Deprecated: Creation of dynamic property OMAPI_Elementor_Widget::$base is deprecated in /home2/milikkit/public_html/wp-content/plugins/optinmonster/OMAPI/Elementor/Widget.php on line 41

Menilik Gelora Maulid Khatamul Anbiya

Loading

Oleh: Aisyatul Fujar*

SABTU, 8 Oktober 2022 lalu bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1444 H segenap kaum muslimin memperingati kelahiran kekasih Allah, Nabi Muhammad Saw. Meski taka sing lagi sejarah tentangnya, namun, saya rasa tidak ada salahnya kita mengingat dan mengenang kembali beliau; Nabi kita yang selalu mengingat kita (baca: umatnya), yang selalu menyebut-nyebut kita, padahal beliau tidak pernah bertemu dengan kita.

Nabi Muhammad Saw lahir di Makkah pada hari Senin 12 Rabiul Awal tahun 571 M (sekitar 1450 tahun yang lalu) yang sering disebut dengan ‘tahun gajah’. Beliau terlahir dalam keadaan yatim. Tak lama, sang ibunda pun menyusul ayahandanya. Beliaupun yatim piatu. Saat itu Rasulullah diasuh oleh sang kakek, Abdul Muthalib hingga masa remajanya.

Tak lama kemudian, sang kakek pun meninggalkannya. Hak asuh pun berpindah kepada pamannya, Abu Thalib  hingga Nabi beranjak dewasa menjadi pribadi yang baik dan cerdas. Sejak kecil hingga dewasa beliau tidak pernah merepotkan orang lain dan terjaga dari perbuatan yang merugikan sekitarnya.

Menjelang usia dewasa, nabi mulai menekuni dunia bisnis. Beliau menjalin kerja sama bisnis bersama wanita kaya raya yakni Siti Khadijah. Banyaknya kegiatan perdagangan yang melibatkan mereka berdua, membuat Khadijah merasa tertarik kepada Rasulullah. Khadijah pun akhirnya mengutus seorang sahabatnya untuk menyampaikan keinginannya melamar Muhammad. Nabi pun menyampaikan kabar gembira ini kepada paman-pamannya. Salah satunya yakni, Hamzah bin Abdul Muthalib.

Pamannya lantas mendatangi rumah Khuwailid bersama dengan nabi tentunya untuk melamar Khadijah. Maka menikahlah  Nabi dan Khadijah dengan tautan usia yang jauh berbeda. Usia Rasulullah lebih muda 15 tahun dari Khadijah, karena dalam satu riwayat disebutkan bahwa nabi menikah dengan Khadijah ketika berusia 25 tahun sedangkan Khadijah berusia 40 tahun.

Menjelang usianya yang ke 40 tahun, beliau sudah terbiasa memisahkan diri dari pergaulan masyarakat, dengan mengasingkan diri ke Gua Hira’. Mula-mula nabi berada di sana berjam-jam hingga kemudian berhari-hari untuk bertafakur. Bertepatan pada tanggal 17 Ramadhan, malaikat Jibril menyampaikan wahyu Allah yang pertama kepada beliau yang berarti Muhammad telah menjadi nabi. Namun, dalam wahyu pertama ini belum diperintahkan untuk menyeru manusia kepada suatu agama.

Setelah wahyu pertama datang, Jibril tidak muncul lagi untuk beberapa lama, sementara Nabi Muhammad menantikannya dan selalu datang ke Gua Hira’. Dalam keadaan menanti itulah turun wahyu yang membawa perintah kepadanya. Wahyu itu berbunyi sebagai berikut:“ Hai orang yang berselimut, bangun dan beri ingatlah. Hendaklah engkau besarkan Tuhanmu dan bersihkanlah pakaianmu, tinggalkanlah perbuatan dosa, dan janganlah engkau memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak dan untuk (memenuhi peintah) Tuhanmu bersabarlah.” (Al-Mudattsir: 1-7).

Dengan turunnya perintah itu, mulailah Rasulullah berdakwah. Dimulai dengan menyampaikannya kepada kerabat terdekat karena beliau masih berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Hingga akhirnya turun perintah Allah yang mengharuskan nabi untuk berdakwah secara terang-terangan. Namun masyarakat Makkah tidak menerima dengan baik dakwah Rasulullah. Begitu banyak lika-liku nabi memperjuangkan agama Allah pada masa itu. Segala cacian, hinaan, beliau hadapi dengan sabar tanpa pernah mengeluh dan memaksa mereka memeluk agama Islam.

Orang-orang Makkah ketika itu pada memusuhi nabi karena merasa nabi telah merusak agama nenek moyang mereka. 13 tahun lamanya nabi berdakwah di Makkah. Hingga akhirnya nabi berhijrah ke Madinah, di sana, nabi menerima perlakuan yang baik dari penduduknya. Nabi pun berdakwah di Madinah selama 10 tahun lamanya. Dakwah nabi kali ini tidak sia-sia, karena ajaran agama Islam berkembang sangat pesat di Madinah. Sehingga orang-orang muslim pun semakin bertambah dan tak lagi teraniaya.

Setelah 10 tahun hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad menunaikan ibadah haji ke Makkah, yang dikenal dengan sebutan haji Wada’. Setelah berhaji, Nabi Muhammad menyampaikan sebuah pidato yang disebut sebagai Khutbah Perpisahan (Khutbah Wada’). Dalam khutbahnya Nabi berpesan kepada pengikutnya untuk tidak mengikuti aturan adat pra-Islam tertentu.

Tidak lama setelah itu, Nabi Muhammad mulai menderita sakit yang cukup parah, tepatnya pada 29 Shafar tahun 11 Hijriah, Nabi mengalami sakit kepala dan demam tinggi selama beberapa waktu setelah pulang dari haji untuk pertama dan terakhir kalinya. Kondisi ini terus dialami Rasulullah selama kurang lebih 14 hari. Meski begitu, Nabi masih menyempatkan diri untuk mengimami salat berjamaah. Hingga suatu hari, saat Rasulullah hendak pergi ke mesjid untuk salat berjamaah, sakit yang dideritanya semakin parah hingga mengahalangi nabi untuk bisa berjamaah.

Pada suatu ketika, ada seseorang mengetuk pintu rumah Rasulullah SAW, dan Fatimah membuka pintu nya sambil berkata “Untuk apa kau datang kemari? Ayahku sedang sakit”. Orang itu menjawab “Tidak! Aku harus bertemu dengan ayahmu”. Fatimah tidak mengizinkan orang itu masuk dan menutup pintunya. Kemudian Rasulullah memanggil Fatimah sambil berkata, “Ya Fatimah, dia adalah malaikat maut, dialah yang memutuskan kebahagiaan yang sementara nak, dialah yang ingin bertemu dengan ku. Inilah hari terakhirku wahai Fatimah”.

Fatimah pun tidak mampu lagi membendung air matanya, ia paham bahwa ini adalah detik-detik wafatnya Rasulullah Saw. Dengan keadaan lemah, malaikat maut menjumpai Rasulullah Saw. Beliau bertanya keberadaan malaikat Jibril, dan Jibril pun datang menjumpainya. Lalu nabi bertanya “Apa hakku di hadapan Allah SWT wahai malaikat Jibril?”. Jibril menjawab “Bahwa Allah telah menantimu di surga, seluruh malaikat telah menantimu di pintu-pintu langit untuk menyambut kedatangan ruhmu wahai kekasih Allah”.

Akan tetapi Rasulullah tidak terlihat senang mendengar hal itu, hingga Jibril bertanya kepada beliau, “Mengapa engkau tidak tersenyum, ya Rasulullah?” Nabi menjawab, “Aku memikirkan umatku wahai Jibril. Bagaimana dengan umatku sepeninggalanku?” Kata Allah “Sampaikan kepada Muhammad akan aku jamin umatnya dan tidak aku hinakan di yaumil qiyamah”.

Maka perlahan-lahan ditariklah ruh Rasulullah, dan beliau berkata bahwa begitu dahsyat rasa sakit sakratul maut itu, Rasulullah ingin menanggung rasa sakit seluruh umatnya kepada beliau. Bahkan di akhir hayatnya beliau masih memikirkan rasa sakit sakratul maut umatnya. Rasulullah semakin merasa sakit atas sakratul maut yang menimpanya, hingga akhirnya pada hari Senin, 12 Rabiul Awal 632 M, sang kekasih Allah berpulang kembali kepada-Nya dalam pangkuan istrinya, Sayyidah Aisyah.

Perhatian Nabi Muhammad Tentang Nasib Umatnya

Aisyah merasa kebingungan dan berlari keluar sambil mengatakan “Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah meninggalkan kita”. Seluruh penduduk Madinah merasakan seolah-olah kota itu menjadi gelap. Di antara mereka ada yang pingsan, bersimbah air mata. Tetapi Umar bin Khatab langsung angkat bicara dengan mengatakan bahwa Rasulullah tidak wafat, beliau hanya seperti Nabi Musa As yang datang kepada Allah kemudian kembali kepada kita.

Bahkan beliau mengancam akan memenggal kepala orang yang mengatakan Rasulullah wafat.Kemudian Abu Bakar lah yang menenangkan Umar sambil berkata bahwa Rasulullah hanya lah manusia biasa yang akan mati. Maka siapa yang menyembah Muhammad, ia telah wafat, tetapi siapa yang menyembah Allah, Allah akan selalu hidup tidak akan pernah mati. Barulah Umar sadar bahwa benar hari itu Rasulullah telah meninggalkan meraka semua.

Itulah kisah singkat perjalanan nabi kita, dari sejak lahir hingga akhir hayatnya yang tetap mengingat umatnya. Umatnya yang tidak pernah berjumpa dengannya, tetapi begitu dikhawatirkan dan dirindukan olehnya. Suatu hari Rasulullah pernah duduk bersama para sahabatnya dan mengatakan “Ana musytaqun bi ikhwani (aku sedang merindukan saudara-saudaraku)”. Para sahabat bertanya “Ya Rasulullah bukankah kami ini saudaramu?” Kata Rasulullah “Bal antum ashabi [kalian bukan saudaraku, tetapi kalian itu sahabatku]”. Lalu siapa yang dimaksud dengan ‘ikhwani’ oleh Rasulullah? Ikhwani yang dimaksud adalah orang-orang yang tidak pernah melihatku tetapi mereka mau beriman kepadaku.

Pernah suatu ketika Aisyah mendapati nabi terbangun dari tidurnya dan melaksanakan salat, tetapi nabi tidak kunjung selesai dengan salatnya hingga Aisyah bertanya, “Kapan waktu istirahatmu, ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Jika aku istirahat bagaimana nasib umatku di hari kelak? Setiap harinya aku harus melakukan salat taubat 1000 rakaat dihadapan Allah”.

Aisyah merasa heran, untuk apa? Sedangkan beliau adalah orang yang terpelihara daripada dosa. Rasul menjawab bahwa beliau khawatir nanti jika ketika umatnya ditarik kembali ruhnya oleh Allah mereka belum sempat bertaubat kepada Allah, dan Rasulullah berharap solat taubat nya ini bisa menambal taubat umatnya. Masya Allah.

Bagaimana dengan kita? Ketika Rasulullah sangat mencintai dan merindukan kita. Bagaimana dengan lisan kita? Apakah senantiasa bershalawat kepada rasul? Bagaimana dengan perbuatan kita? Apakah senantiasa menjalankan sunah-sunah nya? Oleh karena itu, jika selama ini kita kurang peduli terhadap orang yang selalu merindukan kita ini, mulai dari sekarang kita bisa memperbaiki dengan memperbanyak shalawat kepadanya, mengamalkan sunah-sunahnya.

Terlebih di dalam bulan kelahirannya ini, tampakkanlah kecintaan dan kegembiraan kita menyambut hari lahirnya dengan merayakan maulid. Semoga kita bisa berkumpul dengan Rasulullah disurga Allah dan mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad di hari akhirat kelak. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali wa shahbihi ajma’in.

 ***

*Penulis bernama lengkap Aisyatul Fujar, seorang mahasiswi kelahiran 2003. Putri dari Bapak Ivandi Nurdin dan Ibu Nurasiah berkelahiran dan berasal dari kota Langsa. Wanita yang kerap menggunakan kacamata ini merupakan mahasiswi aktif di semester III Prodi Hukum Keluarga Islam (HKI). Selain hobi mendengar musik-musik islami, Ustadzah yang saat ini mengabdikan diri di Dayah Ummul Ayman IV ini juga menyukai dunia menulis-membaca. Salam Literasi!

Editor: MAA

Gandeng KUA Samalanga, STIS-UA Gelar Seminar Pencegahan Pernikahan Dini

Loading

Bireuen – Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Ummul Ayman bekerjasama dengan Kantor Urusan Agama (KUA) Samalanga menggelar seminar pencegahan pernikahan dini di musala Dayah Ummul Ayman, Gampong Putoh, Samalanga, Kamis siang (20/10/2022).

Acara yang diikuti oleh 120 peserta yang terdiri dari mahasiswa-mahasiswi, segenap dosen serta civitas akademika STIS-UA itu menghadirkan dua pemateri, senator Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Aceh di Jakarta, Tgk Fadhil Rahmi, Lc., MA (Syech Fadhil) dan Ketua KUA Samalanga, Tgk Zulfitri, S.Kom.I., M.Kom.I (Waled Zulfitri).

Pemateri pertama, Waled Zul memaparkan terkait anjuran syariat Islam agar penganutnya melakukan pernikahan. Selain sebagai mengikuti sunnah Nabi, pernikahan juga merupakan salah satu media mubah dalam menyalurkan syahwat seseorang.

Namun begitu, menurutnya, pernikahan lebih dianjurkan ketika seseorang telah siap dengan mental dan telah melalui proses-prosesnya.

“Karena itulah, pernikahan di usia dini, selain belum siap dari semua sisi, juga ada banyak hal lain yang mengakibatkan meningkatnya angka perceraian,” ujarnya

Para peserta mengikuti seminar dengan khidmat [Foto: Tim PADU]

Sementara pemateri kedua, Syech Fadhil Rahmi menjelaskan pentingnya kematangan persiapan untuk menuju ke jenjang pernikahan. Menurutnya, salah satu persiapan yang harus dimatangkan yakni dari segi menambah wawasan dengan cara menuntut ilmu agama dengan bersungguh-sungguh.

Di usia muda seperti ini, lanjutnya, anak-anak muda sangat riskan dan rentan untuk melakukan hal-hal yang dilarang Allah Swt. Oleh karena itu, diperlukannya fokus dalam menuntut ilmu serta fokus produktif dalam menyebarkan nilai-nilai positif untuk sekitarnya.

“Anak muda kalau otaknya kosong dari ilmu maka ia sangat rentan melakukan hal-hal yang dibenci Allah Swt. Karena itu, teman-teman sekalian, kalian ini masih berada di umur yang sangat produktif untuk melakukan hal-hal positif. Fokuslah dalam menuntut ilmu dan pengembangan diri,” tutupnya.

Peserta mahasiswi khidmat menyimak sembari mencatat poin-poin hasil seminar. [Foto: Tim PADU]

Di akhir acara, selain ada sesi Tanya-jawab, Syech Fadhil juga membagikan Al Quran untuk STIS Ummul Ayman. Penyerahan simbolis hadiah Al Quran itu diterima langsung oleh Wakil Ketua III STIS-UA, Tgk Syeh Khaliluddin, MA.

Tgk Syeh Khaliluddin, MA yang bertindak sebagai moderator menyimpulkan bahwa persiapan menuju ke jenjang pernikahan bukanlah hal sepele. Menurutnya, di antara persiapannya adalah sehat; sehat badan, sehat financial dan juga sehat mental.

Di samping itu, Syeh juga melanjutkan dengan persiapan kedewasaan dalam bertindak dan berpikir. “Ciri-ciri dewasa itu ada tiga: tau diri, sadar diri dan berempati,” ujarnya. Menutup seminar, Syeh juga sangat berterima kasih kepada Kepala KUA Samalanga serta jajarannya atas terselenggaranya seminar itu. []

[Reporter: MAA]

Dr. Affia Siddiqui, Jeruji dan Tempat yang Dicintai

Loading

Oleh: Fidiatul Makfira*

Cerita ini saya kutip dari guru saya yang selalu saja membanggakan seorang mujahidah cendekia, putri bangsa Pakistan. Dr. Affia Siddiqui atau Lady Al Qaeda adalah seorang wanita cerdas dan salehah, merupakan hafizah Al-Quran. Tak hanya lulus dari MIT (Massachusetts Institute of Technology) tapi juga mendapat gelar doktor dalam bidang Ilmu Saraf dari Brandeis University, Amerika Serikat.

Ia juga memiliki 144 sertifikat dan ijazah kehormatan dari lembaga seluruh dunia. Affia merupakan satu-satunya ilmuan neurologi di dunia yang menyabet gelar P.hD dari Universitas Harvard. Tidak ada seorang wanita barat yang setara dan sebanding dengan pendidikannya.

Dr. Affia Siddiqui dilahirkan di Pakistan dan menjadi warga Amerika. Pada tahun 2003, Ia diculik dan dipenjara di Bagram bersama tiga anak kecilnya selama lima tahun tanpa kabar, pula tanpa bukti yang kuat tentang apa kesalahannya dan mengapa tidak pernah dibicarakan hanya semata-mata dengan tuduhan karena melakukan percobaan pembunuhan terhadap petugas AS di Afghanistan.

Sampai pada saat empat orang tahanan dari Bagram (Guantanamo) yang berhasil melarikan diri itu menceritakan semuanya bahwa mereka merasa aneh ketika tiba-tiba ada seorang wanita yang disandera di penjara ini, karena dengan ini Amerika telah melakukan penipuan tentang tiadanya narapidana wanita di Bagram, mereka juga bercerita bahwa mereka tahu bahwa seorang wanita yang bernomor tahanan 650 itu adalah wanita asal Pakistan dan seorang ibu yang dipisahkan dari anak-anaknya.

Mereka juga mendengar Ia menjerit hebat akibat disiksa setiap harinya. Selama di dalam tahanan di Bagram, Dr Affia disiksa, diperkosa setiap harinya dan dilecehkan haknya sebagai seorang wanita. Beliau juga dipaksa menggunakan toilet pria dan kamar mandi yang rentan dan bisa dilihat oleh penjaga penjara. Kejadian ini berlangsung lama hingga beliau kehilangan ingatannya dan nasib anak-anaknya selama lima tahun itu juga tidak diketahui oleh siapapun.

Tak heran jika kasus dari ibu tiga anak ini sudah masyhur ke seluruh dunia karena skenario yang dibuat oleh FBI sangat memanipulasi kejadian yang sebenarnya, bahkan mereka menggambarkan bahwa Dr Affia adalah teroris berbahaya yang menjadi buronan. Dr. Affia Siddiqui yang sebenarnya baru keluar dari supermarket di jalan dekat rumah mereka di Karachi, akan tetapi mereka mengeluarkan statement bahwa pada waktu itu beliau sedang pergi berjihad ke Afghanistan.

Tahun berikutnya beliau disebut oleh direktur FBI Robert Mueller sebagai salah satu dari tujuh buronan dan juga satu-satunya wanita. Hakim Pengadilan AS memutuskan bahwa Dr. Affia Siddiqui menerima hukuman penjara selama 86 tahun, yang kemudian memicu amarah di kalangan warga Pakistan dan mereka pun ikut menggelar aksi protes atas hukuman penjara 86 tahun itu.

Di saat itupula adik perempuannya beserta ibunya mengkritik pemerintah Pakistan karena ingkar janji untuk memulangkannya. Akademis cerdas, Dr.Affia Siddiqui yang pernah mendapatkan pendidikan di universitas-universitas kelas atas di AS, sekarang hanya bisa terbaring lemah di penjara Texas karena harus menjalani 86 tahun hukuman setelah dituduh bersalah mencoba membunuh tentara Amerika.

Padahal faktanya adalah mereka menembaknya dari jarak dekat dan hampir membunuhnya, tetapi mereka mengklaim di pengadilan bahwa mujahidah cendekia itu melompat di balik tirai sel penjara, menyambar salah satu senjata mereka dan membunuh mereka. Skenario yang digambarkan di pengadilan sangat meragukan banyak pihak dan yang menjadi kejanggalan lainnya adalah tidak ditemukan bukti yang kuat; tidak ada bekas tembakan dipakaiannya, tidak ada peluru dari senjata yang ditembak dan tidak ada sidik jari miliknya pada laporan yang terdapat dalam TKP.

Kemudian setelah mendapat pengobatan oleh tenaga medis Bagram, beliau dipindahkan secara rahasia ke Amerika untuk diadili atas kejahatan yang menjadikannya sebagai tersangka di Afghanistan. Proses pengadilannya diadakan di New York, lokasinya berjarak sangat dekat dengan tempat dimana menara kembar pernah berdiri. Dan disaat itulah sebuah tim legal dipaksakan kepada Dr. Affia oleh pemerintah AS sehingga mereka sukses memanipulasi kesaksian Dr. Affia sehingga beliau dinyatakan benar-benar bersalah.

Ketika ada bukti berupa rekaman diserahkan kepada tim pembela, penuntut tidak mengakui seorang jurnalis barat yang telah melakukan perjalanan di Afganistan ini bisa mendapat kesaksian dan bukti yang menarik. Sayangnya setelah semua bukti tersusun rapi termasuk peluru yang telah disembunyikan dari dinding sel tersebut hilang. Pada saat Dr. Affia muncul di balik tirai tanpa borgol dan dan tidak mengenakan hijabnya menyebabkan kepanikan dari para prajurit muda yang telah diberi penjelasan singkat oleh FBI bahwa mereka telah menangkap seorang wanita yang paling berbahaya di dunia.

Akan tetapi saat petugas polisi senior Afghanistan mengatakan laporan mereka tentang apa yang terjadi di Afghanistan, namun satu-satunya orang yang dibawa ke pengadilan untuk memberikan saksi terhadap beliau adalah penerjemah FBI. Sungguh propaganda Warga AS yang memanipulasi persaksian itu menjadikan fitnah yang keji untuk Dr. Affia, hingga saat ini.

***

*Penulis merupakan mahasiswi semester III Prodi Hukum Keluarga Islam (HKI) STIS-UA. Putri kelahiran 2003 ini merupakan buah hati dari pasangan Bapak Nasruddin dan Ibu Azizah, berdomisili di Lueng Putu, Pidie Jaya. Ustadzah yang saat ini mengabdi di Ummul Ayman 4 Bustanussabban ini sangat menggemari dunia literasi dan pernah menjadi pemenang Karya Tulis Ilmiah Terbaik yang diselenggarakan oleh panitia PBAK STIS-UA tahun 2021. Salam literasi!

Editor: MAA

 

12 Mahasiswa STIS-UA Ikuti Perlombaan GENITIVE di IAIN Langsa

Loading

*Juga sebagai ajang merajut hubungan dengan DEMA IAIN Langsa

Langsa – Sebanyak 12 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Ummul Ayman (STIS-UA) Pidie Jaya mengikuti serangkaian perlombaan yang digelar oleh Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUAD) IAIN Langsa.

Perlombaan dengan tema GENITIVE (Gebyar, Seni dan Kreativitas) ini berlangsung di kampus utama IAIN, Langsa selama empat hari, mulai Minggu, 2 Oktober 2022 hingga Rabu, 5 Oktober. Sementara pengumuman sang juara akan diumumkan pada Kamis, (6-10-2022).

Perlombaan tersebut dibuka untuk umum dengan peserta baik dari kota langsa maupun dari luar kota. Tahun ini, FUAD menggelar delapan cabang lomba, di antaranya Musabaqah Fahmil Quran (MFQ), Musabaqah Syarhil Quran (MSQ), Hifzil Quran, Pop Islami, Karya Tulis Ilmiah (KTI), Fotografi, Puisi dan Design.

Pada acara kali ini, 12 mahasiswa STIS Ummul Ayman mengikuti cabang lomba MFQ, MSQ, Pop Islami, Karya Tulis Ilmiah, Hifzil Quran dan Fotografi. Keikutsertaan mereka didampingi dan dibimbing langsung oleh kakak-kakak angkatan  yang bergabung di organisasi Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) STIS-UA.

Pada kesempatan ini, selain membimbing para peserta, DEMA STIS-UA juga turut bersilaturahmi ke DEMA IAIN Langsa dengan agenda temu ramah. Presiden Mahasiswa (Presma) IAIN Langsa, Sultan Ali menyambut dengan baik kedatangan DEMA STIS-UA ke tempatnya. Banyak hal yang didiskusikan pada kesempatan tersebut.

Sultan Ali, Presma IAIN Langsa, bersama dengan Rifi Al-Asyi (Deputi Olahraga) dan juga M. Arif Jauhari (Menteri dalam Kampus) menerima kunjungan dari DEMA STIS-UA, yang terdiri dari Marthunis (Presma) ditemani pengurus DEMA lainnya yang terdiri dari Mukhtar Luthfi Z (Wakil Presma), M. Dana Saputra (Sekretaris), Reza Isvanda (Wakil Menteri Kominfo), Ahmad Nawali (Menteri Luar Kampus), Zulhadi (Menteri Sosial) serta Taufik Hidayat (Menteri SDM).

Tgk Marthunis, Ketua DEMA STIS UA mengatakan sudah saatnya para mahasiswa membangun hubungan dengan mahasiswa-mahasiswa pelbagai kampus. Selain menambah jaringan serta pengalaman, juga sebagai pengembangan jiwa setiap mahasiswa dalam menghadapi dunia global.

“Sudah sepatutnya bagi kita para mahasiswa membangun relasi dengan mahasiswa di kampus lain agar bisa memetik pelajaran serta pengalaman yang nantinya bisa dimodifikasikan dan diterapkan di kampusnya karena itu merupakan bagian dari kultur perkuliahan agar jiwa-jiwa mahasiswa semakin berkembang,” ujar mahasiswa asal Sawang ini.

Sementara Presma IAIN Langsa, Sultan Ali mengatakan pertemuan kali ini merupakan momen indah yang penuh dengan nuansa keakraban.

“Pertemuan kali ini hangat sekali. Penuh dengan nuansa keakraban. Walau baru ketemu kali ini dengan DEMA STIS Ummul Ayman yang diketuai oleh Marthunis ini, namun terasa hangat dan pembicaraannya pun mengalir,” ujarnya.

[Sumber: DEMA]. Editor: MAA