Deprecated: Creation of dynamic property OMAPI_Elementor_Widget::$base is deprecated in /home2/milikkit/public_html/wp-content/plugins/optinmonster/OMAPI/Elementor/Widget.php on line 41
Pidie Jaya – Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Ummul Ayman (STIS-UA) resmi mewisuda 168 mahasiswa di ruang STIS-UA, Meurah Dua. Sejumlah wisudawan terdiri dari Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) sebanyak 93 orang dan Hukum Ekonomi Syariah (HES) sebanyak 75 orang.
Dihadapan para wisudawan, orang tua dan sivitas akademika STIS-UA, Pembina Yayasan Ummul Ayman sekaligus Pendiri STIS-UA, Tgk. H. Nuruzzahri Yahya (Syaikhuna Waled Nuruzzahri), menyampaikan banyak pesan penting sebagai bekal dan harapan untuk kemajuan pendidikan dan kehidupan wisudawan kedepannya.
Beberapa pesan penting itu yaitu, pertama: selalu menghormati dan mengenang jasa kedua orang tua dan guru-gurunya. Keberhasilan wisudawan adalah murni dari hidayah dan ma’unah Allah dengan berkat usaha tiga orang, ayah membiayai, ibu menuntun dan guru sebagai mu’allim (pengajar). Waled juga membacakan syair wajib Ummul Ayman yang berisi tentang mengenang jasa ketiga pihak tersebut.
Kedua: wisuda itu bukanlah akhir segalanya. Tapi prosesi itu adalah awal untuk menuju gerbang selanjutnya. Waled mengharap agar wisudawan melanjutkan ke jenjang lebih tinggi lagi. Baik melanjutkan pendidikan formal di perguruan-perguruan tinggi ternama maupun melanjutkan beut di dayah-dayah ternama lainnya. Juga, siapa yang ingin memberantas kejahilan orang lain maka belajar adalah solusinya. Tujuan belajar-beut adalah untuk tidak menipu orang lain dan agar tidak tertipu oleh orang lain.
“Bek sampe bangai, dipeungeut le gop: Bek sampe BL dipeugah bhan likot, BK Bhan keue. Padahai nyan numboi plisi [Jangan sampai kita bodoh, juga dibohongi oleh orang lain; BL dibilang ban belakang dan BK dibilang ban depan. Padahal itu adalah plat nomor polisi],” ujarnya disambut gelak tawa hadirin.
Ketiga: Waled menuntut para wisudawan agar ‘menjadi dari golongan yang sedikit’. Artinya melakukan apapun pekerjaan walaupun untuk saat ini sedikit orang yang mau melakukan pekerjaan itu. Saat ini, menurutnya, banyak sekali lapangan kerja untuk orang-orang bisa bekerja, namun tidak banyak orang yang mau bekerja di sana.
Selain menuntut wisudawan agar selalu menjadi pengajar, pendakwah dengan ucapan dan tindakan, Waled juga meminta mereka agar lebih produktif dan kreatif dalam melihat peluang-peluang perkembangan ekonomi. Menjadi seorang yang bergelar ‘teungku’ menurutnya tak ada istilah pensiun, oleh karena itu harus selalu kreatif dalam melihat peluang itu.
“Meunyo geutanyoe jeut keu teungku, sabe-sabe kerja. Hana pensiun-pensiun [Kalau kita jadi ‘teungku’, selalu bekerja. Tidak ada pensiun-pensiun],” lanjutnya.
Keempat: Waled meminta agar wisudawan memiliki sifat kasih sayang serta toleran dan penuh kebijakan dalam berdakwah. Dengan ilmu dan sifat-sifat tersebutlah yang menyelamatkan seseorang hidup di dunia dan akhirat.
Kelima: Pandai-pandai menjaga diri dan keluarga. Selaku hamba Allah yang hidup di zaman ini, kita seharusnya pandai menjaga diri dari segala fitnah yang melingkari kehidupan, baik dari sisi pemikiran, arah organisasi ataupun dalam hal berpolitik.
“Kita hidup di zaman ini, peradaban kita pasti bergeser, tapi no problem! Jika kita pandai menjaga diri, insya Allah kita pun akan selamat darinya,” tutupnya.
Pidie Jaya – Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Ummul Ayman (STIS-UA) Pidie Jaya menggelar wisuda Angkatan ke-II (29/9). Sebanyak 168 peserta tercatat sebagai lulusan di acara yang berlangsung di kampus STIS-UA, Meurah Dua, Pidie Jaya.
Ketua STIS-UA, Dr. Tgk. Muhammad Zukhdi, Lc., MA menuturkan, segenap wisudawan itu lulusan dari Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) sebanyak 93 orang dan Hukum Ekonomi Syariah (HES) sebanyak 75 orang. Alumnus UIN Ar Raniry ini mengharapkan agar para wisudawan lebih semangat lagi dalam mengembangkan keilmuan dengan melanjutkan ke jenjang berikutnya.
Selain pengukuhan sarjana, acara juga diisi dengan penganugerahan piagam penghargaan kepada empat lulusan terbaik, yakni Mila Raudhatun dan Badratun Nafis dari Prodi HKI serta Rina Gustina dan Bahagia dari Prodi HES.
Wisudawan-waisudawati terbaik berfoto bersama Waled dan tamu-tamu.
Sementara itu, Pj Gubernur Aceh melalui Kepala Dinas Dayah Aceh, Tgk. Zahrol Fajri, S.Ag., MH mengharapkan agar STIS-UA dapat terus mencetak kader ulama Ahlusunnah Waljamaah yang berkonsentrasi tafaqquh fiddin (pendalaman pemahaman ilmu agama) serta berilmu-amaliyah dan beramal-ilmiyah berlandaskan Al Quran dan Al Sunnah.
Keberadaan lembaga ini, lanjutnya, juga bisa membawa manfaat bagi umat Islam. Dengan ilmu yang telah diperoleh di STIS, para wisudawan diharapkan dapat berkontribusi membangun kesadaran masyarakat melalui ide dan pemikiran baik dari segi akidah, ibadah, akhlak maupun muamalah (interaksi) bersama Khaliq dan makhluk.
Selain itu, atas nama pemerintah Aceh, ia juga mendorong agar wisudawan mengambil peran dalam memberikan kontribusi bagi pembangunan aspek religius penguatan syariat Islam di Aceh. Guna perjalanan syariat Islam di Serambi Mekkah ini kembali ke khittahnya.
“Pemerintah Aceh sampai saat ini terus berupaya mengembalikan khitah Aceh sebagai Serambi Mekkah melalui mengimplementasi nilai nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya dengan penguatan pendidikan yang berbasis nilai-nilai dalam pendidikan dan juga memiliki komitmen tinggi terhadap kemajuan pendidikan agama bagi masyarakat di Aceh,” ujarnya.
Acara juga diturut dihadiri disertai dengan kata-kata sambutan dari Wakil Bupati Pidie Jaya, Dr. Tgk. H. Said Mulyadi Al Habsyi, SE., M.Si serta Orasi Ilmiah oleh Koordinator Kopertais Aceh sekaligus Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. Mujiburrahman, M.Ag.
Juga hadir Wakil dan Sekretaris Kopertais Aceh serta Camat Meurah Dua, Pidie Jaya. [MAA]
“Jika dulu uang diperoleh dengan tetesan keringat, maka hari ini uang bisa mengalir melalui tombol subscribe. Jika dulu informasi berjalan tertatih, maka hari ini ia terbang ‘simsalabin’. Demikianlah fenomena kemajuan. Kehadirannya mampu mendisrupsi segala yang ada dan membawanya ke arah keterpanaan.”
Kalimat di atas bertujuan menggiring pembaca pada kenyataan bahwa kemajuan adalah suatu keniscayaan. Hari ini tampak benderang bila peradaban terus bergerak, pemikiran orang-orang kian berkembang, dan salah satu wujud safarnya ialah keadaan di masa sekarang.
Terkait hal tersebut, Yuval Noah Harari, Ph.D. dalam Homo Deus Masa Depan Umat Manusia mencatat dengan begitu rinci bahwa mesin uap adalah penanda revolusi industri 1.0, kemudian penemuan listrik sebagai gerbang modernisasi 2.0.
Kehadiran komputer memberi isyarat masuknya era 3.0 dan periode 4.0 mewujudkan penyempurnaan efisiensi dari penggunaan komputer melalui internet, AI (Artificial Intelligence), teknologi robotik dan big data. Inilah new start yang kemudian kita namai sebagai digitalisasi.
Sekarang sudah 2022, manusia yang hidup sampai detik ini adalah mereka yang berada di penghampiran seperempat abad 21. Tentu banyak fenomena yang terjadi dan tak jarang kita mengakui bila semuanya benar-benar kebaharuan dan begitu mengagumkan.
Manusia telah masuk dalam era otomatisasi, di mana komputer melekat erat pada berbagai sendi aktivitas dewasa ini. Tak cukup hanya di ruang publik, tingkat personal juga terseret untuk ikut beradaptasi. Katakanlah e-KTP, e-money, olshop dan berbagai data digital sejenis yang sama sekali sulit untuk melepas ketergantungan akan hal tersebut.
Pada dasarnya segala bentuk electronik data hanyalah digit format algoritma, namun manusia mampu mengubahnya menjadi galaksi komunikasi dengan berjuta bongkah meteoroid informasi. Inilah yang disebut disrupsi digital, keadaan di mana manusia telah sampai pada masa kemudahan dan kecepatan akses akan segala hal.
Smartphone, sosial media, e-learning, CT Scan, hanyalah seperkecil dari banyak contoh lainnya. Semua perangkat yang memuat data telah hadir dengan koneksi internet sebagai nadi operasionalnya.
Disrupsi Menyertai Kemajuan Peradaban
Disrupsi digital tidak hanya membawa berkah pada aspek komunikasi dengan menghadirkan keterbukaan informasi seluas-luasnya, namun juga berimplikasi pada aspek lainnya semisal pendidikan, kesehatan, ekonomi, politik, sosial dan budaya.
Lihat saja. Di tahun 90-an, orang-orang belum mengenal kuota internet. Para pebisnis tidak dapat membayangkan sejauh mana produknya dapat dipasarkan dalam kurun yang singkat. Jajaran politisi merasa begitu sulit menebar pengaruhnya di kalangan masyarakat. Ketersediaan informasi kesehatan sangat langka di lapisan menengah ke bawah.
Budaya K-Pop yang menjadi trend hari ini bahkan sama sekali tidak dikenal oleh orang Indonesia pada abad 19 sampai pertengahan abad 20. Lantas beberapa dekade setelahnya, barulah digitalisasi mengubah keadaan dunia. Kehadiran digitalisasi mendisrupsi ketidakefektifan yang berlaku pada masa pra dan awal modern, menuntunnya menuju gaya globalisasi termutakhir di mana ruang dan waktu bukan lagi sekat penghambat.
Katakanlah bidang pendidikan dan lapangan kerja. Musibah Covid-19 tiga tahun silam memberi sinyal penting bahwa internet memiliki peran utama dalam mengelak stagnasi ilmu pengetahuan. Metode belajar daring sepenuhnya menggantikan cara luring. Guru dan siswa tidak lagi dalam keterikatan suatu tempat sebagai satu-satunya wadah belajar mengajar. Transfer ilmu pengetahuan boleh terjadi di manapun dan kapanpun yang diperlukan.
Tak jauh berbeda, problematika tenaga kerja juga mengalami hal serupa. Digitalisasi memberi harapan dan ruang gerak baru bagi masyarakat saat pengangguran menjadi masalah utama. M. Syarif Hidayatullah, senior policy analyst in Indonesia Service Dialogue mengemukakan olahan data Survei Angkatan Kerja Nasional, di mana sampai 2021 terdapat 2,6 juta pekerja yang diklasifikasikan sebagai tenaga kerja digital. Paparan ini memberi narasi bahwa media digital telah menjelma sebagai solusi dalam pentas ekonomi Indonesia.
Disrupsi Digital dan Literasi Digital
Di lain sisi, disrupsi digital yang semakin tidak terbendung membawa pesan tersirat bagi generasi zaman sekarang; muda-mudi yang belakangan disebut kaum milenial. Keberadaan kaum milenial yang berbarengan dengan disrupsi digital menjadikan mereka bak para pelaut yang mesti bersiap menerjang pusaran badai kemajuan.
Entah akan selamat atau karam karena tidak mampu mengimbangi laju peradaban. Kehadiran berbagai telekomunikasi digital mensyaratkan mereka untuk paham literasi digital dan punya kompetensi guna berlayar di jagat maya.
Milenial sendiri merupakan penyebutan bagi generasi yang lahir setelah generasi X. Sebab itu, generasi milenial kerap juga disebut generasi Y. Sebuah majalah berjudul The Me Me Me Generation memuat jika kaum milenial diistilahkan kepada orang-orang yang lahir sejak 1980 hingga awal 2000-an.
Salah satu alasan pemisahan generasi ini ialah karena munculnya tren baru keluarga di mana anggota keluarga yang sedikit mulai disukai oleh banyak orang, khususnya di negara-negara maju. Namun satu hal yang pasti, generasi milenial hadir ke dunia saat internet telah digunakan secara massal.
Tapi di sinilah sebuah masalah baru bermula. Dewasa ini tidak sedikit kaum milenial yang menafsirkan literasi sebagai minat baca saja. Literasi diidentikkan dengan buku dan sekadar bacaan singkat dalam perselancaran dunia maya. Interpretasi semacam ini malah mendistorsi makna literasi itu sendiri.
Karena sejatinya, literasi tidak melulu perihal membaca, namun arena unjuk keahlian; di mana manusia berlatih dalam mendayagunakan akal pikirannya. Tentunya menganggap literasi sebatas aktivitas membaca sama sekali bukan kesalahan. Namun perlu digarisbawahi, literasi terus mengalami reinterpretasi seiring perkembangan zaman.
Salah satu definisi komprehensif mengenai literasi ialah yang dikemukakan oleh National Institute for Literacy, di mana literasi dimaknai sebagai kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.
Makna ini secara eksplisit memuat bahwa sejatinya literasi ialah kondisi ideal seseorang yang mampu bersikap kritis terhadap apa yang dilakukannya dan media yang digunakannya. Karena itu, berbicara tentang literasi digital sama halnya mendiskusikan keahlian dalam menggunakan media digital dengan bijak dan bertanggung jawab. Bukankah hoax yang beredar di berbagai platform media sosial adalah imbas ketidakmampuan berliterasi digital dengan baik?
Beranjak dari realitas ini, milenial adalah kelompok terdepan dalam menghadapi tantangan disrupsi digital. Perubahan mode manual menuju otomatisasi haruslah mampu disikapi dengan baik. Dan tentu solusinya ialah literasi digital. Seorang milenial dituntut memahami pengoperasian media digital dan sisi etisnya sebagai basis benteng pertahanan.
Mesti tanggap menerima informasi dan pandai menganalisis fenomena kemajuan. Entah itu dari media lawas maupun elektronik berbasis internet. Baik sekadar mencari hiburan, apalagi mengonsumsi informasi. Oleh karenanya, sama sekali tidak berlebihan andai dikatakan bahwa melek digital sama pentingnya dengan melek aksara dan buta teknologi sama halnya buta huruf di zaman sekarang.
Lantas pada akhirnya, teruntuk milenial secara khusus dan pembaca pada umumnya, marilah sama-sama merenung. Di tahun 2022 ini, sudah sejauh mana kita memahami literasi digital dan mengaplikasikannya secara nyata?!
***
*Penulis merupakan putra sulung dari pasangan Bapak Amiruddin dan Ibu Rusna. Lahir pada 8 November 2000 di Kota Bakti, Pidie dan menghabiskan masa kanak-kanaknya di Kuala Simpang, Aceh Tamiang. Selain megajar di Dayah Ummul Ayman Samalanga, ia juga fresh graduate STIS Ummul Ayman, Pidie Jaya. Saat ini, di samping menjalani aktivitas hariannya di dayah, pecinta membaca ini juga aktif di salah satu organisasi Banom Nahdlatul Ulama, yaitu PMII Pidie-Pidie Jaya.
PERLAHAN namun pasti, tanpa kita sadari, kita sudah melewati bulan Safar. Seperti yang kita ketahui, Safar adalah bulan kedua dalam kalender hijriah. Dari segi bahasa, Safar mempunyai beberapa makna, diantaranya kosong, kuning dan nama penyakit. Sebagaimana penafsiran Ibnu Katsir dalan surah At-Taubah ayat 36 yang membicarakan tentang bilangan bulan dalam setahun, beliau menjelaskan bahwa alasan dinamakan Safar dalam artian ‘kosong’ karena kebiasaan orang Arab pada zaman dahulu meninggalkan rumah mereka untuk berperang atau bepergian jauh pada bulan tersebut sehingga rumah menjadi kosong. Menurut pendapat lainnya karena mereka banyak memerangi kafilah yang lain dan mengambil harta benda mereka sehingga kafilah tersebut menjadi kosong; tidak lagi mempunyai harta.
Dinamakan Safar dalam artian ‘kuning’ karena biasanya bulan tersebut bertepatan dengan musim panas yang menyebabkan dedaunan menjadi kering dan berwarna kuning. Adapun dinamakan Safar dalam artian ‘nama penyakit’ karena masyarakat Arab pada zaman jahiliyah meyakini adanya penyakit perut yang menyerang unta yang berpindah dari satu unta ke unta yang lain.
Pada zaman itu, masyrakat Arab mempunyai anggapan yang buruk terhadap bulan Safar.Mereka meyakini bulan Safar adalah bulan sial atau dikenal dengan tasya’um (pesimis). Bulan ini diyakini mengandung keburukan-keburukan sehingga mereka takut untuk melakukan hal-hal tertentu. Anggapan ini bahkan menjalar hingga zaman sekarang. Apakah anggapan itu benar atau hanya mitos belaka?
Sebagian orang meyakini hari-hari tertentu itu membawa keberuntungan sedangkan hari-hari yang lain mengandung kesialan. Begitu juga dengan bulan Safar yang diyakini sebagai bulan sial. Padahal sama seperti bulan-bulan lainnya, bulan Safar netral dari kesialan atau ketentuan nasib buruk. Dari Abi Hurairah, Rasulullah SAW pernah bersabda:
Artinya: “Tidak ada ‘adwa, thiyarah, hamah, safar dan menjauhlah dari orang yang kena penyakit kusta (lepra) sebagaimana kamu menjauh dari singa”. (HR.Bukhari dan Muslim).
Hadis di atas menjelaskan bahwa Nabi menyangkal beberapa keyakinan orang Arab zaman dahulu mengenai takdir, diantaranya yaitu ‘adwa, thiyarah dan hamah. ‘Adwa adalah keyakinan tentang adanya wabah penyakit yang menular dengan sendirinya, tanpa proses sebelumnya dan tanpa izin Allah Swt. Thiyarah adalah keyakinan tentang nasib setelah melihat burung. Dalam masyarakat jahiliyah ada mitos yang mengatakan jika seseorang keluar rumah dan melihat burung terbang di sebelah kanannya, maka tanda nasib baik akan datang.
Tetapi jika seseorang melihat burung terbang di sebelah kirinya, maka tanda nasib sial akan segera menghampirinya sehingga sebaiknya tidak melanjutkan perjalanan. Sedangkan ‘hamah’ adalah sebuah keyakinan bahwa ketika terdapat burung hantu hinggap di atas rumah, maka pertanda nasib sial akan tiba kepada si pemilik rumah tersebut. Begitu juga halnya dengan bulan Safar yang diyakini sebagai bulan yang mendatangkan malapetaka.
Hadis di atas secara umum juga menjelaskan bahwa kebaikan, keburukan, kenikmatan dan musibah tidak disebabkan oleh makhluk apapun melainkan semuanya atas kehendak Allah. Dalam Islam, tidak ada hari, bulan, atau tahun yang mengandung kesialan, karena waktu itu adalah makhluk Allah. Waktu tidak bisa mengendalikan nasib, tetapi dia berada dalam kendali Allah.
Rasulullah Saw sendiri menyangkal anggapan buruk masyarakat jahiliyah tersebut, sebagaimana Hadits yang telah disebutkan di atas dan juga dengan sejumlah peristiwa penting yang dialami Nabi terjadi pada bulan Safar. Diantaranya yaitu pernikahan Nabi dengan Sayyidah Khadijah, Nabi menikahkan putrinya Sayyidah Fatimah dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, hingga Nabi memulai hijrah dari Mekkah ke Madinah juga pada bulan ini.
Bulan Safar juga identik dengan hari Rabu terakhir di bulannya. Mayoritas masyarakat muslim Indonesia mengadakan beberapa tradisi pada hari tersebut, diantaranya seperti ‘Rabu abeh’ di tanah Aceh, ‘rebo wekasan’ di wilayah Jawa, bahkan ada tradisi membuat ‘tajin sappar’ dari masyarakat Madura yang nantinya dibagikan kepada tetangga sekitar. Semua tradisi tersebut tujuannya adalah meminta perlindungan dan pertolongan dari Allah agar dijauhkan dari segala penyakit dan malapateka yang dipercayai diturunkan pada hari tersebut.
Asal-usul adanya tradisi di hari Rabu terakhir bulan Safar ini bermula dari anjuran Syeikh Ahmad bin Umar Addairabi dalam kitabnya Mujarabat Ad-Dairabi, sebagaimana disebutkan juga dalam kitab Kanzun Najah Was-Surur: seorang ahli kasyaf berkata, “Dalam setiap tahun turun 320.000 bencana.Semua itu terjadi pada hari Rabu terakhir di bulan Safar.
Maka hari itu menjadi hari paling sulit dalam setahun. Maka barang siapa yang mengerjakan shalat 4 rakaat pada hari itu dan membaca dalam setiap rakaat darinya Al-Fatihah, Surah Al-Kautsar 17X, Surah Al-Ikhlas 5X, Surah Muawwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas) 1X, dan membaca doa sehabis salam, maka Allah melindunginya dengan kemurahan-Nya dari semua bencana yang turun di hari itu dan tidak terjadi suatu bencana dari bencana itu hingga tahun itu berakhir.
Ada beberapa amalan juga yang dianjurkan untuk dikerjakan, diantaranya istighfar, sedekah dan berdoa, karena amalan-amalan tersebut dapat menjauhkan dari bala dan malapetaka. Kita juga dianjurkan untuk melakukan setiap pekerjaan dengan perencanaan yang matang dan ikhtiar yang maksimal. Selebihnya adalah berdoa dan tawakal kepada Allah Swt. Sedangkan keberuntungan atau kesialan yang didapat itu merupakan lanjutan dari proses tersebut. Untuk terbebas dari penyakit, kita harus membudayakan hidup bersih dan sehat. Agar lulus ujian, seorang pelajar harus belajar dengan serius dan tekun.
Menolak adanya ‘bulan sial’ itu menjadikan kita sebagai pribadi yang wajar dan tidak malas dalam berikhtiar. Sebagai seorang hamba kita didorong untuk berencana, berusaha dan berjuang. Adapun hasil akhirnya kita serahkan kepada Allah. Dengan demikian ketika kita mendapatkan hasilnya, kita akan bersyukur atas apa yang Allah kehendak. Jika mengalami kegagalan, kita pun tidak langsung berputus asa, karena keberuntungan dan kegagalan itu bisa terjadi kapan saja; tanpa dikaitkan dengan hal apapun, tidak mesti pada bulan-bulan tertentu.
Keberuntungan itu bukan hanya diukur dari segi materialistis saja. Tetapi pada hakikatnya, keberuntungan seorang hamba itu adalah ketika dia bisa mengisi waktunya untuk taat kepada Allah dan melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain. Sebaliknya, kerugian itu terjadi saat seseorang menyia-nyiakan waktunya, termasuk ketika bulan-bulan mulia sekalipun. Bahkan hari sial itu adalah hari dimana seseorang bermaksiat. Tidak ada istilah ‘bulan sial’. Yang ada adalah apakah perbuatan kita membawa maslahat atau mudharat, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.
Semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik, bisa mengatur waktu untuk hal-hal yang bermanfaat, selalu berusaha, tawakal kepada Allah dan juga bersyukur atas hasil yang didapat. Dengan demikian, kita pun akan merasa bahagia, karena terkadang bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur tetapi dengan bersyukurlah kita akan bahagia. Wassalam.
***
*Penulis merupakan mahasiswi aktif di Semester III Prodi Hukum Keluarga Islam (HKI) STIS Ummul Ayman. Ustadzah kelahiran Lueng Teungoh, Ulee Gle, Pidie Jaya ini adalah putri dari pasangan Tgk. H. Khalid dan Ummi Zahratul Aini. Selain suka menulis, dewan guru di Dayah Ummul Ayman IV ini juga menggemari membaca. Salam Literasi!
Meureudu – Setelah sukses menggelar Yudisium perdananya tahun 2021 lalu, Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Ummul Ayman kembali menggelar yudisium. Acara pengukuhan gelar angkatan ke-II ini berlangsung di aula kantor Bupati Pidie Jaya, Meureudu, Senin (12/09/2022).
Sebanyak 168 mahasiswa-mahasiswi STIS Ummul Ayman diyudisium. Terdiri dari 93 lulusan dari Prodi Hukum Keluarga Islam (HKI) dan 75 orang dari prodi Hukum Ekonomi Syariah (HES). Hal itu disampaikan oleh Ketua Panitia, Tgk Husaini, M.Ag dalam sambutannya.
Wakil Ketua III STIS, Tgk. Syeh Khaliluddin, MA dalam sambutannya menyemangatkan peserta yusidium agar melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Kedepannya, perkembangan ilmu pengetahuan semakin ketat sehingga peserta yusidium perlu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi lagi.
“Cukup banyak hal yang harus kita ketahui, tapi yang kita ketahui saat ini masih sedikit. Maka janganlah kita merasa cukup dalam menuntut ilmu. Harapan saya kepada seluruh peserta agar lebih bersemangat lagi untuk melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi lagi!” ujarnya.
Sementara itu, Ketua STIS-UA, Dr. Tgk. H. Muhammad Zukhdi, Lc., MA mengharapkan agar peserta yudisium selalu menjaga almamater STIS dengan selalu mengaplikasikan nilai-nilai islami serta berakhlakul karimah sebagaimana yang telah dipelajari di dayah dan kampus.
Teungku yang kerap disapa dengan Baba Zukhdi ini juga menuntut para peserta agar selalu mengembangkan potensi diri serta mengusulkan agar segera melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
“Tidak ada istilah terlambat dalam hal belajar ilmu agama. Ada banyak contoh rekan-rekan saya yang umurnya sudah memasuki usia senja namun tetap belajar di bangku-bangku perkuliahan,” ujarnya
Tidak lupa pula Ketua STIS berpesan agar selalu mendoakan kepada Allah agar ilmu yang di dapat selama belajar di Ummul Ayman menjadi manfaat bagi dirinya dan orang sekitar.
Acara yang dimulai pukul 09.00 berakhir pada 12.15 WIB turut dihadiri segenap Wakil Ketua I, II dan III STIS, Ketua Unit Pengembangan Pendidikan dan Penjaminan Mutu (UP3M), Dr (cand) Tgk Deni Mulyadi, MA, Kabag Pustaka serta segenap civitas akademika STIS Ummul Ayman. Selamat kepada para peserta yudisium. Semoga ilmunya berkah. [AB/MAA]
Meurah Dua – Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Ummul Ayman (STIS-UA) menggandeng Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) selenggarakan kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) bagi mahasiswa-mahasiswi baru. Acara dengan mengusung tema Mewujudkan Mahasiswa yang ‘Intelektual, Moderat dan Aswaja (IMODAS)’ itu berlangsung pada 5-6 September di kampus STIS Ummul Ayman, kompleks Dayah Mahasiswa Ummul Ayman III, Desa Meunasah Bie, Meurah Dua, Pidie Jaya.
Acara dihadiri langsung oleh Ketua STIS-UA, Dr. Muhammad Zukhdi, Lc., MA, Wakil Ketua I, Tgk. Januddin, MA, Wakil Ketua II, Dr. Tgk. Mahdir Muhammad, MA, Wakil Ketua III, Tgk. Syeh Khaliluddin, MA, Ketua Unit Pengembangan Pendidikan dan Penjaminan Mutu (UP3M), Tgk Deni Mulyadi., MA serta para dosen dan segenap civitas kampus.
Ketua STIS-UA, Dr. Muhammad Zukhdi, Lc., MA dalam sambutannya mengulas makna dari tema yang diangkat tahun ini. Ia juga menuntut calon mahasiswa-mahasiswi baru itu agar lebih terbuka wawasannya disertai dengan pemikiran yang moderat serta amaliah dalam kehidupan sehari-hari yang berlandaskan nilai-nilai ahlussunnah waljamaah (Aswaja).
“Nah seperti Ahlusunnah Waljamaah ini, ini kan sebagaimana yang telah ditempuh oleh mayoritas ulama kita di Indonesia. Kita tidak bisa menampik bahwa kekokohan pondasi agama dan kemasyhuran Islam di Indonesia, terlebih di Aceh saat ini tak lepas dari peran Aswaja.
Potret Ketua STIS-UA bersama Wakil I dan Wakil III, Ketua UP3M dan Ketua Panitia PBAK
Sementara moderat’ menurutnya, tidak ekstrim dalam berpikir dan tidak kolot dalam menggunakan logika.
“Hal itu juga termanifestasikan dalam tingkah dan bertutur kata yang tidak mudah untuk meyalahkan orang lain. Ketiga poin tema itu adalah bentuk kita mengikuti perkembangan zaman serta menjaga keutuhan NKRI ini juga,” ujarnya.
Sementara Tgk Syekh Khaliluddin, Wakil Ketua III STIS yang membidangi bagian Kemahasiswaan mengungkapkan bahwa tujuan PBAK ini adalah untuk menciptakan karakter mahasiswa yang moderat. Tujuan pendidikan adalah membentuk karakter, yakni kepribadian dan disiplin waktu. Sikap ini tentu harus dimiliki oleh setiap mahasiswa.
“PBAK ini bukan serimonial semata. Namun ada nilai dan pesan yang disampaikannya, terutama terkait dengan budaya akademik serta mengajak calon mahasiswa baru agar lebih intelek, moderat dan Aswaja,” ujarnya.
Serangkaian acara berupa pengenalan budaya kampus, akademik, struktural, perlombaan karya tulis ilmiah serta hal-hal lain yang bersangkutan dengan dunia akademik itu berakhir pada Selasa, (6/9).
Peserta PBAK khidmat mengikuti serangkaian acara
Sementara itu, Ketua DEMA, Tgk Martunis mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh pihak yang telah ikut berpartisipasi dalam menyukseskan serangkaian acara. Ia berharap melalui PBAK ini rekan-rekan calon mahasiswa-mahasiswi STIS memahami benar dunia kampus dan ilmu yang didapatkan bisa mensinergikan dengan ilmu yang mereka dapatkan di dayah.
“Agar calon-calon mahasiswa mengenal kebudayaan kampus dan melahirkan sosok-sosok pemuda yang berintelektual tinggi, moderat dan berlandaskan nilai-nilai Aswaja,” ujarnya.
Wakil Ketua II, Dr. Tgk Mahdir Muhammad, MA menyampaikan orasi di acara puncak penutupan PBAK
Sementara itu, Wakil Ketua II, Dr. Mahdir Muhammad, MA mengharap agar mahasiswa-mahasiswi STIS UA mampu menjunjung tinggi nilai-nilai syariah dengan akhlak yang baik serta mampu bersaing di dalam dunia pendidikan di era 5.0 ini.
“Harapannya semoga mahasiswa-mahasiswi STIS Ummul Ayman harus tetap menjunjung tinggi nilai-nilai syariah, berakhlakul karimah dan mampu bersaing dalam dunia pendidikan di era 5.0 ini,” ujar Teungku alumnus doktoral UIN Malang ini. [MAA]