WhatsApp Image 2026-07-19 at 00.53.04

Waled NU, Lampoh Raya, dan Investasi Peradaban IAI di Negeri Japakeh

Loading

Oleh: AFDHALURRIZAL, S.H*

Puluhan tahun lalu tempat ini kental dikenal dengan sebutan Lampoh Raya. Sepetak tanah milik keluarga berketurunan ampon, yang berjarak sekitar 50 meter dari Jalan Banda Aceh-Medan, Meunasah Bie, Meurah Dua, Pidie Jaya. Letaknya di sebelah kanan dari arah Medan, sebaliknya jika dari arah Banda Aceh. Tepat di tikungan patah sebelum Simpang 4 Meurah Dua.

Pertengahan 2015, Syaikhuna Waled Nuruzzahri menyulap sarang makhluk halus itu menjadi tempat yang sangat berguna, yakni sebagai pusat pendidikan agama Islam dan umum. Tidak semudah membalikkan telapak tangan dan tidak pernah menyerah, di bawah tangan mulia sang “Ayah Seribu Anak Yatim” itu, Dayah Mahasiswa Ummul Ayman lll dan STIS (kini IAI) Ummul Ayman pun lahir. Keduanya tumbuh dan berkembang selaras dengan denyut nadi kehidupan masyarakat.

Syaikhuna Waled adalah sosok ulama karismatik Aceh yang multitalenta. Waled termasuk tokoh diplomat aktif dalam memberikan peran yang sangat krusial dan bersejarah saat gerakan referendum Aceh tahun 1999 demi menjaga perdamaian dan menyelamatkan nyawa rakyat Aceh saat itu.

Waled juga sosok yang memiliki visi kewirausahaan yang kuat, mengajarkan para santri agar bisa mandiri secara ekonomi melalui pengelolaan unit usaha yang ada di dayah. Ahli juga dalam ilmu agama, mampu mengintegrasikan pendidikan dayah salafiyah dengan pendidikan umum.

Syaikhuna Waled juga memiliki jiwa sosial yang tinggi dengan memberikan pendidikan gratis kepada ribuan anak yatim serta korban konflik dan tsunami. Selain itu, Waled adalah sosok yang sangat peduli pada dunia pendidikan. Hal ini tercermin dari lahirnya secara bersamaan Dayah Mahasiswa Ummul Ayman III dan STIS (kini IAI) Ummul Ayman pada tahun 2015.

Menuju dua tahun perjalanan, sebelum memasuki tahun 2017, tepatnya pada waktu subuh hari Rabu, 7 Desember 2016, Kabupaten Pidie Jaya diguncang gempa bumi. Gempa berkekuatan 6,5 Magnitudo itu ikit menimbulkan dampak di tanah Lampoh Raya. Di tengah cobaan yang melanda saat itu, Syaikhuna Waled tetap teguh dan responsif memberi solusi. Waled tidak pernah menyerah dan selalu bergerak cepat dalam mengupayakan jalan keluar yang terbaik.

Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun terus berjalan, Syaikhuna Waled terus melangkah maju. Rambut yang memutih dan gurat wajah yang menua tidak sedikit pun menyurutkan langkahnya untuk hadir saban hari di Lampoh Raya.

Beliau aktif menarbiyah, menuntun sanubari, dan memoles potensi guru, santri, dan struktural akademika. Semua itu adalah kebiasaan yang menjadi rutinitasnya di antara kesibukannya yang begitu padat sebagai seorang alim ulama dan tokoh nasional yang memiliki jejaring kontribusi berskala internasional.

Delapan tahun kemudian, Pidie Jaya kembali dirundung duka, tepatnya pada 25-27 November 2025. Akibat deforestasi yang masif bersamaan curah hujan yang tinggi membuat Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Meureudu zona tengah dan hilir, mengalami dampak yang sangat luar biasa. Dalam tempo 48 jam, gelombang air, ribuan keping kayu, dan jutaan kubik lumpur membuat kegiatan masyarakat lumpuh total saat itu.

Listrik mati, kebutuhan dasar krisis, puluhan sarana dan prasarana lembaga rusak/hancur dan terendam. Jembatan penghubung pun terputus. Bak kota mati yang menyebabkan ratusan santri, guru dan ribuan masyarakat sekitar Lampoh Raya dihadapkan pada realitas kehancuran fisik dan trauma mendalam.

Hantaman banjir kala itu bukanlah sekadar genangan air semata, melainkan sebuah ujian psikologis yang begitu meremukkan dada. Ketika gulungan air bercampur lumpur pekat berwana cokelat menerobos masuk ke dalam kamar-kamar, rumah dewan guru, dan ruang belajar santri, yang tersisa adalah rasa panik di tengah kegelapan malam yang pekat.

Ribuan buku, kitab, sarana, dan prasarana yang dibangun bertahun-tahun, seketika rusak dan tenggelam di bawah jutaan kubik kayu sisa penggundulan hutan. Di saat suasana yang sangat mencekam itu, Syaikhuna Waled hadir membawa seruan ketabahan, ikhlas, dan tawakal, serta segera bangkit secara bersama-sama.

Siang berganti malam, hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan, proses pemulihan pun berjalan perlahan. Setelah badai mulai berlalu dan selang beberapa bulan, keajaiban dari buah kesabaran itu pun berganti menjadi air mata haru dan syukur. Surat Keputusan Menteri Agama mendarat mulus di tangan para pejuang pendidikan Pidie Jaya melalui Dr H Faisal Ali Hasyim MSi. Dia dalah salah satu putra terbaik asli Pidie yang kini menjabat Staf Ahli Menteri Agama Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Dengan terbitnya SK tersebut, status Sekolah Tinggi Ilmu Syariah pun resmi beralih menjadi Institut Agama Islam (IAI) Ummul Ayman Pidie Jaya. Inilah satu-satunya kampus yang berbentuk institut dan berlokasi di Negeri Japakeh, julukan Kabupaten Pidie Jaya. Bukan sebuah kebetulan dan juga bukan sekadar perubahan nama, tetapi ini adalah monumen kemenangan atas kesabaran masyarakat Pidie Jaya menghadapi bencana.

IAI Ummul Ayman Pidie Jaya kini berdiri tegak di antara limpahan lumpur dan puing-puing sisa bencana. Perubahan ini tidak akan tercapai tanpa pengaruh kuat doa-doa dan usaha Syaikhuna Waled, sinergi seluruh civitas akademika, dedikasi lintas alumni, serta dukungan masyarakat.

Lahirnya IAI Ummul Ayman “Kampus Moderat dan Beradab”, menyuarakan sebuah misi strategis yang jauh lebih besar bagi peta geopolitik pendidikan di Negeri Japakeh.

Sebagai sebuah kampus tingkat institut, perguruan tinggi keagamaan Islam swasta ini menjadi oase di tengah tingginya angka putus kuliah akibat keterbatasan ekonomi masyarakat pascapandemi dan banjir hidrometeorologi.

Eksistensi institusi ini memangkas jalur birokrasi jarak dan biaya. Anak-anak muda dari Meurah Dua hingga Bandar Dua dan Meureudu hingga Bandar Baru kini tidak lagi harus menempuh mobilitas geografis yang jauh untuk menggapai gelar sarjana yang bernilai tinggi.

Lebih dari sekadar pusat kajian yang teoretis, IAI Ummul Ayman memiliki tanggung jawab sangat besar untuk mencetak agen perubahan transformatif-sarjana yang tidak hanya bisa membaca kitab turast, tetapi juga cakap dalam merespons anomali ekonomi rumah tangga, psikologi domestik, pendidikan, ekonomi syariah, sosial kemasyarakatan hingga kepemimpinan wilayah.

Sebagai investasi peradaban di Negeri Japakeh, sarjana besutan IAI Ummul Ayman diproyeksikan akan mengambil peran penting pada pos-pos strategis di pemerintahan daerah, lintas sektor, dan lembaga pendidikan formal nonformal Aceh, serta menjadi motor penggerak infrastruktur daerah yang berakar pada nilai-nilai kearifan lokal dan moderat.

Dari lumpur yang menimbun prasarana, kini tumbuh “peradaban emas” yang siap menyinari Nusantara. Dialah IAI Ummul Ayman, Kampus Moderat dan Beradab. Semoga! (afdhalpagar@gmail.com)

*Dewan Guru Dayah Mahasiswa Ummul Ayman III dan Kabag Keuangan IAI Ummul Ayman Pidie Jaya, melaporkan dari Pidie Jaya