Deprecated: Creation of dynamic property OMAPI_Elementor_Widget::$base is deprecated in /home2/milikkit/public_html/wp-content/plugins/optinmonster/OMAPI/Elementor/Widget.php on line 41

STIS Ummul Ayman Luncurkan KPM Perdana

Loading

Meurah Dua – Sebanyak 85 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Ummul Ayman (STIS-UA) Pidie Jaya mengikuti Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) pada Kecamatan Meurah Dua Kabupaten Pidie Jaya, Acara Pelepasan Mahasiswa di adakan di kantor Camat Meurah Dua, Pidie Jaya yang diantar langsung oleh Ketua STIS Ummul Ayman Dr. Tgk. H. Muhammad Zukhdi, Lc, MA yang ditemani oleh Wakil Ketua I Tgk. Januddin, MA dan WAkil ketua III Bidang Kemahasiswaan Tgk. Syeh khaliluddin MA dan diterima oleh Muspika Kecamtan Meurah Dua bersama dengan para keuchiek lokasi KPM.

Acara pelepasan turut dihadiri oleh kapolsek dan Danramil Meurah Dua dimulai sejak pukul 09.00 pagi sampai pukul 11.00. ketua STIS Ummul Ayman berpesan kepada seluruh mahasiswa yang hadir agar kegiatan KPM tersebut menjadi wadah untuk mengabdi kepada masyarakat, bisa memberikan manfaat kepada masyarakat dengan kemampuan yang dimilki.

Bapak Danramil dalam sambutannya menyampaikan berbagi pengalamannya dalam meniti karir dibidang TNI, beliau menekankan pentingnya persatuan. Perbedaan bukanlah wadah untuk saling menjatuhkan tapi jadikan perbedaan itu untuk saling menguatkan dan mempersatukan. “ kemanapun dan dimanapun kita berada, kita tetap hidup dalam masyarakat. Maka  bergaul lah dengan baik dalam masyarakat, nanti kita akan melihat perbedaan adat dan budaya antara satu daerah dengan daerah lain, namun pada dasarnya kita adalah bagian dari masyarakat itu sendiri.

 

Wakil Ketua III bidang Mahasiswa Tgk. Syeh Khaliluddin, MA beliau memberi gambaran tentang pentingnya bagi mahasiswa untuk memahami keadaan masyarakat yang ditempati. Beliau mengingatkan akan pentingnya kecerdasan intelektual, namun kecerdasan sosial juga sangat penting  karena mahasiswa adalah bagian tak terpisahkan dari komunitas masyarakat. “untuk mencerdaskan inteletual adalah lewat pembelajaran, namun untuk membentuk kecerdasan sosial maka dibutuhkan pengabdian”. Katanya menambahkan. Beliau juga mengharapkan agar mahasiswa mampu memberikan kontribusi pengetahuan intelektualnya kepada masyarakat sesuai kapasitas dan kemampuan yang dimiliki.

 

Sebagaimana diketahui bahwa mahasiswa merupakan agent of exchange (agen perubahan)  yang bisa mengubah lingkungan masyarakat disekitarnya menjadi lebih baik. Selain itu tanggung jawab mahasiswa lebih besar dalam kontribusi kepada masyarakat melalui ilmu dan memampuan yang dimilikinya selama mengenyam pendidikan tinggi. Maka kuliah pengabdian masyarakat (KPM) merupakan salah satu mata kuliah wajib yang harus diselesaikan mahasiswa semester akhir. Dalam melakukan pengabdian masyarakat, mahasiswa dituntut membuat program-program yang bermanfaat kepada masyarakat di wilayah terkait.

Tgk. Baihaqi, ME, sebagai ketua Korodinator Mahasiswa KPM Mengatakan KPM Kali ini di tempatkan di 10 desa di kecamatan Meurah dua,  Proses penyerahan peserta KPM dilakukan di Kantor Camat Meurah DUa, selanjutnya Camat menye­rah­kan kepada kepada ma­sing-masing keuchik. []

Peserta KPM STIS Ummul Ayman Ikuti Pembekalan

Loading

Meurah Dua –  Sebanyak 85 peserta Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Angkatan Pertama Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Ummul Ayman Pidie Jaya mengikuti pembekalan. Acara berlangsung di aula STIS, Meurah Dua, Pidie Jaya, pada Rabu, (9/7).

Dalam pelaksanaan pembekalan tersebut, para peserta diberikan berbagai materi yang disampaikan langsung oleh Ketua STIS, Dr. Tgk. H. Muhammad Zukhdi, Lc., M.A., Pembantu Ketua I, Tgk. Januddin, MA yang menangani bidang akademik. dan Pembantu Ketua III, Tgk. Syeh Khaliluddin, MA yang membidangi kemahasiswaan dan kehumasan.

Tgk. Januddin memaparkan terkait administrasi dan tujuan adanya KPM itu sendiri. Tahun pertama ini, peserta berjumlah 85 orang, yang terdiri dari 63 mahasiswa dan 22 mahasiswi. Real-nya para peserta khusus mahasiswa ini akan menyebar ke 10 desa di Kecamatan Meurah Dua. Sementara mahasiswi, akan melakukan KPM di dalam komplek Pesantren Ummul Ayman putri di Samalanga.

Pembantu Ketua I, Tgk. Januddin, MA sedang memberikan arahan kepada peseta KPM

Sementara itu, Ketua STIS, Dr. Tgk. H. Muhammad Zukhdi, Lc., M.A. menguraikan poin-poin penting yang harus dipegang para peserta KPM. Alumnus Al Azhar, Mesir ini menekankan perlunya sinergi antara peserta dengan perangkat desa tempat mereka ber-KPM.

“Sinergi kalian dengan perangkat desa itu sangat dibutuhkan. Keberhasilan pengaplikasian ilmu kalian, ya ketika kalian bisa bersinergi dan berbaur dengan mereka,” ujarnya.

Sementara Tgk. Syeh Khaliluddin membekali peserta dengan memahamkan mereka terkait tujuan KPM dan permasalahan yang dihadapi di lapangan. Menurutnya, KPM itu bertujuan untuk mengaplikasikan ilmu teori yang telah dipelajari selama di ruang belajar. Alumnus Magister UIN Ar Raniry ini juga menekankan perlunya memahami permasalahan di lapangan.

Pembantu Ketua III, Tgk. Syeh Khaliluddin, MA menjelaskan mekanisme KPM

“Hal utama adalah mengidentifikasi masalah di lokasi. Setelahnya baru mencari solusi (mengaplikasi ilmu yang telah dipelajari itu, red),” ujarnya.

Sementara peserta putri, mereka akan melakukan KPM di dalam komplek pesantren dimaksud. Menurut Syeh Khalil, pengabdian merupakan bentuk pengaplikasian ilmu yang telah diperoleh. Sedangkan objeknya adalah masyarakat. Dalam konteks ini, santriwati di pesantren juga termasuk dalam kategori masyarakat.

Selamat ber-KPM teman-teman mahasiswa/i, dengan harapan semoga ilmunya bisa bermanfaat bagi segenap masyarakat. []

Reporter: MAA

Buku & Pena

Loading

Meskipun Indonesia memiliki wilayah yang luas dan menempatkan kepadatan penduduknya pada urutan ke-4 di seluruh dunia, Indonesia tetap masih diakui sebagai negara berkembang dan bukan negara maju. Padahal Singapura yang hanya memiliki luas wilayah terkecil dan kepadatan penduduknya rendah sudah diakui sebagai negara maju. Timbul pertanyaan, kenapa hal itu terjadi? Padahal sekarang ini Indonesia tidak lagi bergantung –sepenuhnya– pada alam, sudah membuka lapangan kerja yang banyak –meskipun masih banyak pengangguran– serta Indonesia telah berhasil memanfaatkan sumber daya alam yang sangat melimpah. Namun kenapa Indonesia masih dianggap sebagai negara berkembang? Ternyata penyebabnya terdapat pada para penduduk Indonesia. Karena Indonesia masih minim dalam hal sumber daya manusia, artinya meskipun memiliki penduduk yang banyak, hanya beberapa persen kecil para penduduk yang berperan bagi kemajuan dan kesejahteraan negara Indonesia. Lalu apa masalahnya? Apakah karena penduduk Indonesia tidak berpendidikan?

Jawabannya ada dua; pertama tentu tidak! Alasannya karena banyak penduduk Indonesia yang berhasil melanjutkan pendidikannya ke Universitas terkenal di luar negeri bahkan menjadi orang paling penting di dalam maupun di luar negeri. Kedua bisa jadi karena meskipun hidup di zaman globalisasi, masih banyak para penduduk yang putus sekolah, baik terpaksa maupun sukarela. Bahkan ada masyarakat yang tidak pernah menginjakkan kakinya di sekolah. Kenapa hal itu bisa terjadi? Jawabannya relatif. Sebagiannya kadang ada anak yang tidak sekolah karena tidak memiliki biaya. Lantas kenapa pemerintah Indonesia membiarkan hal itu terjadi? Kenapa mereka lebih mengedepankan sumber daya alam dari pada sumber daya manusia? Padahal yang berperan penting bagi kemajuan negara adalah tingginya sumber daya manusia atau kualitas penduduk di negara tersebut.

Namun itu adalah kisah Indonesia yang dulu –meskipun sampai saat ini kisah itu masih terjadi– karena sekarang pemerintah Indonesia mulai mengedepankan kualitas para penduduk dengan dibukanya sekolah sekolah gratis bagi rakyat miskin dan dibuka lapangan kerja bagi pengangguran. Namun meskipun pemerintah telah melakukan hal itu semua, tetap diperlukan kesadaran dari rakyat pribadi terlebih dalam hal belajar dan mengajar, baik orang tua atau guru wajib menerapkan metode tambahan baik di sekolah atau di rumah dalam kurikulum yang telah ditetapkan oleh pemerintah seperti sistem literasi, karena sistem literasi dapat memberdayakan dan meningkatkan kualitas individu keluarga dan masyarakat. Sistem literasi pun mampu memberantas kemiskinan mengurangi angka kematian anak pertumbuhan penduduk dan lain sebagainya.

Sistem literasi sendiri tidak bisa dilepaskan dari bahasa. Artinya Seseorang dikatakan memiliki kemampuan literasi apabila ia telah memperoleh kemampuan dasar berbahasa yaitu membaca dan menulis. Maka dari itu penting bagi pendidik atau orang tua untuk membiasakan anak anaknya untuk membaca dan menulis, terlebih dibiasakan sejak usia dini yaitu sekitar umur 6 sampai 12 tahun. Usia ini adalah waktu yang tepat untuk membiasakan sesuatu terhadap anak-anak termasuk menumbuhkan kebiasaan membaca dan menulis.

Lantas kenapa membaca harus menjadi metode tambahan bagi kita? Karena membaca itu sangat penting bagi setiap orang, juga membaca dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan bagi orang-orang yang melakukannya. Alasannya karena buku merupakan jendela dunia. Jadi jika kita rajin membaca sama dengan kita sudah berkeliling dunia. Namun meskipun kebanyakan orang telah mengetahui kelebihan dari membaca, tetap saja kegiatan ini yang belum banyak dilakukan, khususnya bagi para remaja. Hal ini menjadi keprihatinan banyak pihak, baik pendidik orang tua atau pemerintah.

berdasarkan hasil survey lembaga internasional yang bergerak dalam bidang pendidikan, United Nation Education Society and coltural organization (UNESCO), minat baca penduduk Indonesia jauh di bawah negara-negara Asia lainnya, dan Indonesia tampaknya harus banyak belajar dari negara-negara maju dengan kebiasaan masyarakat membaca buku dengan selera tradisi membaca yang tinggi sehingga berimbas pada begitu pesat peradabannya. Masyarakat negara tersebut sudah menjadikan buku sebagai sahabat yang menemani mereka ke mana pun mereka pergi. Kadang kita lihat buku tak pernah lepas dari tangan mereka, saat antri membeli, menunggu kereta, dalam bus, di bandara, kedai kopi, maupun tempat-tempat lainnya.

Di Indonesia, kebiasaan itu belum tampak. Sekarang ini, remaja membaca buku apabila sedang membutuhkan sumber untuk mengerjakan tugas. Fenomena ini sering terjadi saat seorang mahasiswa sedang menyusun tugas akhir atau skripsi. “Memang budaya membaca kini sudah tidak lagi menjadi kebutuhan bagi generasi muda. Hal ini disebabkan karena kurang kontrolnya keluarga dan masyarakat terhadap anak dalam pemanfaatan teknologi sekarang ini,” ujar profesor Dr. H. Suwardi Lubis MS. Suwardi yang juga dosen komunikasi di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan (STIK-P) Medan, menambahkan akibat dari kurangnya budaya membaca, pola pikir remaja menjadi praktis dan itu membuat mereka mudah prustasi. Padahal dengan membaca pola pikir seseorang akan lebih terbuka dan banyak hal-hal positif yang didapatkannya. Beliau juga berpesan kepada generasi muda agar menyadari bahwa buku itu adalah jantung kehidupan. Karena dengan membaca buku, wawasan serta pengetahuan kita akan semakin bertambah.

Kemudian, membaca sendiri tidak bisa terlepas dari tulis-menulis. Karena membaca dan menulis merupakan dua aplikasi penting yang saling berhubungan satu sama lain. Jika saja tidak ada tulisan, sama saja seperti kita berada di zaman pra-sejarah. Tulisan sendiri merupakan bentuk rekaman sejarah yang dapat diwariskan dari generasi ke generasi bahkan hingga berabad-abad lamanya.

Dalam sejarah peradaban Islam, kita dapat melihat bagaimana tradisi literasi Islam melahirkan tulisan-tulisan para pemikir dan ulama muslim klasik yang sudah berumur ratusan tahun, sampai saat ini masih eksis dipelajari di berbagai lembaga pendidikan Islam khususnya pesantren. Kitab-kitab yang ditulis para ulama dan intelektual muslim era klasik merupakan sebuah warisan intelektual yang sangat berharga bagi pembangunan Khazanah intelektual Islam dari generasi ke generasi. Tulisan merupakan bukti dari jejak rekam sejarah peradaban manusia yang berupa peristiwa, pengalaman, pengetahuan, pemikiran dan ilmu pengetahuan. Tulisan dapat menembus dan menelusuri lorong-lorong ruang dan waktu di masa lampau. Seandainya saja di zaman ini tidak ada lagi tulisan atau orang yang menulis, pasti kita akan kembali ke zaman prasejarah. Namun faktanya justru peradaban kita saat ini bisa dikatakan sebagai peradaban tulisan atau peradaban teks, terbukti dari banjir informasi yang diterima setiap hari, dari berbagai media cetak maupun elektronik. Sebagian besar berbentuk teks atau tulisan. Intinya tulisan telah mengisi seluruh ruang kehidupan manusia modern di era globalisasi saat ini.

Dalam dunia pendidikan khususnya, tulisan mutlak diperlukan. Buku-buku pelajaran maupun buku bacaan lainnya merupakan sarana untuk belajar para peserta didik di lembaga-lembaga sekolah mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Tanpa tulis dan baca, proses transformasi ilmu pengetahuan tidak akan bisa berjalan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya tulisan, budaya membaca, serta menulis di kalangan masyarakat. Maka dari itu, karena pentingnya membaca dan menulis dalam kehidupan kita, sebagai orang tua, guru atau pemerintah wajib mendorong anak-anak untuk melakukan kegiatan literasi –membaca dan menulis—dan mestinya kita memperhatikan upaya yang kita buat agar anak-anak menyukai membaca dan menulis dengan suka hati bukan paksaan, seperti memperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh dalam diri anak, baik faktor internal atau eksternal. Faktor internal meliputi intelegensi, usia, kemampuan, sikap, serta kebutuhan psikologi. Sedangkan faktor eksternal meliputi lingkungan, status sosial orangtua atau keluarga dan guru. Membaca serta menulis dalam kehidupan mestinya kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ingatlah pepatah Inggris mengatakan, “satu buku satu pena, dapat mengubah dunia.”

 

Oleh Noval Bentara (16), juara 1 dalam lomba esai literasi Ummul Ayman

Sumbber : https://ummulayman.or.id/buku-pena/

Kehangatan Waled Nuruzzahri Bersama Misyik Houri, Keturunan Teungku Syik Ditiro

Loading

Oleh: M. Aidil Adhaa, Lc*

RUANGAN itu menjerit. Puluhan tamu undangan menyesakinya. Di antara orang tua, anak muda hingga anak-anak kecil. Seorang Syaikh sedang duduk bersila, dikerumunin tetamu itu. Sembari mengobrol, sesekali senyuman tersungging di wajahnya.

“Nyankeuh, Teungku. Ka trep ka meujak, nyo ban trok langkah [ya gitu, Teungku. Udah lama mau ke tempat ini, baru sekarang bisanya].” Suara seorang wanita tua yang baru masuk ke ruangan. Intonasi dan gayanya yang unik, membuat tawa semua tamu.

“Waled, nyan cuco Tgk. Syiek Ditiro [Waled, itu cucunya Teungku Syiek Ditiro],” sahut salah seorang tamu.

Hurriah binti Teungku Muhammad Amin. Misyik Houri, begitulah kami akrab menyapanya. Warga desa Pante Garot, Indrajaya, Pidie. Hari itu, Rabu, 19 Juni beliau mengantar cucunya ke Dayah Ummul Ayman Samalanga. Ia duduk tepat di samping Waled.

“Man droen soe ngon Teungku Syik Ditiro? [Tros kamu siapanya Tgk Syik Ditiro?]” tanya Waled.

“Nyo meunoe hai Teungku. Neudengo lon peujeulaih dilee [Begini Teungku, dengerkan saya jelasin dulu],” ujarnya, “Ayah lon dua boeh nan. Nan drogeuh Muhammad Amin, teuma geu gantoe, jeut keu Abdullah [Ayah saya punya dua nama. Nama aslinya Muhammad Amin, kemudian diubah jadi Abdullah],” lanjutnya.

Ayahanda Waled sedang berbincang dengan anak-anak baru

Tetamu yang lain senyum-senyum melihat gaya dan keberaniannya itu. Memang, tak semua tamu berani ceplas-ceplos ketika berbicara dengan Waled. Postur kearaban dan charisma Waled membuat sebagian orang takut berinteraksi dengan ‘Ayah 1000 Anak Yatim’ itu. Misyik Hauri membuktikan keberaniannya. Jiwa berani yang diwariskan sang pahlawan.

“Na teuingat neuh Teungku, awai na sidroe aneuk manyak yang mantong udep lam lumueng mak ieh, sedangkan mak jih ka meuninggai di gunong Halimon?” tanyanya.

“Oewh Cut Mirah Gambang nyan?” tanya Waled. “Nye,” jawab Misyik. “Aneuk manyak nyan, nyankeuh yah lon. Bek hana neuturi,” jelas Misyik Hauri, sembari disambut tawa-tamu yang lain. Ruangan yang ber-AC terasa hangat di hari itu.

“Oewh ka, ka. Yang na ditipek bak makam di Meureu [ya, ya. Yang fotonya ada di pemakaman Meureu],” ujar Waled.

Setelah asyik mengobrol, Waled langsung menepungtawari cucu Misyik Hauri. Bersamaan dengan beberapa calon santri baru, dari Pante Garot juga. Jalsah diakhiri dengan salam-salaman. Tak hanya itu, Waled juga menghadiahi selembar sarung kepada Misyik Houri.

“Alhamdulillah ya Allah. Beu beureukat nyo,” desah Misyik Hauri, mengharapkan keberkatan dari Allah Swt.

Begitulah keakraban dan kehangatan seorang ulama dengan cucu-cicit para pejuang. Meski baru pertama kali bertemu, namun jalsah itu sangatlah berkesan dan menjadi pelajaran bagi kita bahwa para ulama dan umara bersama-sama menggandeng tangan dan membahu dalam memajukan pendidikan dan memantapkan penegakan syariat Islam yang kaffah di bumi Aceh tercinta. []

***

*Penulis adalah salah seorang staf akademik STIS-UA yang juga merupakan alumnus Universitas Al Ahgaff, Tarim, Yaman