![]()
Oleh: Dr. Deni Mulyadi, S.HI., M.A*)
TIDAK terasa perhelatan Piala Dunia 2026 telah sampai pada puncaknya, yakni partai final yang akan mempertemukan Spanyol melawan Argentina. Final ini seolah bukan lagi sekadar pertandingan sepak bola biasa. Piala Dunia kali ini membuktikan satu hal yang selama ini sering diabaikan. Sepak bola sejatinya hanyalah permainan sebelas lawan sebelas.
Namun, kini ia menjelma menjadi panggung ekonomi-politik global, tempat identitas nasional, kepentingan negara, media, hingga isu-isu kemanusiaan saling bertabrakan. Setiap gol yang tercipta, setiap selebrasi yang diluapkan para pemain, bahkan setiap bendera yang berkibar di tribun, tidak lagi dipandang semata sebagai bagian dari olahraga, melainkan sebagai simbol yang sarat dengan makna politik.
Salah satunya terlihat jelas dalam pertandingan antara Argentina melawan Mesir pada 7 Juli lalu. Seusai kemenangan Argentina, sebuah video memperlihatkan suporter Argentina dengan bangga mengibarkan bendera Israel di tribun, tepat di area tempat pelatih Mesir berada.
Video tersebut dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial dan memicu pro serta kontra di kalangan pendukung kedua negara. Bagi sebagian orang, hal itu dianggap sebagai sesuatu yang wajar, bahkan dipandang sebagai bentuk ekspresi politik individu.
Namun, bagi masyarakat Islam khususnya, serta negara-negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, aksi tersebut dipersepsikan sebagai provokasi yang melampaui batas sportivitas. Terlebih sebelumnya pelatih Mesir, Hossam Hassan, pernah menunjukkan solidaritas terhadap rakyat Palestina.
Di sinilah sepak bola seakan berhenti menjadi hiburan. Ia berubah menjadi ruang pertarungan simbol, identitas, dan keberpihakan terhadap isu genosida. Bagi masyarakat Indonesia, persoalan yang melibatkan Israel dan Palestina bukan sekadar berita luar negeri. Indonesia telah lama menempatkan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina sebagai bagian dari sikap politik luar negerinya.
Amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menjadi landasan moral bahwa bangsa Indonesia menolak segala bentuk penjajahan. Nilai tersebut telah membentuk sikap moral bangsa sejak lama.
Ketika simbol-simbol dukungan terhadap Israel yang berkaitan dengan konflik Palestina-Israel muncul di arena olahraga, respons emosional masyarakat bukanlah sesuatu yang mengherankan. Respons itu muncul secara alami dari hati nurani. Yang terasa sesak bukan hanya dada para pencinta sepak bola, melainkan juga nurani kemanusiaan. Mungkin sebagian orang mengatakan bahwa politik tidak seharusnya dicampurkan dengan olahraga. Kalimat itu memang terdengar indah, tetapi sayangnya tidak selalu sejalan dengan realitas.
Sejarah justru menunjukkan kenyataan yang berbeda. Olahraga hampir tidak pernah benar-benar steril dari kepentingan politik. Olimpiade, misalnya, pernah menjadi panggung aksi boikot dan saling boikot, sekaligus arena pembuktian superioritas ideologi di antara negara-negara yang sedang bersitegang. Lantas, ketika Palestina menjadi isu yang dipersoalkan, mengapa sebagian orang tiba-tiba meminta agar olahraga dipisahkan dari politik?
Pertanyaan ini layak direnungkan secara mendalam. Karena itulah, Piala Dunia hari ini bukan lagi sekadar kompetisi olahraga. Ia telah menjelma menjadi industri kapitalisme global bernilai miliaran bahkan triliunan rupiah. Hak siar televisi, kontrak sponsor, industri pariwisata, platform digital, hingga kepentingan geopolitik bertemu dalam satu panggung yang disaksikan miliaran manusia di berbagai belahan dunia.
Berbicara tentang Argentina, sebagian pengamat menghubungkan meningkatnya kedekatan Presiden Javier Milei dengan Israel, yang kemudian diperkuat oleh dukungan terbuka sejumlah suporter Argentina terhadap Israel di tribun stadion. Memang, tindakan individu suporter tidak dapat digeneralisasi sebagai representasi seluruh rakyat Argentina ataupun sebagai kebijakan resmi negara. Namun, di era media sosial, batas antara simbol suporter, identitas nasional, dan citra politik negara menjadi semakin tipis. Apa yang terjadi di tribun stadion dapat dengan cepat diterjemahkan sebagai pesan politik oleh publik internasional yang menyaksikannya.
Kini situasi menjadi semakin menarik menjelang partai final yang mempertemukan Argentina dengan Spanyol. Bukan semata karena kualitas sepak bolanya, melainkan karena konteks politik yang dinilai bertolak belakang antara kedua negara tersebut. Sebagaimana diketahui, pemerintah Spanyol merupakan salah satu negara di Eropa yang paling vokal mengkritik krisis kemanusiaan di Palestina.
Narasi tersebut semakin menguat ketika sejumlah figur sepak bola Spanyol menunjukkan solidaritas terhadap Palestina. Salah satu momen yang paling banyak diperbincangkan publik adalah ketika Lamine Yamal, salah satu pemain Spanyol, mengibarkan bendera Palestina dalam perayaan kemenangan di hadapan ribuan pendukungnya. Tindakan itu dipandang sebagai bentuk dukungan terhadap Palestina yang hingga kini masih menjadi sasaran serangan Israel.
Terlepas dari beragam interpretasi atas tindakan tersebut, satu fakta menjadi semakin jelas, yakni bahwa atlet modern tidak lagi dinilai hanya dari performanya di lapangan, tetapi juga dari posisi moral yang mereka ambil terhadap berbagai isu kemanusiaan. Dalam konteks ini, kemenangan olahraga dapat menghasilkan keuntungan simbolik yang pada akhirnya memperkuat posisi politik suatu negara di mata dunia.
Dari perspektif inilah muncul pandangan bahwa memberikan dukungan kepada tim nasional tertentu bukan semata persoalan selera olahraga. Dukungan itu juga dapat dipahami sebagai ekspresi terhadap isu kemanusiaan yang lebih luas. Pandangan ini tentu terbuka untuk diperdebatkan. Namun, ia tidak dapat begitu saja dianggap sebagai sikap yang irasional, sebab berangkat dari keyakinan moral bahwa penderitaan manusia tidak boleh dipisahkan dari ruang publik mana pun, termasuk dunia olahraga.
Analogi sederhananya demikian. Kita boleh bertepuk tangan menyaksikan sebuah pertunjukan yang memukau, tetapi kita tidak boleh menutup mata terhadap apa yang terjadi di balik panggung. Sebab, tidak semua gemerlap lampu mampu menutupi kenyataan yang sesungguhnya.
Demikian pula dengan sepak bola. Kita boleh menikmati pertandingan, mengagumi teknik para pemain, serta merayakan keindahan gol-gol yang tercipta. Akan tetapi, kita juga tidak boleh menutup mata terhadap realitas sosial, ekonomi, dan politik yang mengelilinginya. Menjadi suporter adalah sebuah pilihan, tetapi menjaga empati adalah kewajiban, terlebih bagi kita yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan ajaran agama.
Pada akhirnya, Piala Dunia 2026 kembali mengingatkan kita bahwa olahraga, seni, hukum, dan politik tidak pernah berdiri sendiri. Semuanya tumbuh di atas fondasi ekonomi, relasi, dan kekuasaan. Hal ini menegaskan bahwa melihat sepak bola hari ini tidak cukup hanya melalui papan skor, statistik penguasaan bola, atau jumlah gol yang tercipta.
Kita juga harus jeli membaca simbol-simbol yang berkibar di tribun, kepentingan yang bergerak di balik layar, serta suara-suara kemanusiaan yang kerap tenggelam oleh gegap gempita stadion. Yang paling menyayat adalah ketika sorak kemenangan terdengar lebih nyaring daripada jeritan para korban perang. Sesungguhnya, yang sedang kalah bukan hanya sebuah tim di lapangan, melainkan juga nurani kemanusiaan kita.(*) Wallāhu a’lam bi al-shawāb.
*Alumnus Doktoral Fiqh Modern UIN Ar-Raniry, Dosen serta Ketua UP2M di Institut Agama Islam (IAI) Ummul Ayman Pidie Jaya