Deprecated: Creation of dynamic property OMAPI_Elementor_Widget::$base is deprecated in /home2/milikkit/public_html/wp-content/plugins/optinmonster/OMAPI/Elementor/Widget.php on line 41

Jangan Nyaman dengan Ketidaktahuan: Refleksi Sumpah Pemuda di Era Digital

Loading

Oleh: Dr. Tgk. Mahdir Muhammad — Wakil Ketua II STIS Ummul Ayman Pidie Jaya 

Setiap 28 Oktober, bangsa Indonesia kembali mengenang ikrar agung para pemuda tahun 1928 yang menyatukan tekad: bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu—Indonesia. Namun, di tengah peringatan yang sarat makna itu, ada refleksi penting bagi generasi masa kini: apakah semangat Sumpah Pemuda masih hidup dalam diri kita, atau justru telah terkubur oleh kenyamanan zaman digital?

Tantangan pemuda hari ini bukan lagi melawan penjajahan fisik, melainkan melawan ketidaktahuan yang diselimuti kenyamanan. Ironisnya, di era ketika pengetahuan tersedia dalam genggaman, banyak anak muda justru kehilangan gairah belajar. Mereka lebih hafal nama selebritas daripada tokoh nasional, lebih aktif di media sosial daripada di ruang gagasan. Ketidaktahuan yang dinikmati ini jauh lebih berbahaya, karena membuat seseorang merasa cukup tanpa ilmu, puas tanpa pencarian, dan tenang tanpa kebenaran.

Padahal, Islam menegaskan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim). Maka, menjadi pemuda beriman berarti tidak boleh berhenti belajar dan berpikir. Pemuda sejati bukan mereka yang sibuk tampil, tetapi mereka yang sibuk menyiapkan diri — membekali akal dan hati untuk berkontribusi bagi umat dan bangsa.

Sumpah Pemuda seharusnya menjadi momentum untuk meneguhkan tekad: bangkit dari ketidaktahuan, menolak kemalasan intelektual, dan menumbuhkan semangat literasi yang berlandaskan iman. Pemuda Indonesia harus berani berpikir kritis, namun tetap berakhlak; berani memanfaatkan teknologi, namun tetap menjaga nilai. Di tengah derasnya arus kecerdasan buatan, pemuda Muslim harus membuktikan bahwa kecerdasan sejati bukan terletak pada mesin, melainkan pada hati yang terdidik dan akal yang tercerahkan.

Kini, saatnya generasi muda berhenti nyaman dengan ketidaktahuan. Mari hidupkan kembali semangat para pemuda 1928 dengan cara baru: menyalakan obor ilmu di tengah kegelapan digital, menghidupkan nilai keislaman di tengah modernitas, dan mengabdikan diri untuk kemajuan bangsa. Sebab, bangsa yang besar bukan hanya karena kekuatan senjatanya, melainkan karena ketajaman ilmunya dan keluhuran imannya. []

Pidie Jaya Menuju Peradaban Qur’ani: Sinergi Tradisi dan Teknologi Lewat MTQ Aceh

Loading

Oleh: Dr. Tgk. Mahdir Muhammad, S.HI., M.A*

PIDIE JAYA menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Provinsi Aceh, sebuah momentum penting untuk meneguhkan kembali semangat masyarakat Qur’ani di tengah arus modernitas. MTQ bukan hanya ajang perlombaan membaca ayat suci, tetapi juga ruang pembelajaran bersama untuk menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sosial, pendidikan, dan budaya masyarakat. Melalui kegiatan ini, Pidie Jaya menegaskan identitasnya sebagai daerah religius yang terus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan akar spiritualnya.

Di era digital dan kecerdasan buatan, membaca Al-Qur’an tidak lagi terbatas pada tilawah di mimbar, tetapi juga pada kemampuan menafsirkan pesan ilahi dalam konteks teknologi dan perubahan sosial. Semangat “Iqra’” kini menuntun umat untuk membaca dunia melalui cahaya wahyu. MTQ menjadi sarana strategis untuk melahirkan generasi Qur’ani yang bukan hanya fasih melantunkan ayat, tetapi juga kreatif memanfaatkan teknologi untuk dakwah, pendidikan, dan literasi spiritual di ruang digital.

Sinergi antara tradisi dan teknologi menjadi kunci membangun peradaban Qur’ani masa depan. Pidie Jaya, dengan warisan dayah yang kuat dan semangat gotong royong masyarakatnya, memiliki potensi besar untuk menjadi pelopor gerakan Qur’ani berbasis digital. Dengan dukungan pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan ulama, MTQ dapat melahirkan generasi yang tidak hanya menjaga kemurnian bacaan, tetapi juga menyalurkan nilai-nilai Qur’an melalui media modern yang menjangkau lintas generasi.

Oleh karena itu, MTQ Aceh di Pidie Jaya hendaknya tidak berhenti pada seremonial tahunan. Ia harus menjadi gerakan moral dan kultural yang menghidupkan Al-Qur’an dalam kehidupan nyata. Dari panggung MTQ, mari kita bangun peradaban Qur’ani yang mampu menyinergikan wahyu dan teknologi, zikir dan pikir, sehingga cahaya Al-Qur’an senantiasa menuntun langkah masyarakat Aceh menuju masa depan yang berkeadaban. []

*Penulis merupakan Wakil Ketua II STIS Ummul Ayman, Pidie Jaya.

Lolos Program Pengkaderan Teungku Inong Aceh, Ini Harapan Bendahara YBHK Ummul Ayman

Bendahara sekaligus Advokat YBHK Ummul Ayman, Zuriah, S.Sy., M.H sedang mempresentasikan Peran Ulama Perempuan Aceh dan kiprahnya dari masa ke masa. []

Loading

Pidie Jaya – Kabar membanggakan datang dari lingkungan Yayasan Bantuan Hukum dan Konsultasi (YBHK) Ummul Ayman. Salah satu pengurus sekaligus Advokat di YBHK, Zuriah, S.Sy., M.H, berhasil lolos seleksi pada Program Pendidikan Pengkaderan Ulama Perempuan (PUP – Teungku Inong). Saat ini, Zuriah juga menjabat sebagai Bendahara di YBHK.

Program yang berlangsung sejak Kamis-Minggu (09-12 Oktober) yang digagas oleh Perhimpunan Rahima (Pusat Pendidikan dan Informasi Islam & Hak-Hak Perempuan) ini merupakan upaya penguatan dan meningkatkan kapasitas perempuan Aceh agar menjadi pemimpin yang berdaya, berkarakter dan berpengaruh dalam berbagai bidang sosial-keagamaan, bertempat di Hotel Hip-Hop, Banda Aceh.

Kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan kapasitas peserta sebagai calon ulama perempuan Aceh agar memahami metode pendidikan orang dewasa yang menghargai kemanusiaan, memiliki kesadaran terhadap isu-isu sosial, ketimpangan gender serta persoalan kesehatan reproduksi dan seksual di masyarakat.

“Selain itu, juga untuk menumbuhkan pemahaman tentang kesetaraan dan keadilan gender dalam perspektif Islam,” ujarnya.

Dari ratusan pendaftar, lanjut Zuriah, hanya 23 peserta terpilih yang berhasil melewati proses seleksi ketat, termasuk tahap administrasi dan wawancara mendalam. Para peserta yang lolos akan mengikuti serangkaian pendidikan yang dilaksanakan dalam tiga seri pelatihan offline selama empat hari, dengan fokus pada pengembangan kepemimpinan, komunikasi strategis, serta peran perempuan dalam pembangunan masyarakat.

Mengenai keikutsertaannya, Dosen Hukum di STIS Ummul Ayman ini menyampaikan harapannya semoga bersama Tengku Inong (Ulama Perempuan) lainnya nantinya dapat mengadvokasi hak-hak perempuan di Aceh. Menurutnya, Tengku Inong Aceh telah dikenal sejak dahulu, bahkan sebelum Barat Melakukan emansipasi, di Aceh para perempuan Aceh telah terlebih dahulu berkiprah secara publik, menjadi pemimpin perang, menjadi diplomat, bahkan menjadi pimpinan pesantren-pesantren.

“Sebagai contoh misalnya Tengku Fakinah di Aceh Besar dan Pocut Baren mereka menjadi pimpinan Dayah dan menjadi panglima perang sekaligus. Aceh menjadi rule model untuk dunia bahwa perempuan Aceh punya sejarah yang luar biasa sehingga dikenang sepanjang masa,” ujarnya dengan penuh semangat.

Sementara itu, Ketua YBHK, Muzakir, M.H., P.hD (cand)  turut menyampaikan apresiasi atas capaian ini. “Kami bangga atas pencapaian Ibu Zuriah. Semoga pengalaman yang diperoleh melalui program ini menjadi inspirasi dan memberikan dampak positif bagi kemajuan pendidikan dan pemberdayaan perempuan di lingkungan Ummul Ayman,” ujar Muzakir.

[Humas STIS]

Perpustakaan STIS Ummul Ayman Terima Kunjungan Literasi Siswa MIN 13 Pidie Jaya

Loading

Meurah Dua – Dalam upaya menumbuhkan budaya literasi sejak dini, siswa-siswi MIN 13 Pidie Jaya melakukan kunjungan edukatif ke Perpustakaan Kampus STIS Ummul Ayman, Jumat (10/10/2025). Kegiatan ini diikuti oleh siswa terpilih yang memiliki bakat dalam menulis cerita anak, dongeng, serta kisah-kisah inspiratif seperti riwayat para Nabi.

Tur literasi ini dipandu oleh Ibu Mirnani, S.Pd.I., M.A, guru sekaligus pembimbing literasi di MIN 13 Pidie Jaya. Beliau menyampaikan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk memperkenalkan dunia kepustakaan kepada para siswa, mengembangkan kecintaan terhadap buku, dan membentuk kebiasaan membaca sebagai fondasi utama dalam proses menulis.

“Ketika anak-anak menyukai membaca, maka mereka akan kaya ide. Dari situlah benih-benih penulis akan tumbuh. Inilah yang kami tanamkan,” ujarnya.

Rombongan siswa disambut hangat oleh Kepala Perpustakaan STIS Ummul Ayman, Bapak Rizki Ramadhan, S.IP, dan Ketua Penjaminan Mutu Kampus, Dr. Deni Mulyadi, M.A. Dalam sambutannya, Bapak Rizki menegaskan bahwa Perpustakaan STIS Ummul Ayman tidak hanya ditujukan bagi mahasiswa internal kampus, melainkan juga terbuka secara luas untuk publik, termasuk pelajar dari berbagai sekolah di wilayah Pidie Jaya dan sekitarnya.

“Kami sangat terbuka untuk semua kalangan. Perpustakaan ini bisa diakses oleh siapa pun yang ingin membaca, belajar, dan berkembang. Tidak terbatas pada mahasiswa kami saja, tapi juga untuk pelajar dan masyarakat umum,” jelas Bapak Rizki.

Hal senada disampaikan oleh Dr. Deni Mulyadi, yang menyampaikan bahwa keterbukaan akses menjadi salah satu ciri kampus yang adaptif dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.

“Memberikan ruang kepada pelajar dan masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas perpustakaan adalah bagian dari indikator peningkatan mutu institusi. Kampus ini adalah bagian dari masyarakat, dan sudah seharusnya memberi manfaat kembali kepada masyarakat, khususnya di Pidie Jaya,” tambahnya.

Kegiatan ditutup dengan tur keliling perpustakaan, sesi membaca bersama dan diskusi santai bersama pustakawan. Para siswa tampak antusias dan terinspirasi setelah melihat langsung koleksi buku yang beragam dan suasana belajar yang mendukung.

Dengan adanya kegiatan seperti ini, STIS Ummul Ayman terus memperkuat peran strategisnya sebagai pusat literasi terbuka yang tidak hanya mendukung mahasiswa internal, tetapi juga berkontribusi langsung dalam meningkatkan budaya baca dan tulis di kalangan pelajar daerah. [Humas]

STIS Ummul Ayman dan Kemenag Bireuen Jalin Kerja Sama Penguatan Pendidikan Islam

Loading

Pidie Jaya, 6 Oktober 2025 — Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Ummul Ayman Pidie Jaya menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bireuen dalam upaya memperkuat sinergi antara lembaga pendidikan tinggi Islam dan instansi pemerintah dalam bidang pengembangan pendidikan, penelitian serta pengabdian kepada masyarakat.

Penandatanganan kerja sama ini berlangsung di kantor Kemenag Bireuen, Senin (6/10/2025), yang dihadiri oleh Ketua STIS Ummul Ayman Dr. Tgk. H. M. Zukhdi, Lc., M.A., yang ditemani Wakil Ketua I, Dr. Tgk. Januddin, MA bersama Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bireuen, Dr. H. Zulkifli, M.Pd, beserta beberapa jajaran pejabat struktural dari kedua lembaga.

Dalam sambutannya, Ketua STIS Ummul Ayman, Dr. Zukhdi, menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis dalam memperluas jejaring kelembagaan dan meningkatkan kontribusi perguruan tinggi dalam pembangunan sumber daya manusia berbasis nilai-nilai keislaman.

“Kami berinisiatif menjalin kerja sama baik ini sebagai wujud komitmen STIS Ummul Ayman Pidie Jaya dalam mendukung penguatan moderasi beragama dan peningkatan mutu pendidikan Islam,” ujarnya sebagaimana yang diterima oleh STIS Post.

Dr. Zukhdi juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara lembaga pendidikan tinggi Islam dan Kementerian Agama untuk menghadirkan inovasi di dunia pendidikan keagamaan.

Ruang lingkup kerja sama ini mencakup program menempatkan mahasiswa-mahasiswi STIS Ummul Ayman di kantor Kemenag dalam untuk mengikuti program magang di bawah binaan Kementerian Agama Kabupaten Bireuen.

Acara penandatanganan ini berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan diakhiri dengan sesi foto bersama serta ramah tamah. Dengan terjalinnya kerja sama ini, STIS Ummul Ayman berharap dapat memperluas perannya dalam membina generasi muda yang berilmu, berakhlak, dan siap berkontribusi bagi kemajuan umat dan bangsa, khususnya di bidang pendidikan Islam dan peningkatan mutu peserta didik. [Humas].

Tingkatkan Kualitas Pengelolaan Perguruan Tinggi, STIS-UA Pidie Jaya Gelar Workshop

Loading

Meurah Dua – Dalam rangka meningkatkan kualitas pengelolaan dan daya saing perguruan tinggi swasta di tengah tantangan era disrupsi, Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Ummul Ayman menggelar Workshop Strategi Pengembangan dan Pengelolaan Perguruan Tinggi Swasta dengan menghadirkan narasumber utama, Prof. Dr. Azhari Yahya, SH, MCL, MA, seorang pakar hukum dan pendidikan tinggi nasional dari USK.

Workshop yang mengusung tema “Strategi Pengembangan dan Pengelolaan Perguruan Tinggi Swasta di Era Disrupsi” ini diikuti oleh pimpinan perguruan tinggi, dosen dan tenaga kependidikan di Auditorium STIS-UA, Senin (06/10/2025). Dalam pemaparannya, Prof. Azhari menekankan bahwa pengembangan institusi pendidikan tinggi harus dimulai dari akar utamanya, yaitu Program Studi (Prodi).

“Kalau ingin kampus maju, mulai dari pembenahan Prodi. Di sanalah inti pendidikan berjalan. Akreditasi institusi pun sangat ditentukan oleh kekuatan dan kinerja Prodi,” tegasnya.

Prof. Azhari juga mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah kampus sangat bergantung pada komitmen dan integritas pimpinan kampus. Ketua dan jajaran pengurus merupakan aktor utama yang menjadi sorotan dalam menjalankan visi-misi institusi.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan pentingnya perumusan visi, misi, strategi pencapaian, dan tujuan institusi yang realistis dan terukur. Selain itu, kerjasama antar lembaga tidak cukup hanya sebatas penandatanganan MoU. Yang lebih penting adalah implementasi nyata dari setiap kerjasama.

Dalam hal peningkatan mutu akademik mahasiswa, Prof. Azhari menyarankan beberapa langkah strategis: pertama, mahasiswa diwajibkan menulis dan mempublikasikan artikel di jurnal-jurnal, kedua, mendorong keberadaan Jurnal Mahasiswa yang dikelola oleh dosen non-struktural, ketiga, menyediakan ruang khusus seperti Pojok UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) sebagai wadah kreativitas dan organisasi mahasiswa, selanjutnya, mendorong pencapaian prestasi mahasiswa baik dari sisi akademik maupun non-akademik.

Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya pelacakan alumni sebagai bagian dari sistem evaluasi dan perbaikan berkelanjutan dalam sistem pendidikan tinggi. Dalam aspek bimbingan skripsi, Prof. Azhari menyarankan pembatasan jumlah bimbingan kepada maksimal pendampingan agar kualitas pendampingan tetap terjaga.

Sebagai penutup, beliau menggarisbawahi pentingnya kolaborasi dalam pengembangan institusi. Kampus tidak boleh bekerja secara terpisah atau “jalan sendiri”, tetapi harus membangun jejaring yang kuat, baik internal maupun eksternal. Workshop ini menjadi refleksi penting bagi seluruh civitas akademika untuk memperkuat fondasi institusi dan bergerak adaptif menghadapi dinamika zaman. [Humas].