Deprecated: Creation of dynamic property OMAPI_Elementor_Widget::$base is deprecated in /home2/milikkit/public_html/wp-content/plugins/optinmonster/OMAPI/Elementor/Widget.php on line 41

Syahdunya ‘Sulok’ di Dayah Ummul Ayman!

Loading

Oleh: Intan Dian Anggia*

Saya ingin sedikit bercerita tentang pengalaman suluk di Dayah Ummul Ayman. Sebelum memasuki ke alur cerita maka sebaiknya saya jelaskan dulu apa itu suluk. Suluk adalah perjalanan Ruhani seorang hamba dengan tujuan untuk mendekatkan diri, memohon ampunan, dan berkehendak mendapat rida Allah ta’ala dengan melalui tahapan-tahapan penyucian jiwa (tazkiatun nafsi) yang dipraktekkan ke dalam latihan-latihan ruhani secara istikamah dan mudawamah (selalu). Di Aceh, ritual ini lebih akrab dikenal dengan istilah ‘Sulok’.

Ramadan tahun itu: 2021. Saya melaksanakan suluk hanya 10 hari. Suluk itu dipimpin oleh guru kami, Abi Abdul Malik –buah hati keenam dari Syaikh Waled Nuruzzahri, Pimpinan Dayah Ummul Ayman, tempatku menimba ilmu. Saidul khulafanya ialah Tgk. Subhan, guru malam saya.

Malam pertama tameng sulok, niatnya ngga spesifik sih, mungkin karena kepo bagaimana sulok itu dan juga karena ada yang mengajak. Itu adalah sulok pertama kali yang diadakan di Dayah Ummul Ayman Putri. Belum pernah diprogramkan sebelumnya.

Biasanya di bulan Ramadhan hanya ada program khulwah/khalut, yang diwajibkan bagi dewan guru yang ingin menikah dan program-program lain seperti pengembangan bahasa, daurah IKABUA, dan micro teaching untuk pembekalan dewan guru baru dari kelas VII atau VIII sebelum mengajar.

Tameng Sulok

Metode tameng sulok itu harus memulai dengan mengambil ijazah thariqat kepada Mursyid kami, Syaikh Waled Nuruzzahri bin Yahya. Beliau memberikan ijazah thariqat disertai dengan lafadz ‘ajaztukum’ (telah saya ijazahkan kepada kalian), dan yang menerima thariqat tersebut menjawab dengan ‘qabilna’ (telah kami terima) atau ‘qabiltu’ (telah saya terima).

Proses pengambilan thariqat sudah dimulai pada awal Ramadhan. Seluruh santriwati yang berada di dayah ketika Ramadhan wajib mengambilnya. Setelah mengambil thariqat sulok bukan berarti kita sudah dikatakan ‘tameng sulok’. Untuk ‘tameng sulok’ kita harus berniat terlebih dulu.

Sesudah berniat, maka berlakulah pantangan berupa: tidak boleh memakan makanan yang mengandung hewani, seperti susu, telur, keju, ikan, ayam, dan daging. Kemudian harus irit bicara, yang biasanya kita suka ceplas-ceplos, bicara, lebih-lebih berghibah maka di dalam sulok itu sangat dilarang.

Juga yang harus dijaga adalah pandangan, menjaga pandangan di sini bukan hanya menjaga dari tidak melihat lawan jenis, tetapi juga menjaga dari segala sesuatu yang membuat lalai. Biar lebih mudah menjaga pandangan, para jamaah dianjurkan memakai ridak/kain untuk penutup kepala.

Di sini agak sama seperti metode ‘khalut’, bedanya, khalut wajib menutup kepala dan seluruh tubuh, bahkan tidak boleh sampai ada yang melihat wajahnya dan dia tidak boleh melihat wajah orang lain. Ini merupakan adab-adab di dalam sulok, meskipun begitu tidak boleh dilanggar.

Tameng sulok boleh kapan saja dan ada pilihan durasinya. Ada yang 10 hari, 20 atau full 30 hari. Sulok itu bukan tentang patokan hari tapi tentang pelajaran yang diberikan dan yang kita amalkan di dalamnya. Sebelumnya, awal-awal Ramadhan, saya belum berkeinginan tameng sulok, karena saya bersama teman-teman seangkatan sedang mengikuti program micro teaching. Jadi saya rasa bisa mengurangi fokus nanti jika dibarengi ibadah sulok (baca: tawajoh).

Keinginan muncul karena setiap malam selepas shalat isya sebelum tarawih, Ustad menanyakan siapa lagi yang mau bersuluk, ditambah dengan penjelasan panjang lebar tentang sulok, manfaat dan hikmahnya. Juga setiap malam ada jamaah yang tameng sulok; makin hari makin bertambah, dan mereka semuanya lelaki. Dari jamaah wanita tak ada yang ikut sama sekali, karena kami dituntut agar focus di micro-teaching.

“Namun kalau ada yang mau ikut, lebih baik,” ujar Ustadz.

Disitulah hatiku tergerak, jadilah malam ke 20 Ramadhan saya tameng sulok. Saya sadarkan diri bahwa saya harus mematuhi pantangan yang mungkin agak berat karena niat saja belum mulus kurasa. Malam itu kami bertiga sepakat memulai ritual itu. Satu kawan seangkatan denganku. Satu lagi seorang ustazah. Di antara kami bertiga hanya kawanku yang berpengalaman ikut sulok di Dayah Mudi Mesra.

Karena banyak pantangan yang harus kami jalani, kamar para jamaah sulok harus pisah dari yang lain. Kami pindah ke satu bilik dekat musala, dekat dengan kamar mandi dan jauh dari bilik yang keramaian. Benar-benar mengasingkan diri.

Awal-awalnya saya merasa berat dan agak menyesal karena ikut-ikutan, sekarang saya berada di dua program sekaligus, micro teaching dan sulok. Micro teaching masih berlangsung hingga lima hari kedepan, sampai puasa ke 26.

Beratnya, karena saya harus mengejar waktu dan harus menyeimbangi dua program tersebut, dimana ritual-ritual yang berlangsung selama sulok yaitu: ibadah-ibadah wajib seperti shalat 5 waktu, sunat rawatib, Duha, tahajud, witir, puasa, tarawih, tadarus Al Qur’an, serta tawajjuh yang dipimpin oleh mursyid.

Secara bahasa, tawajjuh bermakna ‘menghadap’. Kemudian kegiatan-kegiatan sosial seperti gotong-royong setelah shalat Duha dan menyiapkan menu bukaan ketika menjelang magrib bersama. Sedangkan program micro teaching berlangsung setelah shalat Dhuha dari jam 9-11, setelah duhur dari jam 14.15 hingga 16.00. Bisa dibayangkan betapa padatnya jadwal karena mengikuti dua program tersebut sekaligus. Namun, hari ketiga keempat saya mulai terbiasa; sudah tidak merasa terbeban.

Puasa ke 26 program micro teaching selesai, tetapi saya masih berada dalam program sulok. Saya merasa lebih ringan karena tidak lagi harus mengejar waktu. Sulok terus berlanjut hingga malam pertama Idul Fitri. Tepat di malam lebaran kami berbuka pantangan dengan menyantap kuah Beulangong yaitu gulai kambing khas Aceh Besar. Ini merupakan tradisi jamaah sulok ketika mereka keluar yaitu berbuka pantangan dengan memakan-makanan yang dilarang ketika masih di dalam sulok, gulai kambing misalnya.

Hikmah yang bisa saya ambil ketika sulok maupun ketika setelah keluar dari sulok yaitu hati menjadi tenang, beban serasa hilang dikarenakan dekat dengan Allah Swt. Saya tidak tahu bagaimana rasanya menjadi seorang Mursyid maupun Saidul khulafa yang lebih dekat lagi dengan rabbnya. Pasti hati mereka jauh lebih aman dan tentram.

Saya saja yang niatnya tidak lurus saya bisa merasakan nikmatnya bersuluk. Indah sekali menangis sesenggukan memohon ampun kepada Allah, walaupun kita tidak tahu apakah dosa kita diampuni atau tidak oleh-Nya, tapi itu sangat membuat hati menjadi damai, karena memang sulok adalah ritual perjalanan ruhani seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Pembaca budiman, jika ingin merasakan menangis sejadi-jadinya mengingat dosa maka bersuluklah, karena kita akan dipandu bagaimana cara menangis mengingat dosa oleh Mursyid ketika bertawajjuh, karena menangis adalah bagian dari penyesalan dan solusi dari penyesalan adalah bertaubat. Wallahu a’lam. []

***

*Penulis merupakan mahasiswi aktif di STIS-UA. Saat ini duduk di Semester IV Prodi Hukum Keluarga Islam (HKI). Putri kelahiran 2 April 2002 ini merupakan ananda dari Bpk. M. Zainal dan Ibu Fauziah, asal Meureudu, Pidie Jaya. Penulis aktif mengikuti dan menjuarai berbagai event dan perlombaan baik tingkat kabupaten dan provinsi seperti juara 3 MTQ tingkat kabupaten Pidie Jaya cabang perlombaan Tilawah Remaja dan mewakili STIS Ummul Ayman mengikuti perlombaan Syarhil Quran pada event UIN Fair. #mahasiswi_menulis #stis_ua #pidie_jaya

Editor: MAA.

STIS-UA, Program ‘Ibu-Ummi’ yang Begitu Diunggulkan

Loading

Oleh: Ulfa Mahira*

Delapan tahun, waktu yang sedikit untuk menetap dan tinggal di Ummul Ayman. Nama salah satu dayah di Aceh bertempat di Kecamatan, Samalanga Kabupaten Bireuen. Samalanga ini kerap kali disebut sebagai kota santri. Selain mengaji, saya juga belajar formal di Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Ummul Ayman Semester V, Prodi Hukum Ekonomi Syariah (HES).

Saya masuk ke Ummul Ayman tahun 2013. Saat itu santriwati di Ummul Ayman putri hanya berkisar kurang lebih 300 orang. Tepatnya, saya adalah angkatan ke-9 di dayah yang didirikan oleh Syaikhuna Tgk H. Nuruzzahri Yahya (Waled Nu) ini.

Dalam kurun waktu delapan tahun berbagai tantangan yang datang bukan hal mudah saya dan puluhan teman lainnya di hadapan. Contohnya saja di awal-awal, banyak di antara kami yang menangis karena alasan rindu; rindu orang tua, rindu masakan mamak, rindu kampung halaman dan sebagainya.

Tidak sedikit pula diantara kami yang tidak betah lalu memutuskan untuk pindah sekolah, sehingga santri-santri yang lain pun ikut goyah. Tak hanya itu, bosan mengikuti kegiatan dayah yang monoton, itu-itu saja kerap kali menghampiri. Dan terkadang royong beramai-ramai saat kelas lain harus mengikuti sesuatu yang ditunggu-tunggu, hal itu memang terlihat simpel sekali, tapi bagi kami para santri hal itu menjadi kesenangan tersendiri untuk menghibur diri.

Lambat laun waktu berlalu siapa sangka, berkat doa dan dukungan orang-orang tercinta kini kami masih bertahan di dayah. Bahkan diantara kami ada yang sudah menjadi guru. Betapa bangganya orangtua kami, saat menyadari dan mendapati bahwa dulunya cengeng kini telah mengabdi untuk dayah.

Kulliyatul Mu’allimin; ‘Bapak-Teungku – Ibu-Ummi’

Dulunya, Ummul Ayman hanya memiliki pendidikan jenjang SMP dan MAS saja. Seiring berjalannya waktu, Ummul Ayman pun berkembang pesat, lalu membuka perkuliahan sekaligus Kulliyatul Mu’allimin. Mahasiswa di dunia perkuliahan dan Mahasantri di Kulliyatul Muallimin.

Syaikhuna Waled dengan STIS Ummul Ayman bersama sistem dayahnya (Kulliyatul Mu’allimin –red) menargetkan anak didiknya agar menjadi ‘Bapak-Tengku’ untuk laki-laki dan ‘Ibu-Ummi’ untuk kami yang perempuan. Artinya, setamat dari sini, kami bisa menjadi ‘ibu’ di dunia sekolah dan ‘ummi’ di dunia kedayahan; mampu mensinergikan kedua ilmu tersebut.

Aktivitas mahasantri di Kulliyatul Muallimin terbilang sama dengan santri-santri lainnya. Saat matahari mulai meninggi pukul 09.00-11.00 WIB kami mulai mengaji dan menelaah kitab-kitab Arab. Memakai pakaian rapi serta jelbab putih, jangan lupa cadar untuk menutupi wajah.

Khusus dengan kelas ruang saya, saya bersama belasan teman lainnya diajari oleh guru laki-laki. Kami menyebut beliau dengan panggilan ‘ustad’. Kitab-kitab Arab klasik yang kami jelajahi diantaranya Minhajutthalibin karangan salah satu Imam besar, yakni Imam Nawawi penggemar ilmu fiqh, Alfiyah Ibnu Malik penggemar ilmu nahwu, kitab Sirajuthalibin penggemar ilmu tasawuf disertakan juga kitab melayu seperti kitab Delapan karangan beberapa ulama Aceh.

Tujuannya sebagai bekal kami agar nanti dapat menyebarkannya kepada keluarga-keluarga kami; nek, abu, makchik, makwa kami di rumah serta masyarakat umumnya. Dua kali seminggu kami belajar dengan Waled di Ummul Ayman Bustanussaban. Letaknya tak jauh dari Ummul Ayman induk.

Semburat pagi yang dipancarkan di perkampungan Gampong Putoh. Kami ramai-ramai menuju ke sana dengan berjalan kaki. Walaupun begitu kami tetap semangat. Menyusuri jalan melewati melewati Dayah Muslimat, Ummul Ayman putra serta Baitul Ihsan. Berjalan berderet bagai semut, dengan ija pinggang (kain sarung), jelbab putih, cadar, kaos kaki dan memegangi kitab. Sempurna sudah kami menjadi pusat perhatian penduduk kampung pagi itu.

Sesampainya disana, Waled mulai mengajar kitab Waraqat fan ilmu Usul Fiqh. Di sela-sela mengajar, beliau tidak lupa mengingatkan dan menasehati kami pentingnya beliau mempelajari ilmu agama dan berulangnya. Di usia senjanya, beliau masih sangat bersemangat mengajar. Betapa hati ini terkagum-kagum dengan sosok Waled. Keramahan beliau dengan menyunggingkan senyuman dan bertanya kepada anak didiknya membuat hati terpana akan sosoknya.

***

*Mahasiswi dengan hobinya membaca dan menonton. Sekarang, ia duduk di semester V Prodi Hukum Ekonomi Islam (HES). Ustadza, putri dari Bapak alm. Abdullah ini berasal dari Ronga-ronga, Bener Meriah.

Melukis Asa di Balik Dinding Pesantren

Loading

Oleh: Mizaiturrahmi*

‘A strong hope can make your dreams come true.’ (Sebuah harapan yang kuat dapat membuat mimpi kamu menjadi nyata). Itulah motto saya dalam meyakinkan diri untuk mampu bertahan dengan waktu yang lama di dalam dayah. Dayah yakni suatu lembaga pendidikan Islam yang terdiri dari bangunan, balai-balai dan bersistem asrama.

Dalam istilah Bahasa Indonesia yang benar, dayah dikatakan juga dengan istilah ‘pesantren’. Pesantren merupakan salah satu lembaga yang telah dibangun bahkan lebih tua dari usia Indonesia ini sendiri. Tidak salah jika Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat kuat dalam membudidayakan dan memberikan perhatian khusus kepada pesantren-pesantren..

Jauh sebelum Indonesia mengenal Islam, dunia telah mengenalkan  pesantren. Meski namanya berbeda, akan tetapi prinsip dan latar belakangnya tetap sama. Tipologi dalam membangun pesantren juga dipengaruhi oleh lingkungan dan budaya dari suatu daerah. Namun, tujuannya tetap sama yaitu ilmu (pengetahuan agama Islam) dan disertai akhlakul karimah.

Mayoritas pesantren –pada dasarnya- lebih mengarah kepada pengajaran kitab-kitab turast (klasik) baik dalam bidang fiqh, tasawuf maupun ilmu bahasa. Konsep seperti ini digunakan oleh dayah-dayah salafiyah. Ada juga pesantren yang memfokuskan kepada pengajaran Al-Quran saja dan tidak sedikit pesantren yang memadukan antara pengetahuan ilmu agama dengan pengetahuan umum (sekolah). Yang terakhir ini lebih dikenal dengan istilah ‘dayah semi modern’.

Saat ini saya berdomisili di Dayah Ummul Ayman, di bawah asuhan Tgk. H. Nuruzzahri Yahya (Waled Nu). Yayasan ini berpusat di desa Kampong Putoh, kecamatan Samalanga, kabupaten Bireuen. Mugkin Anda pernah mendengar Dayah Mudi Mesra, nah Ummul Ayman ini berjarak sekitar 100 meter dari dayah terbesar di kabupaten Bireuen itu.

Dayah Ummul Ayman ini termasuk di antara salah satu dayah yang menggabungkan antara pengajaran kitab dayah-dayah salafiyah dan pengetahuan umum. Tak hanya belajar kitab-kitab kuning, di sini saya juga melanjutkan pendidikan formal saya di jenjang kuliyah. Pagi dan malam saya mengaji kitab, sedangkan siang dan sore, saya mengikuti pelajaran-pelajaran kuliah. Menjadi manusia yang hidup di zaman milenial ini tentu harus mengikuti perkembangan zaman. Itulah salah satu alasan lahirnya pesantren semi modern ini.

Akhir-akhir ini, ada orang-orang tua yang beranggapan bahwa seorang santri tidak ada masa depan, tidak bisa berbaur dengan masyarakat. Pikiran negatif semacam itu kian marak digulirkan di tengah-tengah masyarakat sehingga banyak dari orang tua yang menciut keinginannya untuk mengantarkan buah hatinya ke pesantren, dengan alasan takut tidak ada masa depan.

Sejak masuk tahun 2012, tentu sudah banyak pengalaman yang telah saya peroleh. Baik dari segi keilmuan maupun terkait tentang ilmu berkehidupan. Dari segi keilmuan, awal mula niat saya menuntut ilmu yakni untuk menghilangkan kebodohan saya dalam beragama yang benar dan sesuai dengan tuntutan syariat. Seperti diketahui, bahwa untuk menuju ke titik terang (beragama yang benar) yakni melalui jalan yang tepat, salah satu medianya yaitu dengan menuntut ilmu agama.

Dalam hal ini, izinkan saya mengutip sepatah qoute dari seorang filsuf Jerman, Nicolaus Cusanus atau juga dikenal dengan Nicholas of Kues yang berpandangan bahwa ‘manusia itu adalah makhluk hidup yang selalu melakukan perjalanan, dalam perjalanan itu dibutuhkan ilmu pengetahuan. Semakin banyak pengetahuan yang ia perlukan maka ia semakin menyadari betapa bodohnya dirinya’. Pendapat ini diabadikan dalam istilah ‘dedoctaignorantia’ (ketidaktahuan yang terpelajar, learnedignorance).

Terlepas siapa mereka yang berpendapat dan apa latar belakangnya yang terpenting adalah pandangan positif yang ia berikan bagi ilmu pengetahuan. Manusia tidak akan pernah puas akan ilmu jika ia menyadari betapa bodoh dirinya. Sehingga virus negatif kebodohan, semakin lama akan terkikis oleh kemauannya  yang selalu mau belajar. Maka senada dengan inilah, kita diperintahkan menuntut ilmu mulai dari buaian hingga ke liang lahad.

Hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah kesuksesan dalam menuntut ilmu tidak dipengaruhi oleh status ekonomi seorang santri. Dalam arti lain, menuntut ilmu bukan tentang siapa yang akan kaya dan miskin. Akan tetapi, siapa yang lebih lama mempertahankan (istiqamah) dan bersungguh-sungguh ketika menuntutnya.

Mengasah Nalar dengan Menulis

‘Siapa yang bersungguh-sungguh pasti dapat ia.’ Pepatah ini yang selalu menjadi penyemangat saya dalam bersungguh-sungguh ketika belajar. Saat ini saya mendalami ilmu literasi (tulis-menulis). Sebagai seorang mahasantriwati dan mahasiswi di STIS, tentu tak lepas dari yang namanya menulis. Kuliah dan menulis merupakan dua hal yang tak bisa dipisahkan.

Hobi menulis saya sebenarnya sudah terasah mulai saya di jenjang sekolah menengah pertama. Ketika itu, saya paling suka jika guru-guru sekolah meminta kami untuk membuat karangan. Bagi saya, menulis, awalnya adalah menulis. Tidak harus banyak teori.

Semangat literasi semakin memuncak ketika saya masuk di STIS. Di awal pengenalan kampus, seperti mahasiswi-mahasiswi di universitas lainnya juga, kami di STIS juga ada Ospek. Salah satu yang tertantang ketika itu adalah diadakannya sayembara menulis karya ilmiah.

Betapa terkejutnya saya ketika di hari pengumuman, karya tulis saya bertengger di posisi teratas sebagai juara pertama. Bahagianya bukan kepalang. Tak pernah terbayangkan sebelumnya. Meski hanya suka mencorat-coret, tapi tak pernah mempredeksi diri akan keluar sebagai juara. Tapi saya yakin itulah berkat kegigihan dan kemauan keras saya untuk sukses dalam dunia menulis. Lagi-lagi man jadda wajada.

Tak sekadar sampai disitu, saya semakin menarik untuk memasuki lebih dalam di dunia menulis. Melalui media sosial, saya mengikuti berbagai even menulis, baik yang berupa puisi maupun cerita pendek (cerpen) maupun kisah-kisah inspiratif.

Syukur kepada Allah, Allah tidak mengkhianati usaha hambaNya. Salah satu karya saya terpilih dan dibukukan dalam buku antologi, saya sebut saja namanya ‘Pengalaman Hidup, the Best of Motivator’. Coretan saya yang berjudul ‘Masa Depan, Skenario Tuhan’ itu bersanding dengan 36 penulis lainnya.

Dari pengalaman ini, bisa saya simpulkan bahwa kesuksesan seseorang dalam menuntut ilmu tak dipengaruhi di instansi mana ia belajar. Namun metode dan kesungguhannyalah yang menjadi penyebab seseorang sukses atau tidak. Namun, saya selalu berpegang bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan kesungguhan hambaNya.

Gelar santri bukan  disandang hanya karena tempat semata ia menuntut, melainkan merupakan karakter yang selalu melekat. Apapun profesi yang ia geluti, nilai-nilai kesantrian itu akan terbawa searus dengan kehidupan. Banyak kaum santri yang sudah berhasil. Mereka membuktikan bahwa santri tidak ketinggalan zaman, santri punya masa depan baik duniawi maupun ukhrawi. Syedara lon, bukankah masa depan yang hakiki itu adalah kehidupan di akhirat nanti?!

***

*Putri asal Cot Lheue Rheng, Trienggadeng, mahasiswi semester VI STIS Ummul Ayman.

**Tulisan ini telah dimuat di Serambi Indonesia, rubrik Jurnalisme Warga, edisi Rabu (08/09/21): https://aceh.tribunnews.com/2021/09/08/melukis-asa-di-balik-dinding-pesantren

Membumikan Hijrah

Loading

Oleh: Afdhalurrijal Ridhwan*

Muharram merupakan salah satu bulan yang mengandung banyak fadhilah. Bulan yang dilipatgandakan pahala yang melebihi bulan-bulan hijriah lainnya. Bahkan, selain Zulqa’dah, Zulhijjah dan Rajab, bulan Muharram juga termasuk dalam kategori ‘bulan haram’, artinya bulan yang dilarang terjadi pertumpahan darah.

Di samping itu, Muharram juga termasuk bulan kedua yang disunnahkan berpuasa sesudah bulan Ramadhan, di antara hari-hari yang disunnahkannya yaitu hari ‘Asyura (hari kesepuluh Muharram). Namun karena kita umat Rasulullah saw, disunnahkan berpuasa sehari sebelumnya (hari kesembilan -red) atau sesudahnya (hari kesebelas -red) agar terdapat perbedaan dengan umat nabi terdahulu, yangmana hanya berpuasa di hari ‘Asyura saja.

Di era modernisasi ini, penerapan nilai-nilai ibadah sunnah terlihat mulai memudar dengan dalih pekerjaan yang tak kunjung kelar, tugas yang kian hari semakin menumpuk, atau kendala-kendala lainnya. Padahal, jika praktek ibadah sunnah dibarengi dengan bekerja, sungguh tak akan tergores rasa lelahnya sedikit pun. Bukankah Allah swt telah berfirman yang artinya, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah: 286).

Dari ayat tersebut jelas bahwa kesunnahan melakukan ibadah-ibadah sunnah –termasuk berpuasa ‘Asyura- tidak berkontradiktif dengan aktivitas-aktivitas keseharian. Bahkan, dari segi ganjaran, Allah swt akan melipatgandakan pahala hamba-hambaNya yang sudi bertaqarrub kepadaNya dengan melakukan ibadah sunnah di tengah kesibukan aktivitas mereka.

Di sisi lain, dengan pesatnya modernisasi yang meningkat secara drastis ini, banyak juga hal-hal negatif yang terkadang dengan tidak kita sadari semakin meningkat pula. Seperti percekcokan sesama tetangga, tawuran sesama pelajar, perampasan, perampokan hingga pelecehan terhadap kaum wanita, yang kesemuanya merupakan dalang penghambat tercapainya nilai-nilai Islami di provinsi berjuluk ‘Negeri Hukum’ ini.

Oleh karena itu, momen Muharram yang tak lama lagi akan meninggalkan kita ini menjadi poin penting dalam tahapan penyesuaian pribadi kita. Berikut beberapa ilmu dan hikmah yang dengan sengaja Allah swt turunkan melalui bulan yang mulia ini, di antaranya, Pertama, setelah beberapa tahun berada di bawah otoritas kepemimpinan kaum Quraisy, Rasulullah saw beserta para sahabatnya melakukan perjalanan (hijrah) dari Mekkah Al Mukarramah ke Madinah Al Munawwarah dengan maksud mencari tempat penyampaian dakwah barunya.

Beranjak dari itulah, jelas, bahwa Muharrram merupakan bulan geraknya perbuatan amar makruf nahi munkar dengan menyebar dakwah ke penjuru wilayah, meskipun implementasinya pada abad ke-21 ini terbilang SSM (susah-susah mudah). Namun, hal itu tidak menjadi alasan kita untuk tidak berhijrah. Marilah hijrah dari keterpurukan untuk menggapai keberhasilan yang nyata. Mari kita benahi diri –sebelum membenah orang lain- dari hal-hal yang paling kecil.

Dengan begitulah, jalan hijrah hakiki pun akan sangat mudah kita tempuh nantinya. Jika Rasulullah Saw bersama para sahabatnya mampu memenangkan peperangan dengan melawan musuh-musuhnya, maka hijrah kita di era ini adalah dengan memerangi kerasnya hawa nafsu. Musuh utama dan terbesar yang sangat perlu kita bungkam adalah hawa nafsu.

Kedua, hijrah Rasullah Saw bersama sahabat-sahabatnya dari Mekkah ke Madinah menjadi pelajaran bagi kita bahwa berbuat kebaikan itu sangatlah mudah dan luas cakupannya. Oleh karena itu, berlarilah secepat mungkin untuk meninggakan sifat-sifat tercela yang menjadi penghambat dari hijrah itu sendiri. Bahkan Allah swt saja memerintahkan kita untuk menikmati keindahan ciptaanNya. Hal demikian dapat mendekatkan kita pada rasa syukur, syukur itulah pertanda kita mulai berhijrah dari masa kebodohan atas nikmat Allah Swt menuju pribadi yang lebih agamis, secara dhahir dan bathin.

Akhir kata, semoga taufiq dan ‘inayah Allah Swt selalu tercurahkan kepada kita semua dalam berhijrah ke jalan yang lebih baik. Allahumma amiin.

*Penulis adalah mahasiswa tingkat akhir pada jurusan Hukum Ekonomi Syariah (HES) STIS Ummul Ayman.

**Artikel ini telah tayang di media Aceh Trend, edisi Senin, 09/10/2017 lalu: https://www.acehtrend.com/2017/10/09/membumikan-hijrah/

Sahabat Nabi Bagaikan Jari yang Lima

Loading

Oleh: M. Iqbal*

Kita semua tahu manusia itu memiliki lima jari. Lima jari itu sangat sempurna, pas dan indah untuk dipandang. Coba kita bayangkan seandainya ia kurang satu atau kelebihan satu, pasti akan tampak lucu dan aneh. Maha Suci Allah yang telah menciptakan manusia sebaik-baik bentuk. Ia tahu mana yang terbaik untuk hambaNya. Namun, di balik keindahan ciptaanNya itu, tidakkah kita berpikir bahwa apakah tidak ada filosofi atau hikmah di sana? ataukah hanya berada keindahannya saja.

Ya, tentu tidak. Allah itu sifatnya Hakim: penuh hikmah. Pastinya, di balik ciptaanNya itu ada sesuatu makna yang Ia sembunyikan. Seperti layaknya jari kita ini, pasti banyak hikmah dan rahasia di baliknya. Baik seperti shalat yang berdoa lima waktu, rukun Islam yang lima dan juga lima orang nabi yang mendapatkan gelar Ulul ‘Azmi dariNya.

Pada kesempatan ini, penulis ingin membahas satu hikmah saja mengenai jari itu yakni ‘penyimbolan nabi dan sahabatnya dengan jari yang lima’:

– JARI TELUNJUK. Abubakar As-Shiddiq disimbolkan dengan jari telunjuk. Beliau adalah sahabat yang paling pertama masuk Islam. Sahabat yang paling kuat imannya kepada Nabi Muhammad dan sahabat yang paling cepat membenarkan apa yang disampaikan oleh Rasulullah. Apa saja yang nabi katakan langsung dibenarkan tanpa perlu banyak bertanya. Sehingga beliau digelar dengan As-Shiddiq, yang paling cepat membenarkan.

Lalu apa dengan jari telunjuk? Jari telunjuk adalah lambangnya ‘tauhid’. Tidakkah kita lihat disaat seseorang penceramah mengatakan ‘Puji syukur kita panjatkan kepada Allah’ dia menunjuk ke atas menggunakan jari telunjuknya. Dan disaat seorang shalat saat duduk tasyahud ia mengucapkan lafadh kalimat syahadat dengan mengangkat jari telunjuknya bukan jari yang lain. Karena jari ini disimbolkan dengan keimanan mana sarafnya juga berhubungan langsung dengan hati. Abu Bakar sangatlah cocok disimbolkan dengan jari ini karena beliaulah sahabat nabi yang paling kuat imannya

– JARI TENGAH. Jari tengah dilambangkan dengan Sayyiduna Umar bin Khattab . Jari tengah adalah jari yang paling panjang dan paling gagah di antara jari yang lain, Sayyiduna Umar berpostur paling besar dan paling gagah dibandingkan sahabat-sahabat Rasulullah Saw yang lainnya. Umar juga digelar dengan Al-Faruq yang artinya ‘pemisah antara yang benar dan yang salah’. Kisahnya pada saat itu tidak ada sahabat yang berani shalat di Ka’bah pertama kali Say selainyiduna Umar.

Begitu Umar masuk Islam, ia datang kepada nabi dan berkata, “Wahai Rasulullah, adakah yang kita lakukan ini kebenaran?” Rasul menjawab, “Iya” . Maka Umar langsung pergi ke depan Ka’bah dan shalat di sana di hadapan orang banyak. Tak ada seorang pun kafir Quraisy yang berani mengganggunya. Saat acara ia digelar dengan Al-Faruq. Ini sesuai dengan posisi jari tengah. Ia juga berada tepat di tengah jari, membelah jari menjadi dua, memisahkah dua jari di kanan dan kirinya. SubhanAllah.

– JARI MANIS. Jari Manis disimbolkan dengan Sayyiduna Ustman bin Affan . Karena di antara semua jari, jari manislah yang bentuknya paling cantik dan paling sederhana. Ia tidak terlalu besar dan kecil, tidak terlalu panjang dan pendek. Ini sama seperti perawakan Utsman bin Affan. Beliau sahabat nabi yang paling tampan dibanding sahabat yang lain. Juga postur tubuhnya yang sederhana tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.

Ustman juga dikenal dengan sahabat nabi yang paling kaya. Beliau sangat banyak memberikan hartanya untuk membantu perjuangan nabi. Bahkan tercatat, rekening pertama di dunia yang masih ada sampai saat ini adalah rekeningnya Ustman bin Affan. Beliau juga mewaqafkan kebun kurma yang masih dimanfaatkan sampai sekarang. Ini juga sama seperti jari manis. Kebanyakan orang memakai cincin pada jari itu, yang paling kaya di antara jari-jari yang lain.

– JARI KELINGKING Jari ini disimbolkan dengan Sayyiduna Ali bin Abi Thalib . Dimana jari ini adalah jari yang paling kecil di antara jari yang lain. Seperti Ali bin Abi Thalib, sahabat nabi yang paling muda dan masuk Islam sejak masa belianya. Ini karena ia keponakannya nabi dan hidup bersama nabi, dididik dan dirawat olehnya. Ali juga menjadi penutup empat sahabat yang bergelar ‘Khulafaur Rasyidin’ (kelompok-kelompok Rasulullah yang terpetunjuk). Sebagaimana jari kelingking yang menjadi penutup bagi jari-jari yang lainnya.

– IBU JARI. Ibu jari disimbolkan dengan Nabi kita Muhammad Saw. Jari ini adalah pemimpin jari-jari lain dan paling berpengaruh di antara mereka. Keempat jari tadi tidak akan berguna tanpa ibu jari. Coba bayangkan bagaimana cara kita makan tanpa ibu jari. Bagaimana cara menulis tanpa ibu jari. Dan bagaimana kita pegang sesuatu seperti pedang dan cangkul tanpa ibu jari, ini tak akan kuat dan sempurna. Sama seperti sahabat nabi yang telah datang, yang tak akan berguna tanpa kehadiran Rasulullah Saw.

Ini juga pernah berada dalam sebuah nadham yang menceritakan sifat-sifat Rasulullah saw. Jika dibaca secara lengkap maka salah satu dari baitnya yang artinya:

Jari kamu ada lima, dan dari lima itu dikabarkan

Demikian itu dengan qasad dan isyarat penerimaan pertanyaan

Jari telunjuk adalah As-Shiddiq, jari tengah adalah Al-Faruq

Jari manis adalah Ustman dan jari kelingking adalah Ali (Haidar: Singa).

Ini adalah salah satu hikmah sang pencipta, dan hanya sekelumit hikmah yang kita ketahui. Masih banyak hikmah-hikmah lain yang disembunyikan oleh Allah swt, belum mampu kita memahaminya. Intinya, semua ciptaan Allah itu ada hikmahnya, cuma kita manusia saja yang kurang mengerti dan memahami.

***

* Mahasiswa semester VII STIS Ummul Ayman asal Usi, Mutiara Timur

Tentang Wabah dan Hikmah Dibalik Covid-19

Loading

Oleh: Farhana Rizky*

Seperti yang kita ketahui, dunia sedang dalam keadaan “sakit” akibat wabah Covid-19. Berbagai media memberitakan tentang jumlah korban, pasien sembuh maupun pasien yang gugur dalam perjuangan melawan penyakit yang dialaminya itu. Para ulama serta petugas kesehatan selalu menghimbau agar warga tetap memakai stefy ready, baik masker, sarung tangan, handsinitaizer dan lainnya agar terhindar dari tertularnya Covid-19 tersebut. Penyakit itu tak hanya tertular kepada masyarakat biasa, bahkan para elit-elit pun juga terserang virus tersebut.

Wabah seperti ini bukan kali pertama terjadi di muka bumi. PADA zaman Rasulullah Saw pun Sudah Terjadi Peristiwa Yang Serupa, yakni wabah tha’un Yang Menyerang Suatu Daerah. Ada ilmuan sejarah yang merangkum bahwasanya telah terjadi serangan dari virus-virus mematikan dari tahun ke tahun. Sejarah membuktikan siklus terjadi 100 tahun sekali.

Dengan mewabah Covid-19 diawal tahun 2020 ini rupanya terakhir, dimana virus tersebut ternyata merupakan wabah keempat selama abad yang sangat banyak korban jiwa di seluruh dunia. Uniknya setiap wabah yang terjadi memiliki selang waktu yang hampir serupa, yakni kurang lebih dari 100 tahun sekali. Adapun beberapan wabah tersebut di antaranya sebagai berikut: Wabah Pes (Sampar) tahun 1720 yang melanda kota Marseille, Perancis dan menewaskan lebih dari seratus ribu warga;

Wabah Kolera tahun 1820 yang merebak hampir ke seluruh negara Asia termasuk Indonesia. Kolera sendiri diketahui merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri Vibrio Cholerae. Tercatat lebih dari 100.000 mortalitas di Asia akibat wabah Kolera; Wabah Flu Spanyol tahun 1920; dan yang terakhir adalah Wabah Corona (Covid-19) tahun 2020.

Terkait dengan wabah yang terakhir itu, pemerintah pun mengambil langkah-langkah dan kebijakan untuk menaggulangi tertularnya virus tersebut. Ada banyak hikmah yang bisa kita petik di balik tersebarnya Covid-19 itu, di antaranya:

Makin dekat setiap keluarga, karena warga harus mengisolasikan diri di rumah (#di_rumah_saja) baik itu bekerja dari rumah , kuliah online, meeting online dan lainnya. Secara tidak langsung, dengan minimnya gerak kita telah kembali keseimbangan alam yang sebelumnya hancur dan rusakdi bidang ekosistem laut. Coba kita lihat laut yang sekarang cukup berbeda dengan yang sebelumnya dimana sumua pesisir dan perairan bersih dari sampah para pengunjung sehingga kehidupan makhluk yang ada di laut yang terjaga keseimbangannya

Begitupun hutan, juga terjaga ekosistemnya tanpa ada oknum yang keluar dari rumah untuk menebang pohon pohon. Dan bukan hanya itu, sebagian dari hikmahnya lagi yang patut kita acungi jempol yaitu semangat menuntut ilmu dan memperbanyak doa bagi warga yang semakin mengebu-ngebu untuk memperdekatkan diri kepada sang Khaliq.

Jika kita lihat dari segi positifnya Allah Swt memberikan cobaan ini bukan hanya untuk memerintahkan manusia untuk menjaga pola makannya tak mengkomsumsi apa yang telah dilarang dalam kitab suciNya, namun Allah juga memberi kabar kepada setiap insan di dunia bahwa Allah “rindu” akan makhlukNya untuk setiap waktu petunjukNya, memintaNya dan selalu mengingatNya.

Tulisan ini terinspirasi dari kutipan ‘Ketika Senja Kehilangan Langitnya’, begitu pula bumi yang kehilangan dari segala aspek kesehariannya baik itu kerabat dekat, ekonomi, sosial, adat dan lainnya.

***

* Mahasiswa Semester II Prodi Hukum Keluarga Islam (HKI) STIS Ummul Ayman asal Jeunieb.

Subuh, Waktu yang Dirindukan

Loading

Oleh: M. Khalil Jamaluddin*

Sudah maklum bersama bahwa shalat subuh merupakan sebuah kewajiban yang telah Allah fardhukan melalui Rasulullah Saw kepada segenap kaum muslim. Tak bisa dipungkiri lagi bahwa shalat subuh merupakan salah satu aktivitas yang harus melekat bagi setiap jiwa seorang muslim. Sebenarnya, waktu subuh merupakan ujian. Di sinilah akan terlihat kepribadian seseorang. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda,

 “Sesungguhnya shalat subuh dan isya merupakan shalat yang berat bagi orang munafik. Sesungguhnya mereka yang ramah melihat apa yang ada di dalam shalat subuh dan isya, maka mereka akan melakukannya meskipun telah merangkak. (HR Ahmad & Nasai).

Orang-orang Kristen dan Ateis bangun pagi-pagi untuk kehidupan dunia, pada saat yang bersamaan pada waktu shalat Subuh. Hajat mereka mampu mendorong mereka untuk bangun pagi-pagi, namun mengapa seorang mukmin tidak mau mengerahkan segenap potensinya untuk menyamai mereka bangun pagi.

Fenomenanya lagi orang-orang non muslim di Amerika, mereka bangun pagi-pagi untuk keperluan dunia juga bersamaan dengan waktu subuh. Apakah kita tahu mengapa mereka bangun sepagi itu? Hanya untuk menghirup udara segar di awal pagi bersama anjing mereka. Seorang penguasa Yahudi juga pernah mengatakan, “Kami takut kepada umat Islam yang telah melaksanakan shalat subuh layaknya jamaah shalat Jumat.”

Di balik pelaksanaan dua rakaat diambang fajar itu, tersimpan rahasia yang menakjubkan dan banyak sekali hikmah serta keistimewaannya. Salah satunya adalah jaminan dari Allah Swt akan masuk surga dan disaksikan oleh para malaikat. As firmanNya dalam Al-Quran, “Dan (dirikan pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh Malaikat). (Al-Israk: 78).

Itulah perkiraan ulama tidak mau melewatkan waktu karena keberkahannya di tiap langkah yang luar biasa dalam mengawali hari. Di samping latihan harian bagi rohani, juga menjadi muara ilmu dan iman. Menariknya lagi, subuh ternyata bak peralihan dari era jahiliah menuju tauhid, seperti berakhirnya kaum Jahiliah dan Tsamud yang dilibas pada waktu subuh yang menandakan berakhirnya jahiliah menuju era tauhid.

Akan amat disayangkan bahwa kita membahas shalat subuh hanya sebatas pengetahuan saja atau tahu merasakan teoritis tanpa realisasi di alam nyata. Namun kita memaparkan semua itu agar ada usaha semaksimal mungkin untuk menerapkan syariat Allah. Penulis sangat merindukan agar suasana subuh itu akan lebih ramai dan gemuruh dari waktu-waktu shalat lainnya.

Subuh juga lebih agung dari dunia dan isinya. Kalimat ini tak lain selain isi Hadits Rasulullah saw yang menyatakan bahwa shalat sunnah Qabliyah subuh itu lebih baik dari dunia dan isinya. Oleh karena itu, penulis ajakan pembaca untuk kembali menyemarakkan jamaah subuh. Jika tidak, kelak kita akan menyesal karena telah kehilangan waktu yang begitu istimewa yang kehilangan dunia dan seisinya.

***

 *Penulis merupakan mahasiswa Semester IV, Hukum Keluarga Islam (HKI) STIS Ummul Ayman asal Juli, Bireuen                           

Yuk Jadi Follower Sejati Rasulullah Saw!

Loading

Oleh: Martunis*

Mayoritas diantara kita sudah tahu bahwa Nabi Muhammad Saw sangat mencintai umatnya. Bahkan tatkala Rasulullah hampir wafat pun beliau tak menyebut nama anak, istri, nama bangsa dan lain sebagainya akan tetapi beliau memproklamirkan ucapan ‘ummati-ummati’ yang berarti ‘ummatku ummatku’. Dari cuplikan sejarah singkat itu dapat kita simpulkan bahwa Rasulullah saw benar-benar mencintai kita selaku ummatnya. Namun yang menjadi pertanyaan sekarang ialah ‘apakah kita selaku umat beliau juga mencintainya?’

Rasa inilah yang semestinya kita tanamkan di dalam sanubari. Namun, itu semua tentu memerlukan kepada bukti. Adapun bukti cinta terhadapnya dapat terlihat sebagai berikut:

-Memperbanyak bershalawat. Dalam satu riwayat pernah disebutkan bahwa, “Barangsiapa yang cinta akan sesuatu pasti ia akan banyak menyebut-nyebutnya.” Apabila kita mencintai Rasul maka jalannya adalah dengan memperbanyak berselawat kepadanya.

Tuntutan berselawat merupakan tuntutan yang spesial. Allah Swt langsung yang menyuruh makhlukNya untuk berselawat atas Rasulullah saw, sebagaimana firman Allah Swt, “Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [Al-Ahzaab: 56]. Di samping itu, berselawat lebih afdhal lagi jika ditunjang dengan mendalami sedikit demi sedikit sejarah kehidupan sang manusia teragung.

-Adapun jalan kedua ialah menjaga warisan beliau. Rasulullah Saw tidak mewarisakan harta yang berlimpah kepada ummatnya seperti emas dan perak  yang banyak, ladang yang berhektar, dinar dan dirham yang meruah, akan tetapi Rasulullah Saw mewarisakan tiga hal yang lebih indah yang dapat menandingi semuanya yakni Al-Qur’an, Al-Hadits serta warisan ilmunya di dalam dada-dada para ulama. Rasulullah pernah bersabda yang artinya,

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. al-Imam at-Tirmidzi).

-Sementara ketiga yakni meniru suri tauladannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.” (Al-Ahzab: 21). Allah Swt sendiri telah menegaskan bahwa pada diri Rasulullah terdapat teladan baik yang patut kita acungkan jempol dan kita terapkan dalam aspek kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, salah seorang ulama Tarim, Yaman, Al Habib Umar pernah menyampaikan,

“Apabila kita ingin mengeluh tidak ada lagi yang mencintai kita di dunia ini maka ingatlah Rasulullah yang selalu mencintai ummatnya sampai akhir hayatnya. Apabila kita ingin memprotes kelezatan makanan yang kita cicipi hari ini maka ingatlah kepada Rasulullah yang pernah mengikat batu di perutnya demi menahan rasa lapar. Apabila kita ingin melakukan hal yang bertentangan dengen syariat kepada orang lain (balas dendam) maka ingatlah kepada Rasulullah yang mendoakan kebaikan  kepada penduduk Thaif yang telah menzaliminya.”

Akhir kata, penulis ingin mengajak semuanya untuk menjadi follower sejatinya, bukan hanya menjadi penstalking yang budiman tanpa meneladaninya. Semoga!

***

*Mahasiswa Semester II Hukum Ekonomi Islam (HES) STIS Ummul Ayman

Santri, Aset Negeri!

Loading

Oleh: Farhana Rizky*

Kata ‘santri’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti orang yang mendalami agama Islam atau orang yang beribadah dengan sungguh, dalam artian orang saleh. Namun demikian, sebagian besar orang yang menentang pandangannya terhadap santri berbeda dari yang saya sebutkan di atas. Menurut mereka, kata santri adalah bahasa serapan dari bahasa Inggris, ‘Sunthree’ dalam artian yaitu tiga matahari,

Pertama , Matahari Iman yang mereka pancarkan keindahannya lewat seri wajah mereka yang bercahaya, kedua,  Matahari Ilmu pengetahuan yang akan mereka taburkan ke dalam hati-hati orang Islam dengan paham keilmuan tanpa paksaan, dan Matahari , Ihsan ini mereka menampakkan pada saat bola mata bertemu masyarakat indonesia bagaimana tingkah laku, akhlak dan santun santunnya, gaya bicara baik, gerakan tubuh, nada suara yang saling menghargai dan menyayangi sesama.

Hari Santri Nasional (HSN) diperingati setiap tanggal 22 Oktober. HSN sudah ada sejak empat tahun sebelumnya, mulai pada 22 Oktober 2015 yang disahkan langsung oleh Presiden Indonesia Ir. H. Joko Widodo. Kenapa harus tanggal 22 Oktober? Alasannya guna memperingati hari ini Resolusi Jihad untuk para santri yang telah ikut andil untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Resolusi Jihad kali ini pertama kali dikeluarkan oleh KH Hasyim Asy’ari yang menyerukannya pada tanggal 22 Oktober 1945. Hal ini membahas dengan yang dimuat di laman Nahdlatul Ulama, yaitu bangsa pribumi yang dari kalangan santri di pesantrenlah yang sangat berjasa di Indonesia.

Dari sinilah mereka berpikir tentang kemerdekaan Indonesia bukan karena mendukung bangsa Jepang, namun hasil jerih payah dan dukungan seluruh rakyat Indonesia sendiri dan mengagetkan agresi Belanda kedua dengan dukungan pasukan bersarung yang merupakan pribumi dari para santri. Saya mewakili segenap santri, dengan keyakinan saya, sekarang ini adalah sarungan yang memiliki komitmen di dalam negeri yang damai, bahkan damai di dunia.

Sisi lain, berbicara tentang santri tentu kita tak luput dari seabrek keunikan dan aktivitas yang bisa diambil manfaatnya. Selalu siap menunggu, tetap menunggu. Kemana dan apa saja yang dilakukan tak luput dari kata ‘antrian’. Semisal mandi, ambil makan, ke toilet, tentu tak luput dari antrian. Di sisi lain, meskipun menunggu mengantri lama-lama, namun tetap bersabar dan fenomena sebagai fenomena tersebut.

Dalam kesosialan, antri budaya ini sangat berguna untuk keseimbangan kehidupan yaitu saling mendukung dan menghormati dengan sesama. Tidak saling merebut, tetapi saling saling menjatuhkan. Maka tak heran, jika budaya antri (baca: disiplin) ini bisa melebur dalam aktivitas keseharian, juga, sikap saling menghargai selalu dijunjungkan, maka kedamaian pun akan diraih.

Akhir kata, pengarang sangat setuju, segelintir orang yang mengklaim para santri kudet, kolot dan tidak akan berhasil. Hal ini sangat bertentangan dengan fakta di lapangan. Buktinya banyak para santri yang mewakili negara dalam berkompetisi. Baik di bagian keagamaan, bebas, baik itu debat, pidato dan lainnya. Tak hanya itu, ada juga santri Indonesia yang mendapat beasiswa ke luar negeri melalui prestasi yang ia peroleh. Meski begitu, kita tidak menampik juga ada sebagian dari kalangan santri yang bandel atau tidak setuju.

Bukan keniscayaan jika di suatu perkumpulan ada sebagian golongan yang ada di tingkat bawah, baik di pesantren-pesantren maupun di tempat lain. Namun hal itu tidak bisa menjadi bumerang untuk menyerang.

Oleh karena itu, harapan penulis, semoga dengan momentum penerimaan HSN beberapa waktu yang lalu menjadi semangat dan saling menggenggam pihak santri dan masyarakat umum dalam kedamaian NKRI, karena Santri adalah Aset Negeri! Semoga! 

***

*)Penulis merupakan mahasiswa Prodi Hukum Keluarga Islam (HKI) STIS Ummul Ayman Pidie Jaya asal Jeunieb.