DSC07104

Isi Sambutan, Warek III Teguhkan Peran Pimpinan sebagai Pengarah dan Pengawal Visi-Misi Institusi

Loading

Pidie Jaya – Institut Agama Islam (IAI) Ummul Ayman Pidie Jaya menggelar acara Promosi Jabatan Struktural bagi sejumlah pejabat di lingkungan institusi, Rabu (22/07).

Dalam kegiatan tersebut, Wakil Rektor III IAI Ummul Ayman Pidie Jaya, Dr. Tgk. Syeh Khaliluddin, M.A., memberikan sambutan. Alumnus Doktoral UINSU Medan ini menyampaikan bahwa struktur organisasi merupakan komponen penting dalam menggerakkan roda organisasi, khususnya IAI Ummul Ayman sebagai lembaga yang bergerak di bidang pendidikan.

Menurutnya, setiap individu yang berada dalam struktur organisasi pada hakikatnya merupakan seorang pemimpin, baik pada tingkat program studi, fakultas maupun institusi.

“Kalau organisasi dianalogikan seperti tubuh, maka setiap unsur di dalamnya adalah organ. Kita semua adalah pemimpin sesuai dengan tingkat dan tanggung jawab masing-masing,” jelasnya.

Ia mengibaratkan pimpinan sebagai kepala dalam tubuh manusia. Kepala tidak akan berfungsi tanpa otak yang merancang, merencanakan dan mengontrol kerja seluruh organ. Karena itu, seorang pimpinan tidak hanya bertugas memberikan perintah, tetapi juga berperan sebagai pengarah, perencana, pengawal visi-misi dan penanggung jawab organisasi.

“Pimpinan bukanlah orang yang hanya memerintah. Pimpinan adalah pengarah, pembuat perencanaan, pengawal visi-misi, sekaligus pihak yang bertanggung jawab terhadap jalannya organisasi,” ungkapnya.

Ia menegaskan, pendelegasian tugas kepada bawahan tidak berarti seorang pimpinan melepaskan tanggung jawab. Seorang pimpinan tetap harus memberikan arahan, melakukan pengawasan dan mengevaluasi setiap tugas yang telah didelegasikan.

“Makna tanggung jawab adalah adanya jawaban ketika seseorang ditanya. Ketika ditanya tentang suatu persoalan lalu menjawab, ‘Saya tidak paham, itu urusan bawahan,’ maka sesungguhnya ia belum memahami makna tanggung jawab. Pimpinan boleh mendelegasikan tugas, tetapi tidak boleh melepaskan tanggung jawab,” tegasnya.

Dalam konteks kinerja, Dr. Tgk. Syeh Khaliluddin juga mengingatkan pentingnya memahami Indikator Kinerja Utama (IKU) dan Indikator Kinerja Tambahan (IKT). Menurutnya, setiap pejabat struktural harus memahami terlebih dahulu tugas dan target utama yang menjadi tanggung jawabnya sebelum berfokus pada pekerjaan tambahan.

“Jangan sampai kita sibuk dengan pekerjaan tambahan, sementara kinerja utama kita sendiri tidak kita pahami,” katanya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa salah satu fungsi utama seorang pimpinan adalah merancang perencanaan. Perencanaan, menurutnya, bukan sekadar angan-angan, melainkan hasil pemikiran kolektif yang diformalkan setelah melalui proses analisis.

Seorang pimpinan juga dituntut mampu mengidentifikasi berbagai persoalan dalam organisasi. Sebab, roda organisasi senantiasa menghadapi tantangan dan permasalahan yang membutuhkan solusi. Oleh karena itu, ia mendorong agar rapat pimpinan dilaksanakan secara rutin, minimal tiga kali dalam satu semester, sebagai ruang evaluasi dan penyelesaian masalah organisasi.

“Seorang pimpinan harus mampu mengidentifikasi masalah, karena organisasi selalu memiliki persoalan. Masalah bukan untuk dihindari, tetapi untuk dideteksi dan diselesaikan,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa kepemimpinan bukan semata-mata bakat bawaan, melainkan keterampilan yang dapat dipelajari dan dikembangkan. Kepemimpinan merupakan seni memengaruhi orang lain agar mampu menjalankan tugas-tugas organisasi secara efektif.

“Cara memengaruhi orang lain dapat dilakukan melalui komunikasi persuasif maupun sugesti. Karena itu, kemampuan komunikasi menjadi bagian penting dalam kepemimpinan,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia mengingatkan seluruh pejabat struktural agar siap ditempatkan di mana pun dan mengemban jabatan apa pun sesuai kebutuhan organisasi.

“Kita harus siap ditempatkan di mana pun dan dengan jabatan apa pun. Sebab, kehidupan sering kali membawa kita kepada realitas yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya,” tuturnya.

Ia mengajak seluruh keluarga besar IAI Ummul Ayman untuk terus menjalani setiap amanah dengan optimisme dan semangat perjuangan. Menurutnya, IAI Ummul Ayman bukanlah institusi yang diwariskan, melainkan institusi yang dirintis oleh orang-orang yang memiliki semangat dan keberanian untuk membangun.

“Ternyata kita terlempar dalam satu fakta kehidupan. Terkadang kehidupan itu tidak seperti yang kita bayangkan. Oleh karena itu, jalani saja. Insyaallah kita bisa dan mampu,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa IAI Ummul Ayman memiliki cita-cita besar untuk terus berkembang hingga menjadi universitas. Cita-cita tersebut, menurutnya, bukan hanya untuk generasi hari ini, tetapi juga untuk anak cucu di masa yang akan datang.

“IAI bukan warisan, tetapi rintisan. Ia dirintis oleh orang-orang yang tidak semuanya memiliki latar belakang akademik. Semua itu terjadi karena spirit dan semangat. Oleh karena itu, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini,” katanya.

Menutup penyampaiannya, Dr. Syeh mengajak seluruh pejabat struktural untuk tidak mundur dalam menghadapi tantangan.

“IAI akan menjadi universitas. Untuk siapa? Untuk anak-cucu kita. Para perintis akan menjadi pelaku sejarah dan akan menjadi pahlawan. Hari ini kita berada di garis depan, di garis para pahlawan. Maka jangan mundur dan jangan menjadi pecundang,” pungkasnya.

Acara Promosi Jabatan Struktural tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat komitmen seluruh unsur pimpinan dan sivitas akademika dalam menjalankan amanah, meningkatkan kinerja, serta bersama-sama mengawal perkembangan IAI Ummul Ayman menuju masa depan yang lebih besar.

(Kabag DokPub)