, kita pun akan merasa bahagia, karena terkadang bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur tetapi dengan bersyukurlah kita akan bahagia. Wassalam.

***

*Penulis merupakan mahasiswi aktif di Semester III Prodi Hukum Keluarga Islam (HKI) STIS Ummul Ayman. Ustadzah kelahiran Lueng Teungoh, Ulee Gle, Pidie Jaya ini adalah putri dari pasangan Tgk. H. Khalid dan Ummi Zahratul Aini. Selain suka menulis, dewan guru di Dayah Ummul Ayman IV ini juga menggemari membaca. Salam Literasi!

**Editor: MAA