Deprecated: Creation of dynamic property OMAPI_Elementor_Widget::$base is deprecated in /home2/milikkit/public_html/wp-content/plugins/optinmonster/OMAPI/Elementor/Widget.php on line 41

Civitas Kampus STIS Ummul Ayman Takziah ke Dayah Putri Muslimat

Loading

Meurah Dua – Segenap dosen dan karyawan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Ummul Ayman bertakziyah ke kediaman almarhumah Ummi Hj. ‘Ainiyah. Acara berlangsung di komplek Dayah Putri Muslimat, Desa Gampong Putoh, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Selasa, (24/12).

Prosesi takziyah juga diisi dengan membaca dzikir beserta tahlilan. Momen tersebut dipimpin langsung oleh Ketua STIS, Dr. Tgk. H. M. Zukhdi, Lc. MA. Dzikir dan tahlilan yang dimaksud dihadiahkan kepada almarhumah. Di Aceh, tahlilan tersebut lebih akrab dikenal dengan sebutan ‘shamadiyah’ (jak ba doa keu ureung meuninggal).

Sedang berlangsung tahlilan yang dipimping langsung oleh Ketua, Dr. Tgk. H. M. Zukhdi, Lc, MA (sebelah kiri foto, mengenakan jas hitam)

Selesai bershamadiyah, para tetamu dipersilahkan untuk mencicipi alakadar khanduri yang telah disediakan. Di Tanoh Rencong ini, prosesi penerimaan tamu takziyah tersebut berlangsung selama tujuh hari dan tujuh malam. Di jajaran penerima tamu di komplek tersebut terlihat Tgk. H. Nuruzzahri (Waled Nu), Tgk H. Munir Yahya (Walidi Peurlak), Tgk. Nu’man (Ayah Ummul Ayman), Tu Muhamamad (Abon Muslimat) beserta cucu-cicit Ummi.

Seperti diketahui, Ummi Hj. ‘Ainiyah telah berpulang ke rahmatullah pada Sabtu, (21/12). Beliau merupakan Pimpinan Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Putri Muslimat sekaligus ibu mertua dari Pendiri STIS Ummul Ayman, yakni Tgk. H. Nuruzzahri Yahya (Waled Nu).

Reporter: MAA

Rektor Jamiatul Madinah Pakistan Isi Seminar di STIS Ummul Ayman

Loading

Pidie Jaya  – Sekolah Tinggi Ilmu Syraiah (STIS) Ummul Ayman, Meurah Dua gelar seminar internasional. Acara yang bertema “Peran Thariqah Al Qadiriyah dalam Mewujudkan wujudkan di Era Revolusi Industri” menghadirkan Syaikh. M. Yasin Attairi Al Qadiri, Rektor Jamiatul Madinah, Karachi, Pakistan, Selasa (17/12).

Dalam paparannya, Syaikh menjelaskan panjang lebar terkait Thariqah Al Qadiriyah serta hubungannya dalam mengembangkan dakwah islamiyah dalam meniti jalan kesuksesan di era sekarang ini. Menurutnya, kesuksesan yang dimaksud tentu harus ada hubungannya dengan spiritual (konsep tasawufnya).

Jangan lupa juga, Syaikh memaparkan perjalanan mursyid utama thariqah tersebut, yakni Syaikh Abdul Qadir Al Jailani. Dimana dengan kegigihan dan keikhlasannyalah yang membuat thariqah tersebut sampai saat ini masih eksis di dunia perthariqahan. Bahkan, kini ia menjelma di universitas-universitas, pondok-pondok pesantren, serta ratusan tempat menimba ilmu agama.

“Sudah memiliki ratusan universitas, ratusan pondok pesantren serta ratusan murid yang tersebar di berbagai penjuru negara,” ujar Syaikh

Visi serta misi Jamiatul Madinah yang berlandaskan Thariqah Al Qadiriyah tersebut tak lain menjaga menjaga aqidah Ahlussunnah Waljamaah, menyebarkan keagungan Islam sesuai tuntutan Rasulullah saw serta membendung umat Islam dari dekadensi aqidah dan moral.

“Kita jangan jangan dengan amaliah. Jika aqidahnya sesat, maka tak ada guna amaliah itu. Ibnu Sirin pernah menolak redaksi sebuah hadits, karena perawinya dianggap sesat. Artinya, aqidah itu utama-utama,” lanjutnya.

Mahasiswi-mahasiswi Sekolah Tinggi Ummul Ayman khidmat paparan dari Syaikh

Kegunaan mursyid merupakan hal yang mendesak bagi setiap hamba dalam meniti jalan wushul kepada Rasulullah saw. dan kepada Allah swt. Dalam hal ini, Thariqah Al Qadiriyah termasuk salah satu media bagi umat Islam untuk mencapai wushul tersebut. Selain itu, Thariqah tersebut juga mengabdikan diri dalam mewujudkan kesuksesan pola pikir-ekonomi umat Islam.

“Thariqah ini memiliki 3.600 pondok pesantren. Tersebar ke seluruh negara. Tak hanya di Asia, juga terseabr di Eropa. Dan alhamdulillah semuanya bisa digratiskan. Itu semua berkat Syaikh Abdul Qadir Al Jailani,” tutup ayah dari tujuh anak ini. [MAA]

Prof. Abu Muslim dalam Bingkai Kenangan

Loading

Oleh: Tgk. Abdul Hamid M. Djamil, Lc. M.Ag*

Nama beliau mulai saya dengar ketika mengeyam pendidikan kelas XI SMA. Setiap pagi Jumat, saya membaca rubrik ‘Konsultasi Agama Islam’ yang diasuhnya di Harian Serambi Indonesia. Beliau mampu menjawab berbagai permasalahan agama dan sosial masyarakat yang rumit dengan penyampaian mudah dipahami dan memuaskan. Saya pun mulai kagum dengan sosok beliau. Suatu ketika, saya bertanya kepada Ayahanda, Waled Nuruzzahri (Waled Samalanga) tentang sosok Abu Muslim.

“Berbicara tentang Fikih, beliaulah orangnya. Di Aceh belum ada orang yang lebih hebat pemahaman Fikih daripada Pak Muslim,” tegas Waled. Hal itu disampaikan Waled saat saya pamit ke Kairo pada 2010 silam. Kala itu saya belum pernah bertemu dengan Abu Muslim.

Pada 2016 saya bersyukur sempat diasuh mata kuliah Fikih Muamalat oleh Abu Muslim di Pascasarjana UIN Ar-Raniry. Pertama masuk ruang, Abu memperkenalkan diri, lalu meminta kami juga memperkenalkan diri. Dalam sesi ini, teman-teman saya menanyakan banyak hal tentang hukum ke Abu, terutama pandangan Abu Muslim terhadap Perbankan Syariah.

Saya justru menanyakan hal lain yang sama sekali tidak ada hubungan dengan ilmu, yaitu perjalanan panjang Abu Muslim dalam menggali ilmu. Beliau menjelaskan secara singkat masa kecilnya, merantau ke Banda Aceh, dan alasan beliau meninggalkan studi semester III di Prodi Bahasa Arab UIN Ar-Raniry menuju Universitas Al-Azhar Kairo. Di Mesir, proses belajar Abu Muslim banyak tantangan, bahkan hampir harus mendekam dalam penjara.

Kisah singkat yang diceritakan dalam ruang itu membuat saya penasaran. Saya ingin tahu lebih dalam bagaimana perjalanan belajar beliau. Di akhir kelas, saya menyampaikan niat tersebut. Lalu Abu Muslim memberikan kontaknya dan meminta untuk datang ke rumahnya setelah shalat asar.

Abu Muslim sosok yang apabila penasaran pada sesuatu, maka ingin tahu detail dan mendalam hal tersebut. Dan beliau mempertaruhkan hidupnya untuk mengetahui hal itu, meskipun harus meninggalkan orang tua, keluarga dan tanah airnya. Hal ini dapat dilihat misalnya pada alasan mengapa beliau ke Banda Aceh dan ke Mesir.

Penulis bersama alm. Prof Abu Muslim Ibrahim

“Suatu sore saat pulang kampong dari sekolah di PGA Lhokseumawe, di masjid dekat rumahnya, Abu melihat beberapa orang melaksanakan shalat magrib dengan cara berjamaah. Lalu datang dua orang lagi mendirikan jamaah yang lain. Kemudian datang dua orang lagi membuat jamaah baru. Hingga ada empat jamaah dalam satu waktu,” terang Abu Muslim. Kejadian itu membuat Abu Muslim penuh tanda tanya. Apakah ini yang dimaksud dengan mazhab yang empat?

Beliau lalu menanyakan hal tersebut kepada ayahnya, Tengku Ibrahim. Sang ayah meminta Muslim kecil untuk terus belajar. Esok hari Abu Muslim kembali ke Lhokseumawe dan berazam ingin menanyakan masalah itu kepada guru favoritnya. Namun sang guru enggan menjawab, meskipun Abu Muslim sudah tiga kali bertanya. Malah sang guru marah dan meminta Abu Muslim keluar kelas dan ujian dengan guru itu pun diskor. Sikap guru itu membuat Abu Muslim sedih. Disisi lain membuat Abu Muslim termotivasi. Sejak kejadian itu, Abu menyimpan pertanyaan itu dalam hatinya, beliau ingin mencari sendiri jawabannya.

Selesai di PGA, Abu Muslim ke Banda Aceh mengambil jurusan Bahasa Arab, dengan cita-cita bisa Bahasa Arab lalu mencari sendiri jawabannya di kitab turast. Namun ketika dicek silabus, ternyata belajar di jurusan itu tidak yakin mendapat jawaban terhadap kejadian yang disaksikan di masjid kampungnya tahun lalu.

Setahun lebih di Banda Aceh, Abu Muslim mendapatkan informasi bahwa Universitas Al-Azhar memberikan beasiswa untuk tujuh orang pelajar Indonesia. Abu ikut tes mengalahkan utusan 13 IAIN seluruh Indonesia, akhirnya Abu lulus dan mengambil jurusan syariah Islamiyah di Al-Azhar, lalu melanjutkan s2 dan s3 tanpa pulang ke Aceh selama 12 tahun lebih.

“Saya baru dapat jawabannya ketika menulis disertasi. Jika setelah s3 saya belum mendapatkan jawaban terhadap masalah empat jamaah magrib di masjid kampong saya, maka saya tidak akan pulang sampai hari ini,” tegas beliau.

Penulis sedang mewawancarai Abu Prof. Muslim

Abu Muslim sosok yang cinta dan bangga menjadi orang Aceh. Hal ini dapat dilihat pada dua peristiwa bersejarah yang dilaluinya, dimana beliau menolak tawaran dan tidak ingin meninggalkan Mesir demi Aceh, demi anak-anak Aceh. Proposal Disertasi yang diajukan pertama kali di tolak. Abu habis visa. Setelah 14 hari hidup di Mesir tanpa visa, Abu ditangkap. Dan diminta menuju persidangan. Abu diberikan tiga pilihan: Membayar denda sebanyak 3500 Le, dideportasi ke Indonesia atau masuk penjara.

“Saya saat itu tidak punya uang, beasiswa sudah diputuskan karena proposal disertasinya tidak lewat sidang. Untuk hari-hari saja saat iti harus menjual baju dan buku. Saya tidak mau dipulangkan ke Indonesia karena masih ingin menyelesaikan doktor di Al-Azhar. Akhirnya saya pilih masuk penjara tapi saya diminta diizinkan untuk bisa membawa buku dan komputer agar saya tetap bisa menulis. Saya yakin hanya karya itu berguna untuk anak cucu saya di Aceh” ungkap Abu Muslim di hadapan sidang Majlis Hakim Mesir.

Namun pada akhirnya Abu tidak jadi masuk penjara, karena ada seorang warga Mesir baik hati yang menjamin Abu. Abu merupakan mahasiswa wafidin termuda pertama yang terdaftar sebagai mahasiswa program doktor pada jurusan Fikih Perbandingan Mazhab dan mahasiswa pertama se-Asia Tenggara untuk jurusan itu. Judul disertasinya “Nadhariyyat al-Iqalah fi al-Fiq al-Islamy Muqaranah” mengantarkan Abu menyabet predikat Summa Cumlaude di kampus Islam tertua di dunia itu.

Pencapaian hebat dari putra Aceh itu mengundang perhatian banyak orang. Hingga seorang warga Aceh yang sudah lama menetap di Saudi, Syehk Abdul Ghani Al-Asyi (Sekretaris Jenderal Palang Merah Negara-Negara Arab) mengarungi laut merah ke Mesir berjumpa Abu ingin dibuat syukuran di hotel mewah di Mesir. Abu menolak syukuran dalam bentuk itu, sebagai gantinya Abu meminta dibawa haji dan umrah. Syekh tersebut setuju. Di Mekkah, disertasi Abu diminta untuk dicopy oleh Universitas Ummul Qura dan Abu diminta menjadi dosen di situ. Kepada Abu diberikan formulirnya, harapan mereka Abu mau. Tapi Abu berkata:

“Saya sudah 12 tahun lebih tidak pulang kampong. Dalam masa yang cukup lama itu saya jauh dari orang tua. Jangankan berbakti, dekat dengan mereka saja saya tidak ada,” jawab Abu. Akhirnya Abu pulang ke Aceh. Dan formulir itu tidak dibalas. Abu ingin hidup di Aceh mendidik generasi Aceh daripada berkarir di luar negeri.

Selamat jalan Abu, guru dan orang tua kami terbaik yang memberikan nasihat kehidupan. Semoga Allah Swt meluaskan kubur, dan mengampunkan kesalahan Abu.

*Dosen di STIS Ummul Ayman, Pidie Jaya, dan Kandidat Doktoral di Sudan